Ponpes MFM Dikaitkan Dengan Doktrin Kiamat, Begini Pendapat Warga.

Spanduk di jalan menuju pesantren MFM di Kasembon Malang

KOTA BATU – Viralnya kabar puluhan warga Ponorogo yang berbondong – bondong datang ke Pondok Pesantren Miftahul Falahi Mubtadin’ (MFM) di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang karena isu doktrin kiamat turut ditanggapi oleh warga sekitar.

Warga Kasembon memberikan pendapatnya soal pondok yang ajarkan doktrin kiamat sudah dekat

Ketua Forum Komunikasi Pemuda Islam, Handoko mengatakan fatwa yang beredar dan sedang viral itu memang sesuai dengan keadaan di lapangan. Sejak tiga tahun terakhir banyak orang asing yang masuk ke wilayahnya dengan membawa aset – aset berharga.

“Kegiatan seperti itu sudah lama, banyak kok orang asing dari luar kota yang masuk ke sini. Datang berbondong – bondong membawa yang disebut perbekalan itu. Bahkan mereka setiap masuk itu harus menyetorkan uang senilai Rp 3 juta – Rp 5 juta,” ujarnya, Kamis (14/3).


Warga yang tinggal di Dusun Pulosari itu mengaku pengajaran mengenai kiamat sudah sering dilakukan selama dua tahun terakhir ini. Meski tidak terganggu, ia mengharapkan ada tindak lanjut dari kepolisian untuk mengusut ajaran yang disampaikan oleh Gus Romli itu.

“Saya nggak ada urusan sama mereka, selama nggak ganggu keluarga saya ya No Problem. Tapi banyak hal yang harusnya pihak kepolisian bisa menggali lebih dalam. Bicara meteor jatuh di hari kiamat kan sudah ada sejak zaman Rosululloh. Tapi itu kita lihat masyarakat yang datang ke sini menyerahkan aset, tapi pemilil pondok kok malah beli aset baru itu kan gimana ya,” imbuhnya.

Warga lainnya, Subandi mengatakan jika isu kiamat yang menyangkutkan Ponpes MFM itu tidak begitu mengetahui banyak terkait adanya tausiyah kiamat yang viral itu. Pasalnya ia tidak mau ikut campur dengan segala kegiatan yang dilakukan oleh ponpes tersebut.

“Ya yang namanya kiamat itu kan hanya Tuhan yang tahu. Bahkan seandainya ada meteor jatuh itu ya entah di sini atau di Amerika kita tidak akan tahu. Kegiatan di sana ya biarin sajalah saya nggak mau ikut campur, terkait tausiyah saya nggak tahu tapi sekarang kan zaman sudah canggih ya bisa dengan cara apa saja,” tutup kakek yang berusia 79 tahun itu.

Pewarta: Arifina
Penyunting : Kholid Amrullah