Polling, Balot dan Pilkada

”Mengapa Radar Malang bikin polling pilkada untuk Kabupaten Malang? Apa nggak ada cara lain yang lebih kekinian?” ini pertanyaan salah seorang tokoh masyarakat, sebut saja namanya Sueb, kepada saya.

”Karena event pilkada adalah momentum. Dan ini hanya soal bagaimana kita memanfaatkan momentum. Bahwa cara polling ini dianggap tidak kekinian, ya karena memang cara polling-nya masih menggunakan koran,” jawab saya kepada Sueb.

Sueb:  ”Mengapa tidak menggunakan online atau medsos (media sosial)?”

Saya: ”Sebagai media massa, Radar Malang punya tiga platform. Platform yang sampai saat ini masih menjadi backbone adalah koran (cetak). Platform berikutnya adalah online dan medsos. Kami juga bikin polling yang sama di dua platform itu: online dan medsos.”

Sueb: ”Untuk polling di koran, apa ada cara lain selain membeli koran agar persentase calon bisa terkerek naik? Karena kalau harus membeli koran jika ingin memberi dukungan, lalu harus menggunting balot, lalu harus mengisi balot siapa calon yang didukung, lalu harus mengirim balot ke kantor, ini ribet banget.”

Saya: ”Untuk polling Pilkada Kabupaten Malang  di koran, tidak ada cara lain, selain harus memberikan dukungan lewat balot di koran. Jadi, jika ingin mendukung salah satu calon, harus melalui balot yang ada di koran.”

Sueb: ”Ini sangat merepotkan. Tidak praktis.”

Saya: ”Pilkada kan memang merepotkan… Jadi, kalau ingin mendapat dukungan, iya memang harus mau repot. Bukti dukungan dari pembaca terhadap para calon, harus ada bukti fisiknya berupa balot. Ini yang akan kami pertanggungjawabkan.”

Sueb: ”Berarti kalau ada calon yang ingin mendapat dukungan sebanyak-banyaknya, harus membeli koran sebanyak-banyaknya ya?”

Saya: ”Itu salah satu caranya… Anggap saja itu bagian dari cost politiknya dia. Bukankah dalam sebuah kontestasi politik itu butuh cost?

Sueb: ”Apakah efektif? Untuk apa beli koran banyak-banyak, pada akhirnya yang dipakai dari koran itu hanya balotnya saja?”

Saya: ”Soal efektif-tidaknya itu relatif. Yang jelas, dari pengalaman kami sebelumnya mengadakan polling pilkada dengan balot koran (Pilkada Kota Malang 2013), nama-nama yang akhirnya diresmikan KPU, hampir sebagian besar adalah nama-nama yang sebelumnya di-polling-kan lewat balon koran.

Kalau ada calon yang memborong atau membeli koran, koran itu bisa dimanfaatkan untuk disebar dan dibagikan kepada masyarakat. Ini bisa menguntungkan dia. Sebab, di koran itu ada foto dia. Dan orang akan mengenal atau semakin mengenal namanya, karena dimuat setiap hari di koran.

Selain itu, isi koran berisi ilmu pengetahuan. Jadi, kalau membeli koran, lalu dibagi-bagikan kepada masyarakat, itu sama halnya dengan membagi-bagikan ilmu pengetahuan. Jadi, di mana ruginya membeli koran?”

Sueb: (sempat terdiam)… ”Ini seperti permainan…”

Saya: ”Iya silakan kalau Sampean menganggapnya sebagai permainan… Bukankah hidup di dunia ini pada hakikatnya adalah arena permainan? Dan pilkada itu bagian dari permainan?… Salah satu ciri dari permainan adalah: ada aturan main, serta ada pihak yang menang dan pihak yang kalah.”

*********

Pembaca, ada beberapa teori tentang media massa.  Ada teori agenda setting. Teori ini diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972). Asumsi dari teori ini adalah: Jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan memengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi, apa yang dianggap penting oleh media, maka penting juga bagi masyarakat.

Merujuk pada teori ini, kami menganggap bahwa pilkada adalah sebuah perhelatan penting dalam sebuah negara demokrasi. Dan salah satu kunci sukses sebuah pilkada, adalah bisa diukur dari seberapa besar tingkat partisipasi yang dipilih (tampilnya para kandidat) dan seberapa besar jumlah orang yang memilih. Adanya polling di koran, salah satu tujuannya adalah menyosialisasikan event pilkada.

Agar semakin banyak yang tahu bahwa akan ada pilkada. Memperkenalkan para kandidat yang ingin maju pilkada, juga memperkenalkan kandidat yang punya potensi untuk menjadi pemimpin di daerah.  Maka, polling pilkada, bisa juga dianggap sebagai bagian dari agenda setting. Koran ini ingin memberi tekanan, bahwa pilkada itu penting.

Ada juga teori uses and gratifications (kegunaan dan kepuasan). Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut.

Dengan kata lain, pengguna media massa adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenuhi keinginan dan kebutuhannya.

Merujuk pada teori ini, para kandidat yang akan maju dalam pilkada, sesungguhnya adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Maka, mereka butuh media (yang paling baik) untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Di sinilah, relevansi dari polling balot di koran ini.

Satu sisi, media ingin memanfaatkan momentum pada event pilkada, pada sisi lain, para kandidat bisa memanfaatkan polling balot pada koran ini, untuk berproses dalam komunikasi dengan masyarakat. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)