Polisi Warning Anton, Sutiaji, dan Nanda

Tiga Bacawali Mendaftar, Tiga Bacawali Disahkan

MALANG KOTA – Tidak ada pasangan calon wali kota-calon wakil wali kota yang datang terlambat. Tidak ada calon wali kota yang tanpa didampingi calon wakilnya. Itulah yang terjadi kemarin (12/2) ketika para pasangan calon (paslon) diundang KPU (Komisi Pemilihan Umum) Kota Malang dengan agenda penetapan.

Rapat pleno penetapan paslon yang digelar di Hotel Ijen Suites tersebut dimulai pukul 10.00. Namun, ketiga paslon bersama pendukungnya sudah tiba di lokasi sejak 15 menit sebelum kegiatan dimulai.

Pasangan Moch. Anton-Syamsul Mahmud (Asik) maupun Ya’qud Ananda Gudban-Ahmad Wanedi (Menawan) tampak kompak dengan sama-sama mengenakan seragam putih polos. Hanya pasangan Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko (Sae) yang datang dengan berpakaian batik dalam acara kemarin.

Pendukung pasangan Asik dan Menawan juga kompak, sebagaimana calon kepala daerah yang mereka dukung, berseragam putih polos. Untuk pendukung Menawan, disematkan sebuah tulisan Ayas Menawan di bagian lengan serta branding ”Mbak Nanda” dan ”Mas Wanedi” di bagian punggung. Pendukung Asik lain lagi.

Mereka berkostum putih dengan motif hitam di kedua lengannya. Sedangkan pendukung Sae berseragam partai masing-masing. Pendukung yang berasal dari Partai Demokrat mengenakan seragam Demokrat. Demikian juga yang berasal dari Partai Golkar, mereka berseragam Golkar.

Ketiga paslon duduk berjejer di deretan paling depan. Di belakang mereka terdapat pendukung masing-masing yang berjumlah sekitar 10 orang. Selama proses penetapan berlangsung, pendukung Sae dan Menawan yang paling heboh. Saat ketiga paslon maju ke depan untuk foto bersama, pendukung Sae dan Menawan saling bersahutan, meneriakkan slogan masing-masing.

”Menawan!”, ”Sae!”, ”Menawan!”, ”Sae!”. Begitulah teriakan masing-masing pendukung yang terdengar menggema di hall Hotel Ijen Suites.

Pada kesempatan itu, Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri me-warning tiga calon wali kota, yakni Moch. Anton, Sutiaji, dan Nanda –panggilan Ya’qud Ananda Gudban– agar kampanyenya tidak memecah belah warga Kota Malang.

”Mari kita lakukan tahapan pilwali ini dengan baik. Kita (paslon, Red) harus memberi contoh yang baik kepada masyarakat,” ujar Asfuri dalam sambutannya di depan ketiga paslon.

Selain ketiga paslon, tampak juga jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Di antaranya, Kepala BNN (Badan Narkotika Nasional) Kota Malang AKBP Bambang Sugiharto, Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel (Inf) Bangun Nawoko, Dandim 0833/Kota Malang Letkol (Inf) Nurul Yakin, Kajari Kota Malang Purwanto Joko Irianto, dan Ketua DPRD Kota Malang Abdul Hakim.

Asfuri melanjutkan, contoh baik yang dimaksud adalah ketiga paslon tidak melakukan tiga hal dalam kampanyenya. Yakni black campaign (kampanye hitam), kampanye negatif, dan money politic. Bahkan, perwira dengan pangkat dua melati di pundaknya itu menyarankan agar pendukung setiap paslon turut mewaspadai ketiga hal tersebut.

”Para pendukung calon bisa saling mengawasi agar lawannya tidak melakukan money politic ini,” tegasnya.

Dia berjanji akan mengakomodasi kebutuhan paslon untuk kampanye, sepanjang tidak melanggar ketentuan. ”Kami akan menyediakan patwal (patroli dan pengawalan) untuk masing-masing paslon,” tuturnya.

Menanggapi imbauan Asfuri, masing-masing paslon siap melaksanakannya. Calon wakil wali kota (cawawali) Sofyan Edi Jarwoko misalnya, mendukung penuh apa yang disampaikan Asfuri.

”Ada yang menarik dari sambutan Bapak Kapolres (Malang Kota AKBP Asfuri). Jangan sampai ada black campaign dan isu SARA (suku, agama, ras dan antar golongan),” kata dia.

Politikus Partai Golkar itu berkomitmen tidak akan melakukan kampanye hitam maupun memakai isu-isu SARA saat berkampanye. Menurutnya, pemakaian isu SARA saat kampanye justru akan memecah belah masyarakat.

Hal senada disampaikan ketua timses (tim sukses) pasangan Moch. Anton-Syamsul Mahmud (Sae), Arief Wahyudi. Arief menegaskan, pihaknya mendukung penuh imbauan Asfuri dan siap melaksanakannya.

”Kami siap untuk tidak melakukan gaya kampanye dengan menjelekkan atau mencari kelemahan pihak lain,” kata Arief.

Bahkan, Arief menyatakan, pihaknya tidak akan menyinggung paslon lain atau partai lain yang jadi lawannya. ”Kami hanya menyampaikan visi-misi Anton-Syamsul selama lima tahun ke depan,” kata mantan wakil ketua DPRD Kota Malang itu.

Cawali Moch. Anton juga berkomitmen mewujudkan pilwali damai. ”Saya ingin Kota Malang situasinya tetap kondusif, damai. Masyarakatnya juga senang dan nyaman,” beber Anton yang kini menjabat Wali Kota Malang itu.

Dia berharap bahwa proses demokrasi ini berjalan dengan baik. Setelah ditetapkan sebagai paslon, dia sudah menyiapkan strategi kampanye. ”Proses persiapan kami sudah lama. Kami akan melakukan bagaimana cara menyapa masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Cawali Ya’qud Ananda Gudban menegaskan, pihaknya akan berkampanye dengan cara-cara menawan. ”Kami setuju dan mendukung (imbauan Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri),” kata mantan anggota DPRD Kota Malang itu.

Nanda –sapaan akrab Ya’qud Ananda Gudban– memaknai pilwali sebagai pesta. Untuk itu, pelaksanaannya harus membahagiakan masyarakat. ”Yang namanya pesta ya harus membahagiakan. Mari kita sambut dengan cara-cara yang bahagia,” kata ketua DPC Partai Hanura Kota Malang itu.

Nanda berkomitmen mewujudkan pilwali damai. Dia tidak ingin masyarakat gaduh dengan gelaran pilwal ini. ”Sebagai ketua partai, saya ingin membuat masyarakat nyaman dengan pilwali, sehingga peduli dengan politik,” kata Nanda.

Terpisah, Ketua KPU Kota Malang Zaenudin menyatakan, ketiga paslon tersebut dinyatakan lolos berdasarkan Surat Keputusan (SK) KPU Nomor 4/HK.03.1-KPT/3537/KPT/KOP/II 2018 tentang Penetapan Pasangan Calon. Usai penetapan, tahapan berikutnya adalah pengundian nomor urut yang langsung diumumkan.

”Jadi, besok (hari ini, Red) akan ada pengundian di Hotel Harris Malang,” kata Zaenudin.

Dia menuturkan, pengundian nomor bakal dilakukan sekitar pukul 18.00. Masing-masing paslon diperbolehkan membawa maksimal 75 pendukung. Selain itu, Zaenudin juga mengimbau agar pendukung paslon tidak membawa atribut seperti bendera.

”Jangan bawa bendera atau baliho besar,” kata dia. Usai pengundian nomor urut, tahapan dilanjutkan dengan masa kampanye, masa tenang, dan pemungutan suara.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Rubianto