Polisi Telusuri Pelaku Lain?

MALANG KOTA – Meski Sugeng Santoso, 49, warga Jodipan, Kota Malang, ini mengaku sebagai pelaku mutilasi jasad perempuan di lantai II Pasar Besar Malang (PBM), tapi polisi tetap mendalami penyelidikannya. Kemarin (17/5) penyidik Polres Malang Kota (Makota) memeriksa Suyitno, sosok yang namanya tertulis di kertas di lokasi penemuan potongan jasad mutilasi. Apakah aparat kepolisian mencurigai adanya pelaku lain?

Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri menyatakan, pihaknya masih menunggu serangkaian pemeriksaan dan uji lab bercak darah di celana dan baju Sugeng. Bisa jadi hasil penyelidikannya mengarah ke pelaku lain. Tapi, dia enggan berspekulasi.

”Semua bisa terjadi dan mungkin (adanya pelaku lain selain Sugeng). Kami masih mencari dulu adanya kemungkinan lain itu,” ujar Asfuri kemarin.

Sehari setelah ditemukannya potongan jasad perempuan di lantai II area PBM, polisi lalu menangkap Sugeng Rabu lalu (15/5). Sugeng menjadi target aparat kepolisian karena namanya tertulis di telapak kaki kanan korban. Selain itu, di rumah Sugeng juga terdapat tulisan yang menyerupai tulisan di TKP.

Polisi Uji Konsistensi Keterangan Sugeng

Tapi, selain nama ”Sugeng”, polisi juga menemukan nama ”Suyitno” di TKP. Tapi, nama ”Suyitno” tidak tertulis sebagai tato di tubuh korban. Tapi, di kertas yang berserakan di sekitar eks gedung Matahari Department Store area PBM.

Selain memeriksa Suyitno, Asfuri juga menguji konsistensi keterangan Sugeng. Caranya dengan melibatkan psikiater. Berdasarkan hasil pemeriksaan psikiater, Sugeng melakukan mutilasi dalam keadaan waras alias sadar. ”Namun, psikiater menyebut pelaku ini mengalami gangguan perilaku,” tutur perwira dengan dua melati di pundaknya itu.

Dari laporan pemeriksaan psikiater, Asfuri menyebut, Sugeng memiliki kepribadian yang agresif, emosi tidak stabil, neuretik (gangguan saraf), perasaan terisolasi, implusif (bertindak tanpa berpikir), malu-malu, dan obsesif. Jadi, tim psikiater meminta kepolisian untuk merujuk Sugeng dilakukan pemeriksaan lanjutan di RSJ Lawang.

”Tim psikiater menyarankan kami membuat surat rujukan agar Sugeng dilakukan pemeriksaan lanjutan di RSJ,” paparnya.

Dia menyatakan, tim forensik juga memverifikasi pernyataan Sugeng soal mutilasi yang dilakukan setelah korban meninggal dunia. Jika benar mutilasi dilakukan setelah korban meninggal tiga hari, seharusnya tidak ada darah yang bercecer. Apalagi versi Sugeng, korban meninggal akibat penyakit. Bukan dibunuh.

Tapi, hasil olah TKP di lokasi, polisi menemukan bercak darah di tangga, celana dan baju milik Sugeng, serta jarum sol yang diduga digunakan menusuk telapak kaki korban. Dengan kata lain, ada ketidaksesuaian antara fakta di lokasi dengan keterangan Sugeng.

Oleh karena itu, polisi tidak mau gegabah. ”Ya memang Sugeng bilang korban tewas duluan, pengakuan dia (Sugeng) saja. Kalau tim forensik belum memastikan (hasil otopsi),” kata mantan Kabagops Polrestro Jakpus itu.

Sementara itu, hingga kini polisi juga belum mengetahui identitas korban. Bisa jadi hal itu makin menyulitkan aparat untuk mengungkap siapa pelaku yang sesungguhnya memutilasi korban? Termasuk apakah ada unsur pembunuhan atau tidak.

”Untuk identitas korban belum diketahui, masih terus kami cari,” kata mantan Wakapolres Jayawijaya itu.

Ditanya terkait alasan Sugeng membawa korban ke PBM sebelum meninggal, Asfuri menyatakan, Sugeng memang sering menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat tinggal. Itu sejak Matahari Department Store kebakaran dan lokasi tersebut tidak terpakai lagi. ”Karena memang lama dia pernah tinggal di Pasar Besar,” kata pria asal Kendal itu.

RSJ Mengaku Belum Menerima Sugeng

Lantas apakah alat bukti untuk menangkap Sugeng sudah kuat? Asfuri menyatakan, acuannya pada nama yang tertulis di telapan kaki kanan korban. Asfuri menjelaskan, darah yang ada di ujung jarum sol, di perban jari manis Sugeng, dan darah di celana hijau yang dikenakan Sugeng juga masih dalam pemeriksaan dan uji tim identifikasi dan labfor. ”Temuan darah yang ada pada Sugeng masih dalam pengujian,” kata polisi kelahiran 1977 itu.

Apalagi saat ditangkap, Sugeng mengakuinya telah memutilasi korban. Dia yakin bahwa Sugeng memang pelaku mutilasi. Oleh karena itu, pihaknya melakukan verifikasi dari semua tim penyelidik. Mulai Satreskrim Polres Malang Kota, Inafis, Labfor Polda Jatim, Labkes Polda Jatim, psikiater, dan dokter kejiwaan. ”Sugeng sedang diperiksa tim Labfor Polda Jatim. Serangkaian tes dan pemeriksaan masih berlangsung,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Instalasi Promosi Kesehatan  Rumah Sakit (PKRS) RSJ Radjiman Wediodiningrat Lawang Ayu Bulan Febry Kurnia Dewi SKM MM menyatakan, Sugeng belum masuk ke RSJ. ”Sore ini (kemarin) masih diperiksa Labkesfor Polda Jatim. Jadi, Senin pagi (20/5) baru dibawa ke RSJ,” kata dia.

Pewarta : Fajrus Shidiq
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan