Polisi Perlu Cari Pelaku Lain Selain Sugeng

KOTA MALANG – Ada temuan baru dari penyidik Polres Malang Kota yang menyelidiki kasus mayat mutilasi yang ditemukan di Pasar Besar Malang (PBM). Temuan kali ini lebih bisa memberatkan Sugeng, terduga tunggal kasus ini. Seperti sebelumnya diberitakan, Sugeng mengaku hanya memutilasi korban, tidak membunuh. Namun, temuan baru tersebut berkata lain.

“Penyebab kematian (Korban) adalah kehilangan banyak darah. Tapi, itu analisis sementara,” ujar salah satu sumber penyidik di Polres Malang Kota yang tidak mau disebutkan namanya. Hal ini memperkuat pengakuan Sugeng sebagai pembunuh dengan ditemukannya bekas semburan darah di baju korban. Menurutnya, jantung korban juga masih berdenyut sebelum atau sesaat pelaku membunuh korban.

Apalagi tim psikiater juga menyebut Sugeng melakukan mutilasi dalam keadaan waras atau sadar. Jika pengakuan Sugeng benar dan dia dalam keadaan sadar saat membunuh, maka dia bisa dijerat Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pembunuhan. Pasal 388 KUHP sendiri berbunyi Barang siapa dengan sengaja meghilangkan nyawa orang lain, karena bersalah telah melakukan “pembunuhan” dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun penjara.

Namun, asumsi ini diakui sumber yang bersangkutan masih akan ditindaklanjuti terlebih dahulu. Asumsi ini juga masih akan menguji konsistensi pengakuan Sugeng. Sebab, sebelumnya dia menyatakan hanya memutilasi korban. Itu pun setelah tiga hari meninggal sehingga dia dituduh tidak melakukan pembunuhan. Sebelumnya Polda Jatim juga menyatakan bahwa korban meninggal akibat penyakit paru-paru.

Sementara itu Pengamat Hukum sekaligus Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Tongat, SH., MHum menyebut para penegak hukum harus melakukan ijtihad untuk menemukan “apa hukumnya” atas kasus tersebut. Tentu, polisi tidak bekerja sendiri. Jika memang dibutuhkan, polisi dapat memanggil ahli terkait untuk membantu.



“Artinya, kalau ada orang lain yang melakukan pembunuhan itu. Ini berarti Sugeng hanya diduga memutilasi orang yang sudah tidak bernyawa (mayat). Namun jika ternyata Sugeng berbohong, ya bisa kena pasal 388 KUHP tersebut,” tandasnya.

Namun tetap, dalam perspektif hukum pidana, perbuatan memutilasi jasad mayat tidak bisa dikualifikasi dalam tindak pidana pembunuhan. Dalam hal ini, kembali lagi, Sugeng hanya didakwa 9 bulan penjara seperti sebelumnya.

Pria yang juga Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Pidana Perguruan Tinggi Muhammadiyah se Indonesia ini juga mengatakan polisi harus jeli tentang adanya juga kemungkinan adanya pelaku lain selain Sugeng.

“Termasuk kemungkinan Sugeng berbohong dari inkonsistensi pernyataan yang diungkapkannya,” sasarnya.

Pewarta: Elfran Vido, Fajrus Shiddiq
Foto: istimewa
Penyunting: Fia