Polisi Gadungan Tipu Teman Sendiri, Surat Tanah Korban jadi Incaran






JawaPos.com – Salah seorang warga Bontang yang mengaku sebagai polisi melakukan aksi penipuan dengan modus membantu korban. Kepada korban, tersangka berinisial DAM, 37, berniat membantu korban dengan mengganti nama kepemilikan surat tanah dari PPAT korban dengan nama istrinya sebagai jaminan meminjam uang.





Kapolres Bontang, AKBP Siswanto Mukti melalui Kasat Reskrim AKP Ferry Putra Samodra yang didampingi penyidik mengatakan kejadian penipuan tersebut terjadi sejak tahun 2014 lalu. Saat itu, korban atas nama Wisnu hendak meminjam uang ke bank dengan jaminan surat tanah dari PPAT.







Namun, karena namanya sudah digunakan saudaranya, maka dirinya belum bisa melakukan peminjaman. “Korban dan tersangka ini merupakan teman. Si korban ceritalah dengan tersangka terkait masalahnya. Dan si tersangka ini seperti mendapat kesempatan,” jelas Ferry di Polres Bontang, dikutip dari Bontang Post (Jawa Pos Group), Rabu (17/10).





Kata dia, tersangka menawarkan korban pinjaman dana dengan jaminan surat tanah dari PPAT milik korban. Tetapi syaratnya surat tanah itu diganti nama kepemilikan menjadi nama istri tersangka.





Karena korban sedang butuh uang, korban pun menyetujui. Sebab tersangka menjanjikan nama korban akan dikembalikan jika utangnya sudah lunas.





“Diberikanlah (surat tanah dari) PPAT milik korban kepada tersangka. Tak lama, uang pun cair senilai Rp 150 juta. Tetapi korban hanya diberi uang Rp 130 juta dan korban diminta mengangsurnya selama 28 bulan sebesar Rp 5,2 juta perbulannya,” beber dia.






Di tengah angsuran, korban sempat menunggak selama satu bulan. Kata Ferry, mereka sempat ribut, tetapi akhirnya bisa dilunasi.
Merasa angsurannya sudah dibayar korban secara keseluruhan, korban pun menanyakan surat tanah miliknya. Tetapi tersangka ini tidak mau memberikan.






Parahnya, tersangka malah meminta korban tetap membayar angsuran yang diturunkan Rp 3 juta per bulan selama 7 tahun. “Korban merasa bingung karena utangnya tak kunjung selesai. Setiap korban ingin melunasi pun, si tersangka selalu berkelit,” ujarnya.





DAM mengatakan, bahwa surat tanah itu ada di salah satu perusahaan leasing. Padahal, perusahaan leasing tidak memberikan pinjaman uang dengan jaminan surat tanah.





Sehingga barulah diketahui bahwa modus balik nama surat PPAT itu untuk memiliki tanah tersebut. Apalagi lanjut Ferry, nilai tanah sesuai PPAT tersebut mencapai Rp Rp 400-an juta dan sudah ada bangunannya.





“Awalnya kami sempat akan memediasi antara korban dan tersangka, namun tersangka tidak kooperatif. Sehingga tersangka kami amankan pada 2 Oktober lalu,” kata dia.





Diketahui, korban hingga saat ini telah membayar angsuran bulanan hingga mencapai Rp 170 juta. Tetapi tidak pernah melihat akad utang.





Saat ini, tersangka diamankan di Polsek Bontang Utara untuk dilakukan pengembangan. Karena dikhawatirkan ada korban lain selain Wisnu. Tersangka mengaku sebagai Polisi karena memang sempat bekerja di Polres Bontang sebagai pekerja harian lepas (PHL).





“Kami masih melakukan penyidikan dengan memeriksa saksi-saksi,” imbuhnya. Tersangka diduga melanggar Pasal 378 KUHP dengan ancaman di atas 5 tahun. (mga)





(jpg/est/JPC)