Polisi Beberkan Pemilik dan Isi Ambulan Gerindra yang Ditahan

JawaPos.com – Polisi melakukan pengamanan terhadap mobil ambulance berlogo partai Gerindra. Kendaraan jenis mini bus itu diamankan karena kedapatan membawa batu dan sejumlah uang. Benda-benda itu yang rencananya akan diberikan pada massa perusuh di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI di Jalan MH Thamrin Jakarta, Rabu (22/5).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, mobil ambulance tersebut tidak memiliki kualifikasi untuk memberikan pertolongan medis. Bahkan perlengkapan P3K maupun obat-obatan tidak ada.

“Jadi mobil itu tidak mempunyai kualifikasi sebagai unit medis. Itu yang Pertama. Kedua, di mobil tersebut tidak ada perlengkapan medis. Minimal kotak P3K itu tidak ada,” ujar Argo di Mapolda Metro Jaya Jakarta, Kamis (23/5).

Petugas lantas melakukan penyisiran dan ditemukanlah ambulance ini kemudian diamankan ke Polda Metro Jaya beserta lima orang di dalamnya.

Dalam dokumennya, mobil berplat nomor B 9686 PCF ini merupakan milik PT Arsari Pratama yang beralamat di kawasan Jakarta Pusat. Penyidik pun tidak menutup kemungkinan meminta keterangan sebagi saksi kepada pihak perusahaan.



Agenda pemeriksaan sendiri biasanya dalam tenggang waktu minimal tiga hari ke depan. Namun, bisa pula disesuaikan dengan kegiatan saksi.

Dari pemeriksaan sementara terhadap tiga penumpang ambulance ini yaknu Y sebagai supir, I adalah Sekretaris DPC Gerindra Tasikmalaya, dan O Wakil Sekretaris mereka mengaku tak ada batu di dalam mobil tersebut.

Ketiga orang itu, kata Argo, mengatakan bahwa kedatangannya ke Jakarta atas perintah dari Ketua DPC yang juga mendapat arahan dari pihak di Jakarta. Dalam perintahnya tidak lain untuk membantu bila ada korban dalam unjuk rasa 22 Mei. Mereka pun dibekali uang operasional Rp 1,2 juta.

“Sesuai keterangan tersangka, diperintahkan untuk berangkat ke Jakarta untuk bantu korban. Kalau ada korban di kegiatan 22 Mei. Ada perintah dari Ketua DPC,” lanjut Argo.

Tiga orang tersangka ini sendiri berangkat dari Tasikmalaya menuju Jakarta pada 21 Mei 2019 pukul 20.00 WIB. Kemudian mereka tiba di Jalan HOS Cokroaminoto Jakarta, dan melanjutkan perjalanan menuju Bawaslu.

Akan tetapi saat menuju Bawaslu dari Jalan HOS Cokroaminoto, ambulan ini membawa 2 orang lagi asal Riau berinisial HS dan SGC. “Setelah kita cek ternyata dia adalah simpatisan, bukan pengurus,” imbuh Argo.

Saat kerusuhan pecah di Bawaslu tepatnya pukul 04.00 WIB, ada saksi yang melihat massa mengambil batu dari mobil tersebut. Petugas lantas melakukan penyisiran dan ditemukanlah ambulance ini kemudian diamankan ke Polda Metro Jaya beserta lima orang di dalamnya.

“Saat ini untuk tersangka dikenakan pasal 55, 56, 170, 212 dan 214 (KUHP) dengan ancaman lima tahun ke atas,” sambung Argo.

Dihubungi terpisah, Wasekjen Partai Gerindra Andre Rosiade membantah bila DPP memerintahkan DPC Tasikmalaya untuk mengerahkan ambulance ke Jakarta. Begitu pula untuk pengerahan massa tidak pernah ada perintah demikian.

“Enggak ada DPP memerintahkan apapun untuk pengerahan massa atau ambulan,” ujar Andre.

Andre juga menjelaskan, saat ini tim advokasi dan hukum DPP Gerindra sedang melakukan pendalaman kasus atas diamankannya mobil tersebut. Setelah informasi terkumpul lengkap barulah akan dibuat pernyataan resmi publik.

Meski begitu, Gerindra tidak menutup kemungkinan meminta keterangan dari pihak DPC Tasikmalaya jika memang diperlukan. “Ya tunggu dulu kita kan akan lakukan semuanya termasuk mencari klarifikasi,” tambahnya.

Sementara itu, terkait ambulance itu diduga milik PT Arsari Pratama, perusahaan Hashim Djojohadikusumo, Andre belum mau menjawabnya. “Soal perusahaan akan saya jawab jam 11 (23.00 WIB, Red). Saya rapat dulu, nanti setelah rapat saya kabari,” pungkasnya.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Sabik Aji Taufan