Polinema Jadi Tuan Rumah Rapat Koordinasi Forum Direktur Politeknik Se-Indonesia (FDPNI)

KOTA BATU – Saat ini, sebagian masyarakat mungkin masih beranggapan bahwa politeknik adalah pilihan kedua setelah universitas. Stigma seperti itulah yang kini coba ”diperangi” oleh Forum Direktur Politeknik se-Indonesia (FDPNI) saat menggelar rapat koordinasi di Singhasari Resort Senin malam (12/3).

ADA yang istimewa pada penyelenggaraan rapat koordinasi FDPN I kali ini. Sebab, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Prof H Mohamad Nasir PhD Ak hadir dalam acara tersebut. Selain itu, ada pula Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignjo, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti, dan Staf Ahli Menristekdikti Bidang Infrastruktur Hari Purwanto. Tak ketinggalan, Ketua FDPNI Rahmat Imbang Tritjahjono hadir bersama 38 direktur politeknik se-Indonesia.

Ketika berbicara dalam forum, Nasir menyebut bahwa cara pandang masyarakat terhadap politeknik harus berubah. Selama ini, politeknik seolah merupakan perguruan tinggi kelas dua. Padahal, lulusan politeknik saat ini sangat kompeten dan dibutuhkan pasar kerja. Sementara, produk universitas biasanya jadi dosen.

”Saya ingin politeknik menjadi incaran mahasiswa, bukan lagi jadi pilihan kedua karena tidak diterima di universitas,” tegasnya.

Karena itulah dia punya rencana untuk menyamakan ujian masuk antara universitas dan politeknik. Tujuannya, agar politeknik mendapatkan resources sama dengan universitas.

Perubahan juga akan dilakukan pada sistem akreditasi yang selama ini dilakukan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Sebab, BAN PT selama ini menggunakan instrumen akademik. Padahal, di politeknik, persentase akademiknya hanya 30 persen, dan 70 persennya praktek.

”Harus ada instrumen khusus untuk politeknik, karena banyak banyak politeknik yang sebenarnya berkualitas namun belum mendapat akreditasi yang baik. Bulan ini akan kami koordinasikan dengan BAN PT terkait instrumen khusus ini,” ujar dia.

Lebih lanjut, Nasir mengatakan, untuk menunjang aktivitas mahasiswa politeknik, pihaknya merancang program Multi Entry Multi Outcome (MEMO). Lewat program ini, mahasiswa bisa tetap kuliah meski sedang menjalani masa kerja di industri.

Dengan MEMO, lulusan politeknik akan lebih siap terjun ke dunia kerja. ”Tahun pertama misalnya, (mahasiswa) dapat sertifikat KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) level 3, terus mau bekerja, bisa kembali lagi dia (ke kampus) itu bisa melanjutkan ke tahun kedua. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi DO (drop out). Istilahnya, zero DO,” jelas Nasir.

Sementara itu, Ketua FDPNI Rahmat Imbang menyebutkan kajian skema MEMO ini masih membutuhkan beberapa penyesuaian dan penyelerasan peraturan. Di antaranya penyesuaian kurikulum, instrumen penilaian BAN PT, pangkalan data pendidikan tinggi (untuk menjamin keabsahan ijazah), dan sebagainya.

Pewarta: Binti Nikmatur
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Humas Polinema