Polda Jatim Ringkus Mafia Aset?

MALANG KOTA – Belum tuntas kasus dugaan penjualan aset milik Pemerintah Kota (Pemkot) Malang yang membelit Maria Purbowati, 42, kini warga Kecamatan Klojen itu kembali tersandung masalah. Senin lalu (3/12) Mario diringkus Polda Jatim. Dia diduga telah menggelapkan aset milik Sutanty, 55, warga Lowokwaru.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, Maria ditangkap saat berada di Hotel Riche. ”Kami jemput untuk dilakukan pemeriksaan,” ujar Kasubdit III Jatanras Polda Jatim AKBP Leonard M. Sinambela.

Perwira dua melati itu menyatakan, sudah dua kali penyidik melayangkan surat panggilan. Namun, Maria selalu mangkir dan memberi pernyataan yang tidak patut. ”Tidak hadir dengan alasan yang tak patut,” sambungnya.

Diduga, Maria membuat keterangan palsu pada akta otentik aset milik Sutanty di Kota Malang. ”Saat ini statusnya sudah tersangka,” kata Leo–sapaan akrabnya.

Sementara itu, kuasa hukum Sutanty, Hery Basuki, menyatakan, kliennya melaporkan Maria atas penggelapan benda tidak bergerak, pemalsuan surat, dan menempatkan keterangan palsu dalam akta otentik. Yaitu, sebagaimana dijelaskan pada Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Jo 372 KUHP Jo 385 KUHP Jo 265 KUHP Jo 266 KUHP.

”Aset klien saya ini dijual ke orang yang dia kenal,” terangnya. Hery menjelaskan, aset kliennya berada di Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Wijaya Kusuma Atas. Namun, Maria diduga menjualnya ke Candra Heri Saputra dan Leonardo Wiebowo Soegio. Keduanya meminta dilakukan tukar guling dengan aset 129. Belakangan diketahui aset 129 ternyata milik Pemkot Malang. ”Karena Maria tahu itu aset milik Pemkot Malang, dia melaporkan perkara tersebut ke kejaksaan,” jelasnya.

Kasus ini kemudian mencuat ke publik. Wartawan koran ini sudah melakukan penelusuran. Diduga penggelapan aset itu melibatkan Sekretaris Kelurahan Oro-Oro Dowo Wiyono yang berujung gantung diri. Dari reportase wartawan koran ini, keluarga Wiyono mengakui bahwa ada pihak menekan seklur tersebut hingga nekat bunuh diri.

Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang pun sudah menetapkan sejumlah tersangka dalam kasus ini. Sementara kasus penjualan aset pemkot ini masih terus didalami. ”Klien saya memiliki belasan aset, beliau mengenal Maria. Maria ini yang menawarkan menguruskan tax amnesty,” ujar Hery.

Kliennya kemudian diminta menandatangani sejumlah surat kuasa untuk pengurusan tax amnesty asetnya. Hanya, pada Juli 2018, Sutanty baru menyadari aset miliknya dijual ke orang lain oleh Maria. Pada Oktober lalu, Sutanty melaporkan Maria ke Polda Jatim. ”Bu Sutanty baru tahu kalau asetnya di Jalan Soekarno-Hatta dijual oleh Maria,” sambungnya.

Dia mengklaim ada belasan aset kliennya yang dikuasai oleh Maria hingga kerugian mencapai sekitar Rp 30 miliar. Hery menyebut, pihaknya sudah melaporkan Maria untuk sejumlah perkara di Krimum dan Krimsus Polda Jatim.

Dia menduga, Maria tidak sendiri dalam kasus ini. Hery menyebut, Maria masuk dalam sindikat yang bekerja dengan sangat rapi. ”Polisi rencananya akan melakukan peninjauan aset milik klien. Besok (hari ini, Red) juga ada pemeriksaan (confidencial),” pungkasnya.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Mahmudan