Please… Jangan Hapus Jaringan 2G

Anda mungkin tak asing dengan deretan merek dan tipe handphone ini: Nokia 3310, Ericsson R250S Pro, atau Motorola StarTAC. Handhpone atau telepon seluler (ponsel) lawas itu ternyata masih memiliki penggemar dan pengguna setia di tengah gempuran smartphone berlayar sentuh.

Empat orang laki-laki, seluruhnya berumur di atas 30 tahun, terlihat asyik bercengkerama di Kedai Kopi Tjelaket pada Kamis siang (7/4). Mereka duduk mengelingi meja kafe yang berbentuk persegi panjang.

Di atas meja kafe itu tertata 16 unit ponsel jadul (jaman dulu). Sebagian besar merupakan keluaran tahun 1990-an. Sebut saja Ericsson GH 688 yang rilis pada tahun 1996, hingga Ericsson A1018s yang kali pertama dipasarkan pada 1999 silam.

Tapi, ada juga generasi ponsel yang lebih muda. Yakni, Nokia E90 Communicator dan Nokia N95. Kedua tipe ponsel itu sama-sama rilis pada tahun 2007.

Bagaimana kondisinya? Bila  melihat tampilan luarnya memang tidak ada yang mulus. Rata-rata sudah lecet dan teks pada tombol sudah memudar. Tapi, ponsel-ponsel jadul itu masih berfungsi dengan baik. Terutama untuk fungsi dasar ponsel, yakni menelepon dan mengirim pesan singkat.



Bagi Anda generasi yang hidup di era 90-an, ponsel-ponsel jadul itu ngangenin. Apalagi, ponsel-ponsel itu memiliki fisik (casing) yang lebih variatif ketimbang smartphone zaman sekarang.

Ponsel jadul itulah yang menjadi alasan sejumlah orang di Malang membentuk komunikas HJM (Handphone Jadul Malang). Komunitas ini terbentuk sejak 2005 silam, dan kini sudah memiliki 100 anggota. ”Awalnya hanya ngumpul-ngumpul, diskusi. Lama-lama kami bentuk komunitas,” ujar Purnomo, salah seorang anggota HJM.

Bagi para anggota, HJM menjadi semacam wadah untuk saling bertukar informasi. Tentu saja, informasi yang diharapkan berkaitan dengan ponsel jadul. Baik itu informasi jual beli maupun perawatan atau service.

Untuk mencari ponsel jadul, anggota HJM melakukannya dengan berbagai cara. ”Kadang ke pasar loak. Sementara untuk handphone jadul dari luar negeri, biasanya kami cari di e-Bay (situs jual beli),” ujar dia.

Namun, adakalanya jual beli itu terjadi antarsesama anggota HJM. Bahkan, komunitas ini juga membuat sistem rekening bersama untuk meminimalisir penipuan. ”Adanya rekber (rekening bersama) ini diharapkan meminimalisir kejadian seperti itu. Tapi kalau sudah saling percaya, ya pakai rekening masing-masing tidak apa-apa.” tutur Purnomo.

Sementara itu, anggota HJM lainnya, Adhika Setya Brata, menyatakan, komunitasnya tidak harus spesifik pada merek atau tahun keluaran tertentu. ”Merek itu tergantung selera. Untuk tahun keluaran, bebas. Asal di bawah (tahun) 2010,” ujar Adhika.

Lebih lanjut, Adhika menerangkan, para anggota HJM biasanya berkumpul setiap sebulan sekali. Kadangkala, mereka juga menggelar acara hunting ponsel jadul ke pasar-pasar loak. Misalnya, ke Rombeng Malam (Roma).

Dengan adanya komunitas ini, Adhika berharap ponsel-ponsel jadul tetap bertahan di tengah kemajuan zaman. Mereka juga berharap, keberadaan komunitas ini mendapatkan perhatian dari provider seluler. ”Kami berharap agar provider di Indonesia tidak menghapus jaringan 2G. Apabila terjadi, maka semua handphone ini tidak akan bisa digunakan,” ujar dia.

Pewarta: Desak Putu
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Arief Rohman