Pintu Terbuka untuk Giat Seni dan Budaya

MALANG KOTA – Pemkot melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang mulai menunjukkan perhatian serius terhadap pelestarian seni dan budaya. Kemarin (20/1) secara khusus Kepala Disdik Dra Zubaidah MM melakukan silaturahmi bersama seniman dan budayawan se-Kota Malang. Acara tersebut dilaksanakan di Museum Mpu Purwa. Kepada koran ini, Zubaidah mengatakan bahwa silaturahmi itu merupakan awalan dari program-program yang akan mereka jalankan ke depannya.

Ada 19 komunitas budaya yang dihadirkan dalam acara tersebut. ”Kami baru saja  kenalan. Kalau kerja gak kenal dan dekat kan bisa jadi hambatan,” terang dia. Soal hasil dari pertemuan itu, ada beberapa poin yang dijabarkan Ida, sapaan karibnya. Tiap komunitas menurut dia telah diminta untuk membuat rancangan program yang berhubungan dengan dinas pendidikan. ”Program bisa apa saja, asal sejalan dengan disdik. Misalnya saja nih ya, pelatihan dan lomba dalang kecil,” contoh dia.

Setelah menyusun program, berikutnya bakal ada rapat koordinasi yang akan dilakukan. Dalam rapat itu, akan diinventarisasi apa saja program yang sejalan dengan dinas. Semua program yang dipilih, menurutnya dapat direalisasikan. ”Karena kita juga harus memilih. Kan tidak mungkin mereka ajukan 10, dan kami terima semua dalam waktu dekat,” terangnya.

Dia pun menjanjikan bila program yang terpilih namun tidak terealisasi, bisa di-”tendon” untuk tahun berikutnya. ”Kami juga tengah menginventarisasi program 2021,” imbuhnya. Berikutnya, Kabid Kebudayaan Disdik Kota Malan, Andayun Sri A menyebut 4 indikator kegiatan yang berpotensi mendapat kucuran anggaran. Di antaranya yakni festival seni dan budaya, pelestarian situs cagar budaya, jumlah karya budaya yang direvitalisasi dan diinventarisasi, serta cagar budaya yang dikelola secara terpadu. ”Berdasarkan Permendagri Nomor 86 Tahun 2017, sekarang harus terukur untuk indikator kerjanya,” jelas dia.

Dia lantas menjelaskan maksud di balik 4 indikator tersebut. Yang pertama, kegiatan harus bisa mengawal perkembangan seni dan budaya di Kota Malang. Berikutnya, kegiatan juga harus ada semangat pelestarian situs-situs cagar budaya. ”Kami sudah mengantongi surat keputusan (SK) cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan,” tambahnya.

Semangat merevitalisasi dan menginventarisasi karya budaya juga turut diusung Disdik Kota Malang. ”Saat ini kami sudah punya 321 lokus cagar budaya yang berhasil diinventarisasi,” imbuhnya. Sikap terbuka dari disdik itu diapresiasi Suwito Herry Sasmito, salah seorang budayawan Ludruk. Dia menyebut bila sinergi antara pemerintah dan masyarakat memang diperlukan.

Sebab, pemerintah adalah pembuat kebijakan yang memiliki power untuk melakukan pelestarian budaya. Sedangkan masyarakat adalah konsumennya. Mereka adalah penikmat dari seluruh kegiatan seni dan budaya. ”Sebab, saat ini kami disuruh melestarikan seperti ini, sebenarnya tanggung jawab siapa. Anak muda saat ini saja lebih tahu stand up comedy daripada ludrukan,” terang Cak Wit, sapaan karibnya.

Pewarta : Errica
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Bayu Mulya