Pimpin 5.025 Prajurit, Panglima Tegaskan TNI Netral usai Pemilu

KABUPATEN – Sebanyak 5.025 pasukan mengikuti gelar Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Lanud Abd Saleh kemarin (3/5). Apel ribuan prajurit dari batalyon di bawah naungan Divisi Infanteri (Divif) 2/Kostrad itu dipimpin langsung oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto SIP.

Apel kesiapsiagaan prajurit TNI itu digelar guna memastikan kesiapan prajurit maupun armada tempur, serta senjata penunjang di lapangan. Pasukan pemukul reaksi cepat merupakan gabungan TNI Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), serta Angkatan Udara (AU) yang bertugas sebagai garda terdepan ketika terjadi konflik, baik dari dalam maupun di luar kedaulatan NKRI.

Sejak 2018 lalu, komando dan pengendaliannya (kodal) berada di bawah komando Divif 2/Kostrad yang bermarkas di Singosari, Kabupaten Malang. ”Pasukan PPRC dituntut bisa melakukan reaksi cepat dalam menindak awal maupun menghancurkan kekuatan musuh. Karena itu, kecepatan dan ketepatan dalam bermanuver menjadi hal yang mutlak dalam pembinaan TNI Angkatan Darat, Angkatan Udara, maupun Angkatan Laut,” kata pria asal Singosari tersebut.

Dalam gelar pasukan tersebut, juga dipamerkan beberapa alutsista yang menjadi andalan TNI. Di antaranya, Pesawat Militer C 130 Hercules, Super Tucano, Sukhoi 27/24, dan Cassa 212. Sementara untuk kendaraan darat turut berjajar Tank Leopard, Rudal Mistral, dan Roket Astros.


Di sela-sela pengecekan senjata, Hadi sempat berucap bahwa pihaknya bakal segera mengganti senjata laras panjang jenis Minimi menjadi Ares. ”Lebih ringan kalau untuk terjun. Hanya 4 kilogram, kalau Minimi 6,7 kilogram,” kata Hadi di hadapan prajurit raider.

Secara keseluruhan, dalam setiap latihan jenderal bintang empat itu juga menekankan agar peningkatan kualitas satuan yang bergerak di bidang kesehatan harus selalu menempel ketat. ”Utamanya dari batalyon zeni, baik konstruksi maupun tempur. Jadi, saat terjadi bencana alam bisa segera kami kerahkan,” sambungnya.

Pasukan PPRC, Hadi menyatakan, juga bukan hanya bertugas di medan perang. Tapi, juga menjaga kondusivitas masyarakat. Misalnya, momen pesta demokrasi yang masih berjalan sampai saat ini turut menjadi catatan panglima. ”Yang jelas TNI harus menjaga komitmen untuk tetap netral, tapi terorisme dan separatisme tetap menjadi ancaman. Karena itu, stabilitas nasional dan ketertiban masyarakat harus tetap dijaga,” perintahnya.

Termasuk juga dalam hal peningkatan teknologi di era revolusi 4.0. Perkembangan teknologi yang semakin maju juga menjadi tantangan. Sebab, spektrum ancaman juga semakin modern. Utamanya di kawasan perbatasan negara.

Pewarta               : Farik Fajarwati
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Mahmudan
Fotografer          : Darmono