Pilwali Usai, Timses Bubar

Panwaslu Minim Usut Pengaduan

Ketua KPU Kota Malang Zaenudin (tiga dari kanan) menyerahkan berkas penetapan kepada tim sukses pasangan Sae, kemarin (26/7).

MALANG KOTA – Ini mungkin pertama kalinya di Kota Malang, penetapan pasangan calon (paslon) terpilih justru tidak dihadiri pasangan calon. Dalam penetapan di Santika Hotel kemarin (26/7), pasangan calon yakni Sutiaji dan Sofyan Edi Jarwoko (Sae) tidak ada yang hadir.

Ini karena wali kota terpilih, yakni Sutiaji, sedang dinas di luar kota. Sedangkan Sofyan Edi Jarwoko sedang menjalankan ibadah haji. Pasangan calon yang lain, yakni Ya’qud Ananda Gudban-Wanedi, serta Moch Anton-Syamsul Mahmud juga tidak terlihat hadir.

”Per detik ini, timses pilwali sudah resmi nggak ada. Jadi bisa langsung dilanjutkan persiapan Pileg 2019,” ucap Ketua KPU Kota Malang Zaenudin dengan nada bercanda, kemarin.

Menurut dia, proses penetapan paslon terpilih Kota Malang relatif cepat. Karena tidak ada gugatan sengketa hasil perhitungan pilkada. ”Kota Malang nggak ada gugatan, jadi lebih cepat (penetapan paslon),” ucap pria asal Banyuwangi ini.

Dia menambahkan, proses selanjutnya, KPU RI bakal mengusulkan ke kementerian untuk jadwal pelantikan. Namun, berdasarkan informasi, paslon Kota Malang bakal dilantik pada 20 September 2018 mendatang.



”Informasinya, kami dapat gelombang pertama, 20 September nanti,” ungkapnya.

Sementara itu, timses paslon Sae Wisnu Murti Wibowo dan Nurmala yang menghadiri acara kemarin menyampaikan, meski secara resmi timses sudah bubar, tapi pihaknya masih punya tanggung jawab moral. Artinya, pihaknya bakal terus mengawal janji-janji paslon Sae saat kampanye.

”Secara resmi, per hari ini sudah dibubarkan, tapi kami punya tanggung jawab untuk mengawalnya,” ungkap Nurmala.

Rapat pleno kemarin juga bisa dibilang relatif singkat, karena tidak ada adu argumen. Bahkan, acara kemarin juga seperti ”lomba pidato”. Sebab, forkompinda diminta untuk memberikan sambutan dan kesan-kesan selama pilwali.

Terpisah, Ketua Bawaslu Kota Malang Alim Mustofa menyampaikan, secara garis besar, penyelenggaraan pilkada di Kota Malang berjalan lancar. Bahkan, pihaknya nyaris tak menangani pelanggaran. Karena pihaknya lebih pada pencegahan daripada penindakan.

”Penyelenggaraan Pilkada Kota Malang jadi rujukan daerah lain,” klaim mantan komisioner KPU Kota Malang ini.

Lebih lanjut, kondisi tersebut juga bisa dipertahankan dan ditingkatkan dalam Pileg 2019. Sehingga, Kota Malang tetap kondusif. ”Ini harus dipertahankan,” harapnya.

Seperti diketahui, berdasarkan hasil rekapitulasi akhir KPU Kota Malang pada 5 Juli lalu, pasangan Sae meraup 165.194 suara. Pasangan ini menguasai suara di empat kecamatan. Yakni Klojen, Blimbing, Kedungkandang, dan Sukun. Justru di Kecamatan Lowokwaru, yang menjadi ”kandang” Sutiaji, pasangan ini kalah dari Moch Anton-Syamsul. Kekalahan Sutiaji di Lowokwaru ini, bisa jadi karena ketokohan Moch Anton, yang juga dari Lowokwaru, begitu kuat. Karena berdasarkan survei dari FISIP Universitas Brawijaya, nama Moch Anton begitu populer. Khususnya di Lowokwaru.

Sementara itu, pasangan Sae meraih 165.194 suara sah, lalu disusul pasangan Moch Anton-Syamsul (Asik) dengan 135.710 suara, dan terakhir pasangan Ya’qud Ananda Gudban-Wanedi (Menawan) dengan 69.973 suara.

Pewarta: Imam Nasrodin
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono