Pilwali di Masa Pancaroba Politik

Prof Dr M. Mas’ud Said - Pakar Politik dan Penasihat Mas’ud Said Institute.

Pesta demokrasi berupa Pemilihan Wali Kota Malang 2018 telah usai kemarin (27/6). Berdasar hasil sementara hingga tadi malam, menempatkan pasangan Sutiaji dan Sofyan Edi Jarwoko unggul atas dua kompetitornya. Yakni, pasangan Ya’qud Ananda Gudban-Ahmad Wanedi dan pasangan Moch. Anton-Syamsul Mahmud.

Perolehan suara pada Pilwali Kota Malang ini menurut saya menarik untuk disimak dan dianalisis.

Pertama, hasil perolehan suara sementara itu tidak bisa dilepaskan dari faktor ”tsunami” politik yang sempat melanda Kota Malang. Apa itu? Yakni, terjeratnya kasus hukum dua calon wali kota: Moch. Anton dan Ya’qud Ananda Gudban.

Diakui atau tidak, peta politik berubah drastis pascakasus hukum ini meledak. Persepsi publik terhadap calon yang akan dipilihnya berubah. Dua kandidat (Ya’qud Ananda dan Moch. Anton) yang pada bulan Januari 2018 dan Februari 2018 memiliki persepsi dan elektabilitas kuat, tiba-tiba pada April dan Mei 2018 mulai menurun. Ini dampak dari perkara hukum tersebut. Sehingga ketika masa kampanye akan berakhir, masyarakat bingung pilih yang mana. Masyarakat yang sedianya mau pilih calon nomor urut 1 (Ya’qud Ananda Gudban) dan calon nomor urut 2 (Moch. Anton) mulai bimbang.

Maka ketika persoalan hukum menjerat dua calon tersebut, masyarakat hanya punya dua pilihan: Apakah memilih calon wakil wali kota untuk menjadi wali kota (Syamsul Mahmud menggantikan Moch. Anton dan Ahmad Wanedi menggantikan Ya’qud Ananda Gudban) atau apakah pilih calon wali kota yang asalnya wakil wali kota (Sutiaji). Maka yang lebih lengkap atau bahasa Jawanya ”pepek” hanya pada pasangan nomor 3 (Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko).



Pada minggu akhir sebelum pemilihan wali kota dilaksanakan, Sutiaji dipilih jadi pelaksana tugas (Plt) wali kota yang menambah asupan energi pasangan calon nomor 3 tersebut.

Namun perlu dicatat, kalau misalkan Sutiaji dan wakilnya hanya dapat suara antara 45–55 persen, maka sesungguhnya beliau punya beban untuk memuaskan seluruh masyarakat Kota Malang yang tak memilihnya.

Dalam pemerintahan, wali kota dan wakilnya di samping harus bisa mengakomodasi aspirasi dan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan dan kesejahteraan, juga butuh dukungan masyarakat, DPRD, serta kalangan profesional. Oleh sebab itu, perlu kerja keras dan kerja santun melayani semua, baik yang memilih maupun yang tak memilihnya.

Namun jika tidak canggih me-manage-nya, wali kota dan wakilnya akan menghadapi banyak kendala.

Dalam kajian political behaviour atau perilaku politik di Indonesia, keterbukaan, kebersamaan, dan komunikasi adalah kunci untuk hal tersebut. Semoga beliau yang terpilih bisa melaksanakan tugas dengan baik.

Menurut kamus politik Mas’ud Said, kita ini sedang masuk pada arena pancaroba. Semua orang harus mengetahui perubahan yang cepat dan kurang menentu. Semua orang harus berhati-hati di musim pancaroba politik ini.

Oleh: Prof Dr M. Mas’ud Said – Pakar Politik dan Penasihat Mas’ud Said Institute
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Dokumentasi Pribadi