Pilih Pemimpin Sesuai Rekam Jejak

KH Thamrin Munthe: Pilih Pemimpin Sesuai Rekam Jejak

JawaPos.com – Jelang pemungutan suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara (Pilgub Sumut) yang akan berlangsung 27 Juni mendatang, para ulama mengajak umat untuk memilih calon pemimpin berdasarkan rekam jejak dan pengalaman. Bukan berdasarkan sentimen suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

KH Thamrin Munthe menjelaskan, dalam Alquran telah dimuat jelas bahwa, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Sehingga, umat Islam hendaknya harus menjadi perekat segala perbedaan yang ada.

“Memilih pemimpin itu juga harus ditimbang dari semua segi, rekam jejak, pengalamannya,” ujar Thamrin, Senin (25/6).

Thamrin menyayangkan, bila ada oknum yang ingin merobek persatuan dan kesatuan bangsa lewat ajang Pilkada ini. Namun, Thamrin meyakini umat telah dewasa dan bisa mengantisipasi niat jahat tersebut.



“Semuanya baik, bila ada yang mengajak Salat Subuh berjamaah lalu mengawal proses Pemilu itu baik. Saya mengajak semua salat lima waktu juga berjamah,” ujarnya.

Sementara itu, H Abdul Muluk Siregar menambahkan, Pilgub Sumut kali ini seperti yang diungkapkan Romo Frans Magniz Suseno adalah, bukan mencari siapa yang terbaik, tetapi mencegah yang terburuk menjadi pemimpin.

“Pilkada seharusnya mewujudkan pemimpin yang mampu membuat pihak atau kelompok yang kalah tetap merasa menang dan terayomi. Bukan merasa terasingkan,” ujarnya.

“Juga bukan seperti yang seperti dikondisikan saat ini, seolah-olah Sumut yang sangat heterogen dengan penduduk berbagai suku, ras dan agama ini harus dikuasai oleh satu kelompok saja,” imbuhnya.

Abdul Muluk mengaku, sangat khawatir karena ada tersirat upaya untuk memecah belah Sumut hanya untuk kepentingan kelompok tertentu dengan memanfaatkan umat Islam.

“Kalau dulu politisi Islam berada di partai manapun memiliki jiwa khalifah untuk memperjuangkan kepentingan umat. Namun saat ini, politisi Islam digiring ke dalam satu kelompok partai tertentu dan ini sangat berbahaya untuk keutuhan NKRI,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini ada dikotomi yang sengaja diciptakan pada umat Islam karena perbedaan pilihan politik. Parahnya, ini justru digaung-gaungkan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi panutan.

“Dan jika terjadi perpecahan di Sumatera Utara, mereka yang dipasok untuk menghasut masyarakat Sumatera Utara, harus bertanggungjawab penuh,” tegasnya.

Oleh karena itu, kata Abdul Malik, masyarakat Sumut harus bersatu dan memilih pimpinan yang bisa melayani dan mengakomodir semua masyarakat tanpa membedakan suku, ras dan agama ataupun kelompok manapun.

(pra/JPC)