Pilih Jurusan, Cermati Hasil UTBK

MALANG KOTA – Para calon mahasiswa dituntut cermat dalam memilih jurusan dalam seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN). Jika kurang perhitungan, bisa-bisa malah terlempar dari persaingan hanya karena terobsesi masuk jurusan tertentu. Apalagi tahun ini, hasil ujian tes berbasis komputer (UTBK) juga ikut mempengaruhi standar nilai per prodi (program studi).

Hal itu sesuai dengan perubahan regulasi SBM PTN yang masa pendaftaran yang sudah dimulai sejak Senin (10/6) hingga 24 Juni mendatang. Tahun lalu, setiap tes dilaksanakan, per mahasiswa sudah melampirkan dua jurusan yang dipilih.

Soal hasil tes dan kecocokan nilai dengan jurusan yang dipilih menjadi rahasia panitia penyelenggaran SBM PTN. Namun tahun ini, siswa harus tes dahulu dan jika sudah mendapatkan nilai yang diberikan lewat e-mail, barulah bisa memilih jurusan di PTN yang dituju.

Pihak lembaga tes masuk perguruan tinggi (LTMPT) sendiri mengeluarkan tiga range nilai. Range bawah untuk nilai minimal kurang dari 300–500. Range tengah di atas 500–700. Sedangkan range atas, nilai di atas 800–900. Meski ada range nilai, tapi tidak ada minimal nilai untuk masing-masing prodi di setiap kampus.

Pilihan praktisnya, setiap kampus meminta siswa yang sudah tahu nilai mereka masuk range bawah, tengah dan atas, harus memperhatikan keketatan prodi. Seperti kata Rektor  Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Rofi’uddin MPd, camaba bisa melihat mana saja prodi yang kurang ketat persaingannya jika punya nilai yang pas-pasan. ”Jika skornya tak terlalu tinggi, maka jangan memilih prodi yang kira-kira perlu skor tinggi. Misalkan jurusan kedokteran,” kata dia.



Saat ini, diakuinya belum ada standar nilai per prodi karena pelaksanaan UTBK dalam SBM PTN kali ini tergolong baru.  Jika pun ada bimbingan belajar yang mengeluarkan daftar prodi dan minimal skor agar bisa lolos prodi yang diinginkan, bisa dipastikan itu bukan info resmi dari lembaga tes masuk perguruan tinggi (LTMPT). ”Memang banyak beredar perkiraan-perkiraan skor ke prodi tertentu. Tapi yang jelas perguruan tinggi tidak pernah mengeluarkan data itu,” jelasnya.

Prof Rofi’uddin menjelaskan, kampus tak dilibatkan dalam penggunaan skor ini sebagaimana pelaksanaan SBM PTN tahun lalu. ”Semua pendaftaran juga dilaksanakan secara online oleh peserta yang ingin ikut SBM PTN,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Budi Eko Soetjipto MPd MSi berharap peserta yang sudah ikut UTBK ikut mendaftar SBM PTN meski nilainya kecil. ”Kalau nggak ikut SBM PTN, nilainya UTBK buat apa?” kata dia.

Bagi dia, jika ingin aman masuk PTN per camaba yang memiliki nilai di atas 600–650 bisa aman masuk beberapa prodi yang ketat persaingannya. Seperti akuntansi, manajemen, atau prodi ketat lainnya.

”Kalau  misalkan skornya 550, misalkan masuk UM atau PTN lain sulit. Tapi bisa saja skor 550 bisa masuk PTN jika memilih prodi yang tidak begitu ketat persaingannya,” paparnya. Di antara banyaknya prodi di UM, yang keketatannya sedikit longgar ada di prodi S-1 Mandarin dan bahasa Jerman.

Khusus kedokteran atau jurusan yang diminati banyak camaba, dikatakan Budi, lebih mudah ditembusi siswa dengan skor 800–900 atau yang masuk di range atas. Tahun ini, SBM PTN UM setidaknya bisa menerima sekitar 3.383 mahasiswa baru.

Senada dengan UM, untuk Universitas Brawijaya (UB) sendiri juga menyarankan camaba harus pintar mencari celah persaingan antarprodi. Rektor Universitas Brawijaya Nuhfil Hanani menyatakan memang sulit mencari standar nilai per prodi. ”Tinggal lihat mana yang ketat, ya itu berarti bisa disasar nilai tinggi. Kalau rendah, coba cari jurusan yang tidak ketat. Tapi di UB, hampir semua ketat,” ujarnya. Untuk kuota sendiri, UB menyediakan bangku sekitar 5.642 yang bisa diambil para camaba.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahmad Yani