Piawai di Public Speaking, Juga Tangguh di Lingkungan Kerja

1 Maret 2015 menjadi hari yang akan selalu dikenang Rosalia Sandra Jullien. Perempuan yang akrab disapa Ocha itu resmi menyandang gelar sebagai Duta Hijab Radar Malang (DHRM) 2015. Tepatnya di Atrium Mal Olympic Garden (MOG). Itu adalah kali pertama Ocha mengikuti ajang serupa di luar lingkungan kampus. Sebelumnya, alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu adalah Duta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP UB).

Perlu tekad bulat baginya untuk memutuskan mendaftarkan di ajang ini kala itu. Ocha ingin menantang dirinya sendiri untuk keluar dari zona nyaman dan berkompetisi di level yang lebih besar. ”Pikiran saya waktu itu adalah harus berani break my limit,” jelasnya.

Meski sempat tidak yakin akan keluar sebagai juara, namun perempuan asli Malang ini berhasil mengemban berbagai tugas sebagai ketua paguyuban DHRM 2015 selama 1 tahun.

Kepada wartawan koran ini dia bercerita, di babak 10 besar grand final, dia malah menjagokan finalis lain, yaitu Nazren Teza Tiffany. ”Nazren lebih anggun, dia memiliki basic modelling, jawaban-jawaban yang diberikan kepada juri juga bagus,” lanjut Ocha. Namun tidak disangka, malah dirinyalah yang menjadi juara.

Perasaan campur aduk pun dirasakannya ketika mahkota DHRM terpasang di kepalanya. Pasca momentum penting dalam hidupnya itu, perempuan yang berulang tahun tiap 6 Desember ini akhirnya mengukuhkan hati untuk menggali segudang pengalaman di paguyuban DHRM.

Satu pengalaman yang tidak dia lupakan selama menjadi juara DHRM 2015 adalah ketika dia dan finalis lainnya berkunjung ke salah satu daerah di Kota Malang dan bertemu dengan para ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Berbagai kegiatan dilakukan saat itu, mulai dari berbagi pengalaman serta tutorial hijab. Pengalaman itu membuatnya tersadar bahwa menjadi perempuan tidak melulu mementingkan masalah penampilan semata, tetapi juga harus memiliki pribadi yang tangguh layaknya ibu-ibu PKK yang dia temui tersebut.

Selain itu, perempuan berusia 26 tahun tersebut juga mengaku lebih mahir dalam berorganisasi serta dalam hal event organizing. ”Semua ini berkat Jawa Pos Radar Malang, Bunda Belinda Ameliyah sebagai pembina DHRM serta teman-teman finalis yang lain,” tutur perempuan yang pernah menjadi announcer di Radio Kalimaya Bhaskara FM tersebut.

Menurut dia, Belinda sebagai pembina DHRM memang selalu mengajarkannya untuk menjadi pribadi yang mandiri, tidak mudah mengeluh dan  bekerja dengan maksimal sampai tuntas. ”Kalau lelah istirahat dulu, setelah itu bangkit berdiri dan mulai lagi,” jelasnya.

Itu karena menurutnya, sebagai perempuan, menjadi cantik saja tidak cukup, perempuan harus punya integritas dan karakter yang kuat. Selain itu, sarjana ilmu komunikasi tersebut juga makin percaya diri untuk mengasah kemampuan dalam public speaking.

Kini Ocha sudah direkrut oleh sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang transportasi laut. Yakni PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Selain direpotkan dengan pekerjaannya di Divisi Pelayanan, Ocha juga kerap diundang untuk menjadi master of ceremony (MC) di berbagai acara seperti resepsi pernikahan, serta berbagai acara di kantornya.

Berkat kemampuan public speaking-nya itu, pada 2018 yang lalu dia membawa nama perusahaan dan memenangkan medali emas dalam kompetisi The Best Contact Center Indonesia 2018. ”Saya bisa jalan-jalan gratis ke Thailand,” ujarnya senang.

Keluwesannya dalam bergaul di lingkungan kerja juga semakin baik. Sebagai fresh graduate yang sedang merintis karir dan kali pertama bekerja, kemampuan negosiasi, lobbying, bagaimana memberikan kesan yang baik terhadap rekan kerja maupun stakeholders sangat penting baginya. ”Dan itu sudah saya dapatkan ilmunya lewat DHRM, yang kemudian menjadi bekal saya untuk survive di lingkungan kerja sekarang,” terang dia.

Itu karena perbandingan jumlah karyawan perempuan dan laki-laki di tempatnya bekerja bisa dibilang 1:5. Sehingga sebagai karyawan perempuan, Ocha juga dituntut untuk menjadi pribadi yang tangguh, cekatan, dan siap ditugaskan di mana pun dan kapan pun, mengingat area kerja perusahaannya yang tersebar di seluruh penjuru perairan Indonesia dari Sabang-Merauke.

Ditempatkan di divisi pelayanan yang berfokus pada bagaimana merancang standar pelayanan yang diberikan untuk pengguna jasa membuatnya harus sering bertemu langsung dengan pengguna jasa. ”Berkat DHRM saya jadi punya bekal bagaimana untuk bersikap ramah, sopan, santun, serta berkomunikasi yang efektif,” imbuhnya. Itu agar dia dapat memberikan pelayanan yang terbaik untuk pengguna jasa yang ditemuinya di pelabuhan maupun kapal.

Mengemban amanah menjadi Duta Hijab Radar Malang membuatnya terus berbenah diri, baik dalam hubungan dengan manusia, maupun dengan Allah SWT. ”Kebiasaan di DHRM adalah sesibuk apa pun, seberat apa pun, jangan pernah meninggalkan salat lima waktu, sempatkan membaca Alquran meski 1 hari 1 ayat,” tuturnya. Dan itulah yang terus diterapkannya hingga saat ini. Dia juga selalu melaksanakan salat Duha. Itu dia lakukan agar pintu rezeki senantiasa dibukakan dan segala perkara dimudahkan oleh Allah SWT. ARLITA ULYA KUSUMA (*/c1/nay)