”Pesta” 1.000 Penari di Malang Night Culture and Art

MALANG KOTA – Aksi tak biasa dilakukan petinggi Pemkot Malang. Wali Kota Malang Sutiaji, Wawali Sofyan Edi Jarwoko, dan Sekkota Wasto mendadak jadi tukang becak. Dia mengayuh becak dengan penumpang istimewa, yakni istrinya masing-masing.

Ya, atraksi itulah yang disuguhkan pada gelaran Malang Night Culture and Art 2018 di Jalan Simpang Balapan Sabtu malam (17/11).

Dengan senyum merekah, para pasangan suami-istri itu langsung menuju panggung hiburan. Panggung pun langsung hidup dengan tampilan musik keroncong dari grup musik Panen Rejeki. Disusul aksi 1.000 penari yang membawakan 22 tema tarian. Tampil pula para budayawan, seniman, lima dalang, dan model. So, acara tersebut bak ”pestanya” para seniman Kota Malang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya (Kadisbudpar) Kota Malang Ida Made Ayu Wahyuni menyatakan, gelaran kebudayaan tersebut kali pertama diadakan. Ajang ini rencananya akan menjadi event rutin. ”Dengan sinergitas antara komunitas tari, seniman, dan tentunya para penampil dari Universitas Negeri Malang. Ini bisa jadi langkah baru go international,” kata Ida.

Ida menambahkan, event yang menampilkan seribu penari ini  menyajikan 22 tema. ”Kami menggandeng para budayawan serta seniman di seluruh Kota Malang untuk mengeksplor kesenian mereka dengan cara yang berbeda,” jelas Ida.

Senada dengan Ida, Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr AH Rofi’uddin MPd yang hadir juga sangat antusias dengan acara ini. Acara yang menyajikan seribu penari, aksi dalang, dan budayawan Kota Malang ini diapresiasi oleh UM dengan menerjunkan civitas academicanya yang aktif berkesenian. ”Paling tidak ada 200 orang (dari UM) yang memeriahkan kegiatan ini,” kata Rofi’uddin.

Rektor dua periode ini menyatakan, selama acara berlangsung, UM menyumbang enam penampilan inti. ”Di antaranya, ada campursari, tari Beskalan 50 orang, tari topeng Grebek Brojo Kencono sebanyak 50 orang, dan penampilan lain yang bisa memuaskan para penonton,” ucapnya.

Di setiap sesi penampilan disambung pula dengan fashion show kreasi busana karya desainer UM. Jadi, setiap penampilan tari dibuatkan satu ikon fashion hasil perwujudan kreasi masing-masing penampilan.

Sementara Wawali Sofyan Edi Jarwoko tak henti-hentinya memuji event perdana ini. ”Kalau melihat ragam budaya di Malang, artinya ada potensi besar Malang mengadakan acara kebudayaan rutinan,” kata dia. Dia pun berharap, tahun berikutnya ada sinergi antar-budayawan, seniman, dan seluruh institusi bisa bergandengan membuat event budaya yang lebih besar. ”Dengan begini bisa menarik wisatawan mancanegara (wisman) lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar Sofyan.

Malam itu, suasana langsung terasa makin semarak dengan aksi lima dalang andalan Kota Malang, Ki Kresna Soesamto Setro Wijoyo, Ki Bayu Suryo Kusumo, dan tiga dalang lainnya yang membuka acara dengan aksi gunungan.

Acara berikutnya tak kalah seru. Tiba-tiba saja muncul 50 penari beskalan yang beraksi di tengah jalan. Para penonton pun makin terpukau dengan penampilan sesi pertama yang dinamakan Malang Keputren Festival. Seperti kata Rektor UM, di tengah-tengah tarian muncul fashion show yang cukup mencengangkan. Uniknya, pakaian yang didesain pun mengenakan batik grinsik khas Kota Malang.

Barulah, di sesi kedua, ada tampilan 50 penari Grebek Brojo Kencono. Secara detail, acara ini tak hanya menyuguhkan dua atau tiga tarian saja. Sederet tarian yang disuguhkan itu di antaranya adalah tari topeng, tari beskalan, sendratari, dolanan, tari payung, Mbah Edrek, jaranan, barongan, bantengan, reog, barongsai, leang-leong, seni islami, dan tampilan kolaborasi lain yang menarik. Lalu ada carnival show dan fashion batik carnival. Masing-masing tarian ditampilkan sekitar 50 penari.

Pewarta: Sandra Desi
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Abdul Muntholib
Foto: Rubianto