Pesan Penting di Ajang Jakarta Fashion Week

Dalam pembukaan Jakarta Fashion Week di Senayan City, Jakarta, Sabu (21/10), Ketua Umum Jakarta Fashion Week Svida Alisjahbana mengungkapkan berbagai pesan bagi para pelaku industri fesyen, khususnya bagi pemain baru. Apalagi, kata dia, di era digital saat ini, pemasaran menjadi lebih mudah karena tradisi dan budaya yang bergeser menjadi online.

“Setiap desainer punya perjalanannya masing-masing. Banyak yang ikut Jakarta Fashion Week sejak awal sekarang melejitnya luar biasa. Karena itu untuk terus maju wajib mengembangkan inovasi terus,” ujar Svida.

Pasar Lokal
Menurutnya, tak ada yang salah jika desainer memutuskan untuk memilih fokus pada pasar lokal atau tanah air. Meski gengsi yang lebih tinggi bisa dicapai jika bisa melebarkan sayap ke luar negeri.

“Enggak ada yang salah, bahkan bermain di pasar lokal juga pasarnya besar kok. Indonesia punya pasar 250 juta penduduk,” tegasnya.

Marketing
Svida menilai banyak label fesyen sekarang begitu menarik dan kreatif namun marketingnya kurang. Dia mendorong bagaimana label bisa membangun bisnis dengan penjualan yang mantap. Dia menyarankan agar para desainer dan pelaku industry fesyen paham betul siapa sasaran mereka.

“Seperti saya punya teman punya gerai di mana-mana dan sukses. Tak mau go international. Tetapi saat saya Tanya di mana gerai terbesar, dia menjawab di online store. Itu luar biasa kan,” ungkapnya.

Kekuatan Ekonomi Kreatif
Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf yang hadir di ajang itu menilai dalam konteks pengelolaan ekonomi kreatif,maka Indonesia seharusnya semakin jaya dengan keragaman budayanya. Menurutnya, Jakarta Fashion Week dapat menggerakkan sector ekonomi kreatif Indonesia.

“Ini adalah bagian upaya melahirkan desainer-desainer baru yang siap masuk ke dunia retail. Kaena semakin sering kreativitas baru dilahirkan dari rahim-rahim budaya tersebut. Maka semakin diperlukan panggung-panggung untuk memasarkannya,” tutu Triawan.


(ika/JPC)