Perubahan Pola Teroris yang Kecoh Densus 88

Perubahan Pola Teroris yang Kecoh Densus 88

RADAR MALANG ONLINE – Pola hidup teroris sudah jauh berubah. Dari yang tertutup, mereka kini sudah berbaur di masyarakat untuk mengaburkan stigma, menghilangkan kecurigaan sekitar.

Contohnya saja pelaku bom gereja di Surabaya, Dita Oepriarto. Dia tinggal di rumah mewah senilai Rp 900 juta. Berbeda dengan para teroris pendahulunya yang kebanyakan tinggal di sebuah kontrakan.

“Mereka menyapa tetangga, berbagi belimbing wuluh, anaknya main di luar. Ini mengubah stigma penyidik Densus 88, yang selalu mengamati perubahan pelaku teror,” ujar pengamat terorisme Ridlwan Habib dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Jakarta, Selasa (22/5).

Kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Kondisi tempat kejadian perkara sangat mencekam. (Issak Ramadhani/RADAR MALANG ONLINE)

Sel Dita yang merupakan Jemaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya pun melakukan aksinya dengan sistematis. Mereka memperhitungkan jarak dan waktu dari rumahnya untuk meledakkan bom di tiga gereja kala itu.



“Sel Dita serius merencanakan serangan bukan spontan,” sebut Ridlwan.

Begitu pula rekannya, Tri Murtiono yang meledakkan diri di Mapolrestabes Surabaya. Mereka memang siap mati dengan memangku bom-bom itu untuk diledakkan.

“Ini jelas operasi istihadhah, operasi cari mati karena aparat sudah siaga satu dan tetap melakukan itu,” imbuhnya.

Serangan jaringan JAD pun masif, seakan sambut-menyambut. Ketika fokus polisi ke Surabaya, ternyata ada serangan di Mapolda Riau.

“Jadi, ada gejala solidaritas pendukung ISIS di Indonesia. Kelompok ini mati satu tumbuh seribu, dibunuh satu balas dendam yang lain,” tambahnya.

Lebih lanjut, jika dibandingkan dengan Jamaah Islamiyah (JI) yang ketat dalam menyeleksi anggota-anggotanya dan disiplin, JAD berbanding terbalik. “Ini kelemahan JAD, gampang rekrut orang baru,” kata Ridlwan.

Lantas bagaimana untuk mengatasi mereka?

Dia menyarankan bahwa untuk memberantas teroris yang dilakukan pertama kali bukan dari sisi ideologi. Sebab akan mudah bagi kelompok mereka mempolitisasinya dengan menyatakan pemerintah anti-Islam.

“Yang disembuhkan pertama kali serangannya dulu kita nolkan. Jangan sampai orang-orangnya ini bisa menyerang. Oktober ini anniversary bagi mereka karena peristiwa bom Bali 1,” pungkas Ridlwan.

(dna/JPC)