Pertarungan Jilid 2 Bisri – Nuhfil di Pilrek UB?

MALANG KOTA – Dua guru besar UB (Universitas Brawijaya) Prof Dr Ir Mohammad Bisri MS dan Prof Dr Ir Nuhfil  Hanani AR MS diprediksi bakal bertarung lagi pada Pilrek (Pemilihan Rektor) UB periode 2018–2022 pada 16 Maret mendatang.

Ini bakal mengulangi perhelatan pilrek pada 2014 lalu. Pada Pilrek 2014, Moh. Bisri terpilih menduduki kursi UB 1 (sebutan rektor UB) dengan meraup 139 suara dari 239 pemilih. Sedangkan Nuhfil menduduki posisi kedua dengan meraih 85 suara. Satu kandidat lain, yakni Prof Ir Ifar Subagiyo PhD di peringkat tiga dengan 14 suara.

Meski disebut-sebut masih layak menduduki kursi UB 1 untuk periode kedua, Bisri belum mau vulgar mengutarakan keinginannya itu. Dia tampak memilih pikir-pikir atau menunggu batas akhir pendaftaran. Untuk diketahui, pendaftaran calon rektor sudah dibuka pada 5 Januari lalu dan ditutup 31 Januari. ”Saya masih harus diskusi dulu dengan keluarga,” ungkap Bisri singkat.

Berbeda dengan Bisri yang terkesan malu-malu, Nuhfil justru dengan tegas ingin maju dalam Pilrek UB. Dia ingin kegagalan pada 2014 lalu ditebus pada Pilrek 2018 ini. ”Insya Allah (maju), mohon dukungannya,” jawab Nuhfil saat ditanya kesiapannya daftar di pilrek kemarin (17/1).

Menurut dia, keinginan maju lagi dalam pilrek tersebut karena dorongan dari teman-teman sesama dosen. Apalagi semua persyaratan bakal calon rektor juga bisa dipenuhi, seperti umur, gelar, dan syarat lainnya. ”Ya, teman-teman yang minta (maju),” terangnya.

Hanya, Nuhfil masih merahasiakan kapan waktu untuk mendaftar ke panitia pilrek. Dia bakal serius mempersiapkan diri untuk maju pilrek setelah tugasnya di luar negeri tuntas. ”Daftar nanti setelah urusan selesai (tugas dinas ke Taiwan),” tandas dekan Fakultas Pertanian UB ini.

Sementara itu, Sekretaris Panitia Pilrek (Pemilihan Rektor) UB Prof Dr Ir Abdul Latief Abadi MS menyatakan, hingga kemarin proses pendaftaran bakal calon rektor masih dibuka. Namun, pada pilrek tahun ini berbeda jauh dengan sebelumnya. Sebab, calon yang bakal maju diperkirakan tidak hanya dari lingkungan UB, tapi juga dari kampus seluruh Indonesia.

Hal ini sesuai dengan Permenristekdikti Nomor 19 Tahun 2017 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. Dalam peraturan ini, pejabat eselon II A di instansi pemerintahan boleh mengikuti penjaringan bakal calon rektor. Jadi, siapa saja WNI (warga negara Indonesia) yang memenuhi syarat ini bisa berpeluang memimpin UB. ”Nggak harus dari dosen juga. Ini aturan baru,” terang pria kelahiran Probolinggo tersebut.

Dalam aturan tersebut, masih kata dia, pada pilrek tahun ini tidak ada proses penjaringan calon rektor dari tingkat bawah. Mulai mahasiswa, karyawan, dan dosen tidak berhak memilih lagi. Prosesnya, setelah ada yang mendaftar, panitia melakukan verifikasi administrasi secara lengkap.

Data prestasi calon dan kesehatan dinilai. Sistemnya dengan pembobotan nilai. Panitia seleksi nanti hanya memilih empat calon yang berhak ikut tahap penyaringan di senat. Lalu, tiga nama terbaik disodorkan ke Menristekdikti untuk dipilih. ”Suara menteri sekarang jadi 35 persen. Sebelumnya, 30 persen,” ungkapnya.

Tak hanya itu, masih kata dia, syarat lain yang harus dipenuhi adalah masalah umur. Peserta tidak boleh lebih dari 60 tahun pada 10 Juni 2018. ”Karena jabatan rektor UB habis pada tanggal itu,” tambah pria yang tinggal di Malang sejak 1980 ini.

Saat ini, jumlah dosen UB yang memenuhi syarat tersebut, dia melanjutkan, ada 138 orang. Jumlah ini tersebar di 15 fakultas yang ada di UB. ”Kami juga sudah kirimkan edaran resmi kepada mereka,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, ada tiga tahapan yang harus dilalui dalam pilrek nanti. Yaitu, tahap penjaringan di mana akan diambil 4 besar tertinggi dan tahapan penyaringan yang akan mengambil tiga orang serta pemilihan yang dilakukan di senat. Pemilihan ini bakal menentukan siapa suara terbanyak dari suara senat. Perlu diketahui, anggota senat UB ada 174 orang.

Selain itu, dilakukan pemilihan oleh menteri atau yang mewakili sebanyak 35 persen suaranya dari jumlah total pemilih yang hadir. ”Suara menteri ini bisa dikerucutkan ke satu calon atau dipecah. Tapi, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, dikerucutkan ke satu calon,” ungkap alumnus UB ini. (im/riq/c2/abm)