Pertahankan Empat Pilar, Bagian Cungkup Mirip Masjid Kudus

Masjid Jami’ NU, Blimbing, Kota Malang, terbilang masjid tua karena sudah berdiri sejak 1926 silam. Meski tak lagi menjadi tempat salat Jumat, keberadaan masjid tersebut tetap menjadi tempat penting bagi warga sekitar. Bagian inti bangunan tidak diubah hingga saat dilakukan renovasi terakhir tahun 50-an.

Masjid Jami’ Nahdlatul Ulama (NU) Blimbing yang berdiri di lahan seluas 400 m2 ini memang bisa dibilang tak terlalu besar. Bahkan, keberadaannya agak kurang terlihat karena diapit beberapa bangunan lain.

Namun, masjid bergaya arsitektur Jawa itu menyimpan sejarah panjang berbagai kegiatan keagamaan yang digelar umat Islam. ”Masjid ini sudah ada, jauh sebelum Masjid Sabilillah dibangun. Tepatnya, masjid ini berdiri sekitar 1926,” ujar Sukandar, sekretaris takmir Masjid Jami’ NU Blimbing saat ditemui Senin malam (27/5).

Dia menceritakan, masjid yang beralamat di Jalan A. Yani No 59, Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, itu dibangun di atas tanah wakaf. Dan yang mendapatkan amanah atau waqifnya waktu itu yaitu Raden Syamsuddin Muhammad. ”Beliau jugalah yang membangun masjid ini. Dan beliau tokoh ulama di sini pada waktu itu,” ucapnya sambil membuka beberapa dokumen.

Sedangkan untuk arsitekturnya, masjid yang memiliki dua lantai itu seperti joglo. Hal tersebut bisa terlihat dari empat pilar yang ada di bagian tengah. ”Bisa dilihat juga dari cungkupnya itu. Kan ini yang khas di masjid tersebut,” ujar bapak tiga anak itu.



Oleh karena itu, konstruksi masjid ini masih model lama. Seperti joglo atau balai desa. ”Cungkupnya masih model lama. Mirip masjidnya Sunan Kudus-lah,” imbuhnya.

Sukandar menambahkan, masjid ini sudah ada beberapa kali mengalami renovasi. Dan renovasi total terakhir waktu itu dilakukan di tahun sekitar 1950-an. ”Setelah itu, sudah nggak ada renovasi total lagi. Tapi tetap, untuk perawatan misalnya seperti pengecatan atau penambahan tetap kami lakukan,” celetuknya. Dia mencontohkan seperti dibangunnya menara dan gapura masjid.

Lebih lanjut, masjid yang mendapat julukan saudara tua Masjid Sabilillah itu merupakan pusat kegiatan keagamaan masyarakat Blimbing waktu itu. Baik sosial keagamaan, perayaan hari besar, dan bahkan untuk salat Jumat. ”Itu dulu. Saat masih belum ada Masjid Sabilillah. Karena sudah ada, sekarang untuk ibadah seperti salat Jumat dan peringatan hari besar Islam dilaksanakan di sana,” ungkap pria kelahiran 1949 itu.

Saat masjid ini masih digunakan untuk salat Jumat waktu itu, jalan di depan masjid harus ditutup. Lantaran, jamaah yang datang hampir ribuan. ”Makanya, karena masjid ini sudah tidak muat untuk jamaah, akhirnya dipindah ke (Masjid) Sabilillah,” jelas bapak asli Lamongan itu.

Namun, untuk kegiatan sosial-keagamaan lainnya masih tetap berjalan. Seperti pengajian yang dilakukan rutin sebulan tiga kali. Termasuk salat jamaah lima waktu, pendidikan dan juga tadarus. ”Kegiatan lain, tetap, cuma yang dua tadi (salat Jumat dan dua hari raya) kami tidak lakukan di sini,” tandasnya.

Di sisi lain, dari beberapa sumber dan literasi yang diperoleh wartawan koran ini. Masjid Jami’ Blimbing merupakan salah satu masjid tua di Kota Malang yang didirikan tahun 1880. Kemudian dikatakan juga, Presiden RI pertama Soekarno pernah datang dan meminta masjid tersebut dikembangkan. Dalam permintaannya dibuat lebih besar daripada Gereja Cathedral di Jakarta.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahmad Yani
Fotografer : Laoh Mahfud