Persiapan Hanya 1,5 Bulan, Sisihkan Wakil 60 Negara

Prestasi di tingkat dunia diukir delapan siswa MTsN 1 Kota Malang. Mereka berhasil memborong 21 medali pada ajang bertajuk Seal of the WSC Tournament of Champion di Yale University, New Haven, Connecticut-Amerika Serikat, 8–11 November lalu. Pada ajang ini, MTsN 1 satu-satunya wakil Indonesia di bawah Kementerian Agama RI.

ADELA OKI NUR AINI

Raut kebahagiaan terpancar dari delapan siswa MTsN 1 saat ditemui Jawa Pos Radar Malang di sekolahnya kemarin. Didampingi kepala sekolahnya, Drs H. Samsudin MPd, mereka begitu antusias ketika ditanya pengalamannya mengikuti ajang internasional itu.

Mereka adalah Kayana Ayunda Diyanti (kelas IX), Aline Anismara (kelas VIII), Ahmad Naufal Maheswara Puspito (IX), Nasya Nisrina Zahira (VIII), Maftuhatusyifa’ (VIII), Abhista Dwi Putra Ramadhany (IX), Achmad Rahiil Fauzi (IX), dan Muhammad Risky Damary (IX).

Tidak pernah ada yang menyangka jika capaian mereka sejauh itu. Sebab, persaingan pada ajang tahunan itu begitu ketat. Bahkan, pada babak penyisihan yang berlangsung di Manila, Filipina, 11 September lalu, MTsN 1 yang mengirim 5 tim, hanya 3 tim yang lolos ke babak puncak di Amerika Serikat.

Saat di Filipina, mereka bersaing dengan perwakilan dari 27 negara se-Asia. ”Sama sekali kami tidak menyangka bisa memborong medali sebanyak ini. Pesaing terberat kami dari Vietnam, New Zealand, dan Kenya,” ungkap Kayana Ayunda kemarin.

Pada kompetisi yang diikuti 333 tim (999 peserta) dari lebih 60 negara itu, ada  4 bidang yang dilombakan. Yakni, team debate, scholars challenge, collaborative writing, dan scholars bowl.

Untuk lomba debat teknisnya seperti cerdas cermat dengan tiga peserta dalam satu tim. Temanya beragam. Mulai sejarah, pengetahuan internasional, sains dan teknologi, seni musik, serta masalah sosial.

Menurut Kayana, dia sempat tak percaya diri pada tahap debat. Sebab, dia sempat kesulitan mempertahankan argumen. Ini lomba paling seru.

”Misalnya saya berdebat soal robot yang punya perasaan, saya sempat ada di posisi pro. Jadi, waktu itu saya bilang kalau robot itu punya hak dan kewajiban seperti manusia dan dari lawan itu disanggah cukup kuat,” kenangnya.

Untuk kategori lomba scholars challenge ini agak mudah. Sebab, masing-masing peserta menjawab soal pilihan ganda dengan 120 soal selama 60 menit. Seperti tes tulis biasa. Sedangkan kategori collaborative writing, peserta wajib membuat tulisan terstruktur dengan tema yang sudah ditentukan.

Tantangannya, peserta harus bisa memberikan alasan pro dan kontra dalam setiap permasalahan yang disuguhkan. Waktunya hanya 30 menit.

Sementara kategori scholars bowl ini babak kompetisi terakhir yang cukup unik. Tiap tim harus menjawab soal pilihan ganda yang ada di layar besar di ruang teater. Adu cepat menjawab soal seperti kuis di TV.

Nah, dari keseluruhan lomba itu, MTsN 1 membawa pulang 4 medali emas dan 17 medali perak (selengkapnya baca grafis).

Untuk ikut di ajang akademik yang diselenggarakan DemiDec Institution USA itu, 8 siswa tersebut di-drill selama 1,5 bulan oleh dua guru pembimbingnya. Yakni, Dyah Khomsiyati SPd dan Nurul Hasanah SPd.

Kepala MTsN 1 Kota Malang Drs H. Syamsuddin MPd menjelaskan, sangat bangga atas raihan anak didiknya. Dia juga tidak menyangka bisa sehebat ini. Padahal, lawannya dari 27 negara maju, termasuk tuan rumah Amerika Serikat. ”Alhamdulillah, prestasi untuk ToC tahun ini luar biasa perolehan medalinya,” ujarnya.

Lebih lanjut Syamsuddin bercerita kalau tahun lalu pihaknya juga ikut serta, tapi terhenti di tingkat regional global. Jadi, tidak sampai ke babak puncak.

”Jadi, tahun lalu anak-anak tidak punya tiket untuk internasionalnya karena untuk masuk ke internasional harus memiliki 2.500 poin. Tahun ini tentu membahagiakan kita semua atas nama madrasah, terima kasih untuk semua pihak yang men-support,” ungkapnya.

”Ada pembinaan khusus untuk anak-anak yang ikut dan ada juga penghargaan dari sekolah, insya Allah melanjutkan sekolah ke mana pun akan direkomendasikan oleh Kemenag,” janji Syamsuddin.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib