Persembahkan Emas untuk Almarhumah Ibu, Ajak Sekeluarga Umrah

Perolehan medali emas di Asian Games 2018 dari atlet KONI Kota Malang berhasil direbut Abudzar Yulianto alias Antok. Atlet panjat dinding berusia 33 tahun ini mempersembahkan medali emas untuk Kontingen RI usai mengalahkan Tim A Indonesia di All Indonesian Final pada panjat dinding speed relay putra.

”Saya berterima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah mendukung,” ucapnya semalam saat dihubungi Jawa Pos Radar Malang. Kedua tim Indonesia dari atlet panjat dinding ini sejak awal memang ditargetkan masuk final. Namun, dia tidak menyangka jika timnya akan menjadi kampiun dalam perhelatan bergengsi kali ini, meskipun kedua tim tersebut memiliki kemampuan yang sama. ”Saya nggak nyangka,” ujar peraih medali emas panjat dinding kategori speed classic individual 15 meter di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX di Jawa Barat 2016 ini.

Dalam laga di Asian Games 2018 itu, Antok memanjat pada urutan ke-2. Dengan nomor punggung 101, panjatannya hanya memakan waktu tempuh 06,45 detik. Dia dan kedua rekannya, M. Hinayah dan Rindi Sufriyanto, sukses membukukan perolehan waktu total 18,68 detik.

Antok mengaku sama sekali tidak nervous saat bertanding. Selain karena lawannya merupakan tim dari negara yang sama, juga karena timnya sangat siap. Sebab, menurut dia, timnya tidak memikirkan medali apa yang akan diraih. ”Terpenting kan bermain secara disiplin. Dan paling penting, fokus pada pertandingan,” ucapnya.

Saat ini, Antok sudah bertolak dari gelaran Asian Games 2018 dan mempersiapkan event berikutnya. Namun, pria yang kini tinggal di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, itu tidak pernah sedikit pun melupakan keluarganya. Dalam waktu dekat, dia merencanakan berangkat umrah bersama keluarga. Dan yang paling dia utamakan adalah medali emas tersebut dipersembahkan untuk almarhumah ibunya, Hermien Elza. ”Medali ini buat Ibu,” ucapnya kepada koran ini. Saat pers conference usai pertandingan, Antok juga menyampaikan statemen yang sama sambil mengusap air mata.



Sejatinya, perjalanan kemenangan Antok di dunia panjat dinding ini tidak selalu mulus. Bahkan, di awal-awal menggeluti olahraga ini, dia sering kalah saat bertanding. Namun, Antok sudah sehati dengan sport climbing ini. Saat kalah pun, tetap terasa mengasyikkan.

Dalam PON XIX di Jawa Barat 2016 lalu, dia berhasil meraih medali emas panjat dinding speed classic individual 15 meter dan 3 medali perak masing-masing dari kategori speed track individual, speed world record, dan boulder team mans. Saat itu merupakan PON keempat dia ikut serta di arena panjat dinding. Tahun 2004 silam, suami dari Firliana Syahwi ini menyabet medali emas untuk debutnya di PON. Lalu, diikuti gelaran yang sama pada 2008, 2012, dan 2016. Empat gelaran beruntun dia persembahkan medali emas untuk kontingen Jawa Timur dari olahraga memanjat itu. ”Tentu saya bersyukur bisa meraih prestasi yang tinggi kali ini,” kata pria kelahiran 30 Juli 1985 ini.

Antok memang sarat pengalaman. Memulai olahraga ini ketika duduk di kelas 3 sekolah menengah pertama (SMP), dia masih belum bisa berbuat banyak. Ketika itu usianya masih 16 tahun. Keluarga pun tidak mendukung kegemarannya pada olahraga panjat dinding. ”Pertama lomba pada 2002 di Kampus Universitas WR Soepratman Surabaya. Saya kalah,” katanya sembari tersenyum.

Namun, kekalahan bagi Antok bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan, semangatnya makin menjadi-jadi. Kekalahan baginya awal sebuah kemenangan. Latihan keras terus dia lakukan demi hobinya ini.  Ayah dari Fadhil Azri Yulianto, anaknya yang masih berumur 3 tahun, itu tak pernah berhenti untuk menjadi yang terbaik. ”Saya ingin membanggakan orang tua,” tutur Antok.

Bicara soal prestasi, pastinya putra dari pasangan Budi Purwanto-(alm) Hermien Elza ini tidak diragukan lagi. Medali pertama dia raih di Purwokerto saat Kejurnas Panjat Dinding. Dia lalu meraih medali emas Extreme Games Shanghai-China pada 2009. Tahun berikutnya, dia meraih Extreme Games World di Shanghai. Dia juga peraih dua medali emas di Sea Games 2011 untuk panjat dinding Indonesia. ”Saya juga hobi bermain motor trail dan skateboard,” kata Antok saat ditanya kesibukan sehari-harinya.

Menjadi seorang atlet, bagi Antok, sangatlah menyenangkan. Namun, masalah juga kadang datang tiba-tiba. Sebelum bertanding, Antok pernah mengalami cedera lutut. Selain itu, cedera pada jari jemarinya. Cedera memang menjadi bumbu dalam keseharian para atlet. ”Pernah cedera lutut. Kalau cedera jari ya sering,” ujarnya.

Antok menyebut, kekuatan mental dalam pertandingan sangat dibutuhkan. Meski dia sudah malang melintang di dunia panjat dinding, tapi dia mengakui lawan bertanding selalu berat untuk dihadapi. ”Kualitas atlet sekarang sama. Mentalnya mungkin yang berbeda,” tegasnya.

Kesuksesan Antok menekuni hobinya itu sebenarnya tak lepas dari instruksi pelatih. Dia pun sangat berterima kasih kepada klub panjat dinding Swela Giri–Semen Gresik yang menjadi titik awal dirinya menggeluti olahraga extreme ini.

 

Copy Editor: Dwi Lindawati
penyunting: Mardi Sampurno
Foto: INASCOC