Pernah Dua Kali Diusir, Modal Awal Hanya Rp 8 Juta

Mulai membuka usaha kedai kopi sejak 2014 lalu, sejumlah pengalaman dirasakan Septian Resvianto. Dua kali diusir dan harus membangun kembali kedai kopinya merupakan hal-hal yang pernah dia rasakan

Ditemui siang kemarin (30/4) di Jalan Wukir Kota Batu, tepatnya di Kedai Joni, Septian Resvianto tak segan ikut turun meracik kopi. Sebagai pemilik tempat tersebut, jemarinya tampak tangkas mengatur takaran kopi dan gula. Usai meracik satu cangkir kopi, dia menyempatkan diri berbincang dengan koran ini. Rutinitas bergelut dengan kopi sudah dilakoninya sejak beberapa waktu yang lalu.

Sebelumnya pria ini hanya seorang penikmat kopi. ”Jadi, dulunya saya anggota band beraliran hardcore punk,” ujar Asep, sapaan akrabnya.

Bersama band yang tak dia sebutkan namanya, Asep sempat menggelar tur keliling Indonesia. ”Itu pada 2010 lalu, dari Jakarta sampai Bali. Mungkin hampir 80 persen kota-kota di tempat itu sudah pernah saya datangi,” kenang dia.

Saat itu, dalam sebulan Asep bisa 2–3 kali tur ke luar kota. Kesibukannya sebagai anak band waktu itu juga memaksanya meninggalkan bangku kuliah. ”Sebenarnya bukan karena main band, tapi juga karena biaya kuliah yang saat itu tidak ada,” ujar pria yang pernah mengecap bangku kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut. ”Jadi, saya pernah cuti selama dua tahun. Waktu itu saya tidak kuat membiayai kepengurusan cuti selama itu,” sambung pria 26 tahun tersebut.

Seiring berjalannya waktu, rutinitas Asep bersama bandnya mulai turun. Dia pun memilih untuk merintis usaha kedai kopi pada akhir 2014. Di awal-awal menggeluti usaha, beberapa tantangan harus dia hadapi. ”Kami pernah diusir karena dianggap terlalu banyak asap rokok,” kenangnya.



Komplain warga terhadap aktivitas di kedai kopi miliknya juga tak sedikit. ”Sejauh ini saya pindah tempat sebanyak tiga kali,” terangnya.

Sebelumnya, Kedai Joni miliknya terletak di Jalan Imam Bonjol Kota Batu. Sempat pindah ke Jalan Abdul Ghani, kini sudah kedai kopinya berada di Jalan Wukir. ”Kalau awal dulu, modalnya masih sedikit, sekitar Rp 8 juta,” imbuh pria kelahiran 10 September 1991 tersebut.

Ketika membangun kembali tempat ketiganya ini, Asep mengeluarkan modal hingga ratusan juta rupiah. ”Kalau yang sekarang, mungkin habis sekitar Rp 200 juta,” bebernya.

Dia bercerita, dirinya ingin menujukkan suasana baru, suasana yang berbeda dengan kedai kopi lain. ”Jadi, kafe pertama saya dulu banyak terbuat dari kayu dan bambu. Dan sekarang sudah banyak yang memakai konsep itu,” ujarnya

Sembari menujukkan beberapa sudut kedai kopinya, Asep mengaku sengaja mengangkat tema minimalis namun modern. ”Musik yang kami putar juga bukan lagu-lagu yang sekarang populer. Kami memang ingin membawa pengunjung dalam suasana yang berbeda,” tambah alumnus SMAN 2 Batu tersebut.

Setiap hari, tak kurang 50 pengunjung singgah di kedai kopinya. Total ada empat pegawai yang dia pekerjakan.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Bayu Mulya
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Bayu Eka