Pernah 9 Kali Gagal, Ditunjuk Perusahaan Ternama untuk Melatih Warga

Mungkin usaha yang ditekuni Nining Yeni ini tak biasa. Sebab, perempuan 44 tahun ini memilih membuat tas dan dompet dari resleting. Bahkan, keterampilan ini dia tularkan kepada warga lain secara gratis.

Salah satu ruangan rumah di Jalan Panderman No 23, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, tampak dipenuhi resleting. Benda ini tampak menumpuk sekitar 50 sentimeter di ruangan 3 x 4 meter itu.

Sekitar 1 meter dari tumpukan benda itu, tampak seorang perempuan yang sibuk memilah tumpukan resleting itu, lalu memisahkan beberapa di sampingnya. Dia adalah Nining Yeni, pengusaha dompet dan tas dari resleting sekaligus pelatih keterampilan di Kota Batu secara gratis. ”Ini (resleting) yang belum jadi. Kalau yang sudah jadi itu,” kata Nining Yeni kepada Jawa Pos Radar Batu kemarin (7/8) sambil menunjuk produknya yang sudah jadi.

Perempuan kelahiran 28 Agustus 1973 ini bercerita, awal mula idenya muncul pada 2013 silam atau 4 tahun lalu. Tepatnya, saat dia mengotak-atik informasi di YouTube tentang pembuatan kerajinan tak biasa.

Dari sana, muncullah bahan dasar resleting tersebut sebagai bahan baku pembuatan tas dan dompet. Bahan ini dinilai unik dan tak biasa. Dia pun mencoba untuk membuatnya sendiri. ”Sebenarnya (berwirausaha) untuk persiapan pensiun nanti, biar nggak kaget (kalau sudah tidak kerja),” terang perempuan yang juga menjadi salah satu karyawan koperasi milik perusahaan plat merah itu.

Tiba-tiba, Nining menghentikan ceritanya, lalu mengambil sebuah tas ukuran sekitar 20 x 30 sentimeter. Dia membuka tas tersebut melalui resletingnya. Praktis, tas tersebut berubah menjadi resleting yang panjangnya mencapai 3 meter. Namun, begitu dikembalikan lagi, resleting tersebut jadi tas lagi. ”Ini uniknya,” jelasnya, singkat.

Kreativitas ini pula yang membuat Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Batu dan beberapa perusahaan ternama memintanya untuk melatih usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) binaan mereka.

Hal ini dilakukan Nining sejak 2014 silam atau setahun setelah dia membuka usahanya. Namun, untuk pelatihan yang diadakan Dinas Kopreasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Batu, Nining tidak dibayar. Dia ingin berbagi dengan sesama warga Kota Batu. ”Kalau yang perusahaan, dikasih bayaran. Yang kegiatan dinas enggak (dibayar),” ungkap perempuan 44 tahun ini.

Tak hanya itu, Nining juga pernah mengalami kendala dalam berwirausaha. Tepatnya, saat awal memulai usaha pada 2013 lalu. Dia sering gagal saat mencoba. Bahkan, kala itu dia masih menjahit dengan tangan, karena dia belum memiliki mesin jahit.

Hingga kemarin, ada empat orang yang membantunya jika sedang banyak pesanan. ”Kalau pesanan banyak, saya minta tolong tetangga (karyawannya),” ungkapnya.

Hasil produksinya dipesan hingga luar kota seperti Samarinda, Banjarmasin, Aceh, dan Jakarta. Tiap bulan, dia mendapatkan order 1.000 produk dari empat daerah tersebut. ”Kalau harga bervariasi. Mulai Rp 25 ribu sampai Rp 65 ribu,” ujar perempuan tiga anak ini.

Ke depan, dia ingin terus mengembangkan usahanya tersebut. Sehingga, dia bisa membantu warga di sekitarnya dalam menciptakan lapangan pekerjaan. ”Ingin terus kembangkan usaha ini sambil nunggu pensiun,” imbuh alumnus Universitas Brawijaya (UB) ini.

Pewarta: Dian Kristiana
Penyunting: Imam Nasrodin
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Dian Kristiana