Permudah Petani, UM Borong Gelar di Malaysia

MALANG KOTA Universitas Negeri Malang (UM) mengharumkan tanah air di Malaysia. Ini setelah tim UM berhasil memborong tiga gelar pada ajang Bujang Valley Innovation, Invention, and Design Competition (BVIIEC) 2019 yang diadakan di Universiti Teknologi Mara, Kedah, Malaysia Kamis (13/6).

Tim gabungan dosen dan mahasiswa UM ini berhasil membawa pulang 3 penghargaan di antara 200 kompetitor lain dari Malaysia, Indonesia, China, India, dan Thailand.

Ketua Tim Dr Heny Kusdiyanti SPd MM menyatakan, mereka mengusung dua inovasi unik. Yakni, Social Provisioning Process (Sovipro) yang berhasil menyabet gold medal dan Hybrid Learning Based on Asynchoronous Learning Network (Hylbus) yang berhasil memboyong bronze medal.

Semakin mantap karena tim ini juga mendapat tambahan penghargaan Best International Participant. Apalagi, mereka dipuji sukses juga karena modal yang digunakan sangat murah dibanding tim lain, yakni hanya bermodalkan Rp 8 juta.

”Sovipro merupakan aplikasi mobile Android yang bermanfaat untuk memecahkan masalah agroindustri dalam pengolahan tanaman petani dan proses distribusinya,” kata Heny.



Dia menyatakan, aplikasi yang digarap sejak 2018 ini membantu petani mengelola jenis tanaman apa pun yang bisa terjual melalui online. Dengan kontak langsung via aplikasi diharapkan dapat memangkas alur distribusi melalui tengkulak, sehingga petani akan meningkat pendapatannya.

”Selama ini kan yang untung tengkulak, karena petani jual ke tengkulak. Dengan aplikasi itu, petani bisa langsung berhubungan langsung dengan pembeli,” ujar Heny lagi. Sementara, aplikasi lain yakni Hylbus merupakan website pembelajaran yang menghubungkan antarguru dengan siswa tingkat SMA/SMK tanpa menghilangkan intensitas tatap muka.

”Jadi siswa bisa belajar dulu di rumah. Misal ada mata pelajaran kewirausahaan hari Jumat. Hari Selasa, guru sudah meluncurkan materi yang bisa diakses untuk dipelajari. Ada menu diskusi juga. Sehingga saat hari H pembelajaran, siswa tinggal melengkapi apa yang kurang dimengerti melalui tatap muka,” terang dosen Fakultas Ekonomi UM itu.

Wanita yang akrab disapa Bunda oleh mahasiswanya itu mengaku sangat senang dengan prestasi yang dicapai bersama timnya. Apalagi level kompetisi sudah internasional. ”Awalnya kami tidak menyangka karena memang persiapan sangat mepet, tapi karena mahasiswa yang ikut sudah terbiasa dengan kompetisi dan memiliki jam terbang yang tinggi, sehingga kami bisa melakukan yang terbaik,” katanya.

Tak mau sekadar menciptakan inovasi, Heny bersama dengan anggotanya yakni M. Nurruddin Zanky SPd MPd, Robby Wijaya SPd, Himmatul Ulya Alfaratri Sachofina, Indra Febrianto, Ekki Septian Putra, dan Ni’matus Sholihah berharap agar kedua inovasi ini dapat diterapkan segera di Malang.

”Semoga ini bisa diterapkan di Malang, mengingat kawasan kita ini merupakan Kota Pendidikan. Juga di wilayah Batu dan Kabupaten Malang banyak petani yang butuh inovasi agar sejahtera,” tandasnya.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib