Perjuangan Lia Putrinda, Rela Keluar dari Kampus Ternama demi Mengurus Ini..

Sudah lima tahun ini atau terhitung sejak 2012 lalu, Lia Putrinda Anggawa Mukti intens menggerakkan masyarakat melakukan konservasi di kawasan pantai di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Perjuangannya berbuah penghargaan dari Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).

ARIS DWI KUNCORO

Sudah sepekan lebih ajang penghargaan 72 Ikon Prestasi dari Unit Kerja Presiden- Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) berlalu. Dan, Lia menjadi satu dari 72 tokoh nasional yang menerima penghargaan itu. Meski begitu, dia masih saja tak percaya namanya masuk dalam daftar 72 tokoh inspiratif tersebut.
Perempuan berusia 25 tahun ini mengaku mendapatkan kabar kali pertama sekitar tiga pekan sebelum penghargaan itu diserahkan di Jakarta Convention Center (JCC) Senin lalu (21/8). ”Waktu itu, mereka menghubungi saya lewat nomor reservasi Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna. Tidak langsung kepada saya,” ujar dia saat diwawancarai kemarin (31/8).
Karena itu, pada awalnya, Lia tidak percaya dengan informasi tersebut. ”Lha saya ini siapa,” kata dia, merendah.
Dia merasa kecil di antara puluhan tokoh lain yang kiprahnya menasional, bahkan menjadi legenda di bidangnya masing-masing. Sebut saja Alan Budikusuma (pebulu tangkis peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992), Putu Wijaya (sastrawan), hingga Prof Dr Khoirul Anwar (pemilik paten teknologi broadband yang menjadi standar internasional).
Lia pun penasaran kenapa namanya masuk dalam daftar 72 Ikon Prestasi. Itu dia tanyakan ketika panitia kembali menghubunginya. ”Saya tanyakan, kenapa saya yang terpilih. Apalagi saya tidak pernah mendaftar sebelumnya. Orang itu bilang, sudah ada ”intelijen” yang mengamati kiprah saya selama setahun ini,” ujar alumnus SMA St Albertus (Dempo) ini.
Hingga akhirnya, undangan resmi dia terima pada 7 Agustus lalu. Itu pun Lia masih setengah tidak percaya. Dia merasa seperti bermimpi ketika akhirnya menerima penghargaan itu, bersanding dengan tokoh-tokoh nasional yang sebelumnya hanya bisa dia lihat lewat layar televisi.
Termasuk ketika bertemu dengan Oka Rusmini, penulis asal Bali, yang juga menerima penghargaan dari UKP-PIP. ”Saya sudah mengidolakan beliau sejak masih duduk di bangku SMP,” kata putri sulung dari pasangan Saptoyo dan Tri Andar Karyati ini.
Banyak hal menarik yang dipetik Lia dari acara penganugerahan 72 Ikon Prestasi. ”Ada banyak diskusi yang kami lakukan,” kata dia. Di antaranya, ada diskusi dengan Garin Nugroho soal kampanye pelestarian alam lewat film.
Lalu, ada diskusi bareng Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarnoputri, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, hingga Yudi Latief (ketua UKP-PIP). ”Kami berdiskusi tentang program ke depan untuk (penguatan) Pancasila,” kata suami dari Ruzzo Bhirawa Purwantara tersebut.
Para tokoh inspiratif yang dipilih oleh UKP-PIP memang punya tugas untuk melakukan penguatan Pancasila di daerah-daerah. ”Menurut UKP-PIP, ruang publik itu banyak yang tercemar berita negatif. Nah, kami ini dipilih untuk menyebarkan virus positif untuk Indonesia,” kata dia.
Ada harapan besar yang disuarakan oleh UKP-PIP. ”Pak Yudi Latief juga bilang, teman-teman ini (72 Ikon Prestasi) adalah kunang-kunang kecil di daerahnya yang tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi satu. Nah, dari acara kemarin, kami berkumpul dan bersatu untuk membuat program ke depan,” ujar dia.
Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh Lia? Kiprahnya ke depan tentu tidak akan lepas dari apa yang telah dia berikan selama ini. Sejak masih duduk di bangku SMP, Lia sudah terlibat dalam proyek konservasi di kawasan pesisir pantai, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Perjuangannya melakukan konservasi itu berawal dari keprihatinan melihat rusaknya kawasan pesisir pantai. ”Ya, di lokasi CMC Tiga Warna itu kan tempat bermain saya sejak kecil. Itu menjadi tempat nelayan mencari ikan. Tapi, waktu saya SMP, semua padang jingglang (terang karena tidak ada tanaman apa pun). Rusak semuanya,” kata alumnus SMPK Santa Maria 1 ini.
Perlu diketahui, CMC Tiga Warna mencakup sejumlah pantai. Di antaranya, Tiga Warna, Gatra, Sapana (Sapalah) Mini, dan Watu Pecah. Dulu, kawasan yang rusak mencapai 81 hektare.
Bersama sang ayah, Saptoyo, Lia pun bergerak untuk melakukan konservasi. Keduanya berusaha menggerakkan masyarakat sekitar.
Tapi, tak mudah meyakinkan masyarakat untuk ikut serta. ”Sempat banyak yang ikut, tapi mrotol satu per satu. Dari 76 anggota, tersisa tujuh orang. Termasuk saya,” ujar dia.
Lia sendiri akhirnya juga ikut mrotol karena harus fokus pada sekolahnya. Apalagi, sejak SMP hingga kuliah, Lia tinggal di Kota Malang.
Hingga akhirnya, Lia membuat pilihan. Pada 2012 lalu, Lia memutuskan untuk keluar dari kuliahnya. Waktu itu, Lia menginjak semester tiga di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya (UB).
Pengorbanan Lia itu membuahkan hasil. Karena selama lima tahun ini, jumlah lahan yang rusak menyusut signifikan. Dari yang sebelumnya 81 hektare, kini tersisa 10 hektare. ”Prinsip pergerakan kami itu ada tiga, yaitu ekologi, sosial, dan ekonomi,” kata ibu dari Beatricia Sheena Purwantara dan Mahardika Ayuning Purwantara tersebut.
Ekologi adalah memelihara kelestarian alam. Meski dimanfaatkan menjadi destinasi wisata, kawasan pantai harus memiliki aturan yang ketat. ”Kedua adalah sosial atau seduluran harus terjaga dengan baik. Ketiga yaitu ekonomi, ini berbasis masyarakat,” kata dia.
Soal wisata, CMC Tiga Warna mengusung konsep eco tourism. Yakni, wisata berbasis alam. ”Jadi, di sini kami tidak mendatangkan investor, dari rezeki yang ada itu kami dum roto (bagi rata),” kata dia. Hingga saat ini, sedikitnya ada 108 orang yang diberdayakan. (*/c2/muf)

Judul Sambungan:
Rela Putus Kuliah demi Konservasi Pesisir Pantai