31.4 C
Malang
Minggu, April 7, 2024

Dua Tahun Lagi, TPA Randuagung Penuh

 

MALANG KABUPATEN – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Randuagung di Singosari, Kabupaten Malang diprediksi akan penuh dua tahun lagi. Hal itu disampaikan Koordinator TPA Randuagung Purwanto Eko Wijaya.

Dia mengungkapkan, lahan TPA Randuagung sudah terbatas. Dari total 8,76 hektare lahan, hanya sebagian yang masih tersisa. ”Sekarang ini (lahan) yang kosong hanya sekitar 1,5 hektare,” kata Purwanto kemarin.

Sehingga TPA akan dikembangkan dan dikelola menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). ”Nanti akan seperti TPA Paras, Poncokusumo, dan TPA Talangagung,” tambah Purwanto.

Saat ini, lanjutnya, pembentukan BLUD masih dalam tahap penyusunan dokumen. Nantinya dapat aktif ketika program Bersih Indonesia sudah dimulai. Untuk diketahui, program bersih Indonesia merupakan hibah infrastruktur persampahan senilai 29 juta USD atau Rp 450 miliar dari The Alliance to End Plastic Waste (AEPW).

Baca Juga:  Idul Fitri, Umat Hindu dan Buddha di Desa Ngadas pun Ikut Buat Ketupat

Hibah tersebut akan diberikan dalam bentuk infrastruktur persampahan. Di antaranya berupa 1.200 unit kendaraan roda tiga, 50-60 unit arm roll, 40 unit pick up, 2 unit hanggar pilah, 5 unit Stasiun Peralihan Antara (SPA), dan 900.000 unit bak sampah.

Sementara itu, petugas administrasi TPA Randuagung Kevin Tantio menambahkan, TPA tersebut mampu menampung 320 kubik sampah per hari. Sampah sebanyak itu biasanya masuk saat Senin-Selasa. Sedangkan hari-hari biasa lebih sedikit.

“Kalau Rabu, Kamis, dan Jumat menampung 270-280 kubik. Sedangkan hari Sabtu hanya 230-240 kubik,” kata Kevin.

Sejak beroperasi 2003 lalu, kata Kevin, TPA Randuagung belum memiliki alat pengukur tonase sampah. Sehingga sampah yang masuk diukur berdasarkan kubikasi. Padahal, alat pengukur tonase sampah juga penting untuk keakuratan pengukuran, sehingga pihaknya bisa menyiapkan skema jika TPA penuh.

Baca Juga:  Di Malang, 11 Kasus Kecelakaan dalam Sepekan

Kubikasi yang dimaksud yakni menghitung dari volume kendaraan pengangkut sampah. Misalnya satu dump truck yang masuk akan dihitung 12 kubik. Sedangkan arm roll dihitung 7 kubik. Sehingga untuk mengetahui total sampah yang masuk dalam sehari, dia menghitung berapa kali kendaraan yang masuk sesuai volume pengangkutannya.

Dia mencatat, terdapat 15 kendaraan yang masuk ke TPA Randuagung. Terdiri atas dump truck berkapasitas 9-12 kubik dan arm roll berkapasitas 6-7 kubik. “Kalau arm roll, kadang ada yang sudah tidak layak. Itu hanya mampu mengangkut 6 kubik,” imbuhnya. (yun/dan)

 

MALANG KABUPATEN – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Randuagung di Singosari, Kabupaten Malang diprediksi akan penuh dua tahun lagi. Hal itu disampaikan Koordinator TPA Randuagung Purwanto Eko Wijaya.

Dia mengungkapkan, lahan TPA Randuagung sudah terbatas. Dari total 8,76 hektare lahan, hanya sebagian yang masih tersisa. ”Sekarang ini (lahan) yang kosong hanya sekitar 1,5 hektare,” kata Purwanto kemarin.

Sehingga TPA akan dikembangkan dan dikelola menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). ”Nanti akan seperti TPA Paras, Poncokusumo, dan TPA Talangagung,” tambah Purwanto.

Saat ini, lanjutnya, pembentukan BLUD masih dalam tahap penyusunan dokumen. Nantinya dapat aktif ketika program Bersih Indonesia sudah dimulai. Untuk diketahui, program bersih Indonesia merupakan hibah infrastruktur persampahan senilai 29 juta USD atau Rp 450 miliar dari The Alliance to End Plastic Waste (AEPW).

Baca Juga:  Kecelakaan di Bantur Malang, Dua Tewas dalam Truk yang Hantam Tebing

Hibah tersebut akan diberikan dalam bentuk infrastruktur persampahan. Di antaranya berupa 1.200 unit kendaraan roda tiga, 50-60 unit arm roll, 40 unit pick up, 2 unit hanggar pilah, 5 unit Stasiun Peralihan Antara (SPA), dan 900.000 unit bak sampah.

Sementara itu, petugas administrasi TPA Randuagung Kevin Tantio menambahkan, TPA tersebut mampu menampung 320 kubik sampah per hari. Sampah sebanyak itu biasanya masuk saat Senin-Selasa. Sedangkan hari-hari biasa lebih sedikit.

“Kalau Rabu, Kamis, dan Jumat menampung 270-280 kubik. Sedangkan hari Sabtu hanya 230-240 kubik,” kata Kevin.

Sejak beroperasi 2003 lalu, kata Kevin, TPA Randuagung belum memiliki alat pengukur tonase sampah. Sehingga sampah yang masuk diukur berdasarkan kubikasi. Padahal, alat pengukur tonase sampah juga penting untuk keakuratan pengukuran, sehingga pihaknya bisa menyiapkan skema jika TPA penuh.

Baca Juga:  Santri Merokok, Gudang Ponpes di Bululawang Terbakar

Kubikasi yang dimaksud yakni menghitung dari volume kendaraan pengangkut sampah. Misalnya satu dump truck yang masuk akan dihitung 12 kubik. Sedangkan arm roll dihitung 7 kubik. Sehingga untuk mengetahui total sampah yang masuk dalam sehari, dia menghitung berapa kali kendaraan yang masuk sesuai volume pengangkutannya.

Dia mencatat, terdapat 15 kendaraan yang masuk ke TPA Randuagung. Terdiri atas dump truck berkapasitas 9-12 kubik dan arm roll berkapasitas 6-7 kubik. “Kalau arm roll, kadang ada yang sudah tidak layak. Itu hanya mampu mengangkut 6 kubik,” imbuhnya. (yun/dan)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/