Perguruan Tinggi Negeri Kota Malang Punya PR Baru

MALANG KOTA Perguruan tinggi negeri (PTN) di Kota Malang punya pekerjaan rumah untuk meningkatkan posisi mereka dalam perankingan versi Kemenristekdikti. Khususnya Universitas Brawijaya (UB) yang tercecer di posisi dua belas dalam penilaian yang dirilis pertengahan Agustus lalu.

Salah satu peluang untuk mendongkrak peringkat itu ada di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-31 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang akan berakhir hari ini (2/9). Hanya saja, andai saja UB menjadi juara umum, juara ini sifatnya akan mendongkrak sedikit saja, karena prestasi mahasiswa bobotnya hanya 12 persen. ”Kemarin (penurunan ranking) memang tidak terduga. Kegiatan seperti ini (pimnas) tentu membantu kampus bisa menaikkan levelnya,” kata Rektor UB Prof Dr Nuhfil Hanani, kemarin.

Apalagi, UB juga termasuk klaster pertama versi dikti. Kampus yang masuk klaster pertama memiliki beban dan tanggung jawab untuk bisa menjadi world class university. Semua kampus nonvokasi, akan dinilai peringkatnya oleh Kemenristekdikti dari lima hal. Pertama, kualitas SDM, seperti jumlah lektor kepala, guru besar, dan rasio dosen serta mahasiswa. Kedua, ada kualitas kelembagaan, kualitas kegiatan kemahasiswaan, serta kualitas penelitian dan pengabdian, serta kualitas inovasi.

Sementara itu, Ketua Kontingen Tim UB Yusuf Hendrawan STP MAppLifeSc PhD menyatakan, prestasi mahasiswa menyumbang 12 persen dari penilaian peringkat versi Kemenristekdikti. ”Dulu prestasi mahasiswa menyumbang 30 persen dari total penilaian,” ucap Yusuf.

Oleh karenanya, dia berharap porsi penilaian sebesar 30 persen bisa dikembalikan seperti semula. Dia beralasan, perlunya porsi besar untuk prestasi mahasiswa dalam perankingan karena output terbesar kampus adalah mahasiswa.

Meski mahasiswa digenjot agar bisa meraih prestasi, tentunya UB memberikan apresiasi bagi mahasiswa yang berhasil meraih juara. Mulai dari penghargaan berupa uang maupun hadiah dalam bidang akademik. UB sendiri sejak awal kegiatan PKM hingga pimnas sudah melakukan pendampingan yang ketat. Utamanya untuk 175 judul PKM yang dinyatakan lolos. ”Terbanyak dari fakultas teknologi pertanian (FTP) dengan tujuh tim,” ujar Nuhfil.

Berbeda dengan UB yang turun peringkat dari peringkat tahun sebelumnya, yakni peringkat delapan, Universitas Negeri Malang (UM) naik satu peringkat dari tahun lalu. Dulu di posisi ke-15, sekarang naik menjadi posisi 14. Kabar gembira ini, oleh rektor beserta jajarannya dijadikan kesempatan untuk menaikkan peringkat lewat gelaran pimnas. Meskipun tim yang diterjunkan lebih sedikit dari tahun lalu. ”Sebenarnya, kami berharap lebih dari itu, paling tidak sama dengan target lalu. Tetapi persaingan di Indonesia tak semakin ringan,” ucap Wakil Rektor 3 UM Dr Syamsul Hadi MPd MEd.

Namun, dia tetap optimis peringkat UM akan menanjak. Sebab, sebelumnya UM sudah meraih juara umum di ajang MTQ Nasional 2018. Ini pun masih dibantu deretan prestasi lain dari mahasiswanya. Seperti submit paper dan konferensi internasional.

Tak ingin membuang kesempatan emas, UM juga menyiapkan pendanaan penelitian untuk 2019. ”Mahasiswa diminta submit penelitian mereka di masing-masing fakultas hingga Oktober, agar bisa disiapkan tim untuk berlaga di tahun 2019,” tambah Syamsul. Selain UB dan UM, kampus di Kota Malang yang berlaga di pimnas, yakni Institut Teknologi Nasional (ITN), Politeknik Negeri Malang (Polinema), Universitas Muhammadiyah  Malang (UMM), Universitas Merdeka (Unmer), dan STIE Malang Kucecwara atau ABM. Masing-masing kampus ini mengirimkan satu tim. (san/c1/riq)