Perguruan Tinggi Harus Siap Hadapi Perubahan Pola Pengajaran

Perguruan Tinggi Harus Siap Hadapi Perubahan Pola Pengajaran

“Saya khawatir, perguruan-perguruan tinggi di Indonesia belum mempersiapkan itu,” kata Rizal, Sabtu, (24/2).

Hal yang paling penting mempersiapkan diri terhadap perubahan-perubahan pola pengajaran yang kemungkinan memang akan terjadi di dunia pendidikan. Apalagi dunia pendidikan Indonesia masih terkekang sistem yang belum menampung perubahan.

Rizal memperkirakan, konsep kelas tatap muka yang sudah bertahan di dalam dunia pendidikan Indonesia selama ini mengalami kepunahan. Saat itu, ia berpendapat hanya perguruan-perguruan tinggi yang fleksibel dan adaptif yang bertahan.

“Walaupun universitas-universitas itu kecil, tapi mengadaptasi sistem online-online itu, mata kuliahnya sudah berbasis proyek,” ujar Rizal.

Artinya, tidak lagi mengandalkan berapa ratus satuan kredit semester (SKS) yang harus didapat, berapa puluh kuliah yang harus diikuti.

Menurut Rizal, sistem yang sampai saat ini masih diadopsi di Indonesia itu mengekang pendidik-pendidik sendiri.

Rizal memperkirakan, bisa jadi di masa depan sistem pendidikan yang akan diadopsi justru yang berbasis personalita. Sehingga anak-anak yang menuntut ilmu itu fokus mempelajari minat-minat mereka sendiri.

“Kalau sekarang, misal kita mahasiswa Teknik Elektro, pasti ada mata-mata kuliah yang wajib diikuti, padahal personalize kita masing-masing berbeda,” terang Rizal.

Mengutip materi studi McKinsey yang disampaikan Mensesneg, Pratikno, ia mengingatkan jika di masa yang akan datang akan ada 52,6 juta jenis pekerjaan yang hilang.

Sedangkan, hanya ada 3,7 juta pekerjaan yang muncul pada Revolusi Industri 4.0 pada masa mendatang.


(met/JPC)