Pergantian Tahun Diramaikan Hawaiian Party hingga Atraksi Api

KEMERIAHAN malam pergantian tahun di Kabupaten Pati sudah terasa sejak siang. Beberapa titik jalan sudah ditutup, panggung-panggung hiburan didirikan. Seperti di Perempatan Lawet, Rogowongso, dan Alun-alun Simpang 5 Pati.

Namun ada kemeriahan berbeda yang digelar di Safin Hotel. Perayaan pergantian tahun menyuguhkan pesta dengan nuansa pantai bertajuk ”Hawaiian Night Party”. Pesta yang baru kali pertama digelar ini, menarik perhatian masyarakat luar.

General Manager The Safin Hotel Agus Sunarto menuturkan, ada sekitar 250 peserta dalam acara ini. Kebanyakan tamu hotel. ”Mereka yang menginap, memanfaatkan fasilitas hiburan di malam pergantian tahun ini,” terangnya.


Pesta yang menyuguhkan puluhan menu makan malam ini, menyita perhatian peserta pesta. Salah satunya Dina. Peserta pesta asal Jakarta ini, mengaku tertarik mongolian food. Tak heran, menu yang satu ini pun menjadi serbuan para peserta pesta. ”Penasaran aja dengan masakan ini. Sebab, sebelumnya belum pernah merasakan,” katanya singkat.

Iis, peserta pesta asal Pati mengungkapkan, memilih malam tahun baruan di hotel ini, agar mendapat nuansa berbeda. ”Bosan dengan pesta-pesta di luar. Pengen yang nyaman, dan santai,” terang perempuan asal Wedarijaksa ini.

Nuansa pesta ini memang santai dan mengutamakan kenyamanan peserta. Ballroom sebagai tempat pesta yang biasanya dijadikan tempat meeting, tadi malam disulap menjadi nuansa yang santai. Pernak-pernik ala pantai disuguhkan. Bahkan, di dekat panggung hiburan diberi hiasan dengan pasir pantai. Tak lupa stand-stand menu makanan dihias seperti gubuk-gubuk di pantai. Peserta menggunakan pakaian ala pantai.

Musik yang disuguhkan pun mengalunkan lagu-lagu dengan nuansa rileks. Selain masakan luar negeri, parta peserta pesta juga disuguhi kuliner lokal, seperti nasi gandul, soto kemiri, dan es kopyor. Pesta berlangsung hingga tengah malam. Dengan ending pesta kembang api di lantai 11, puncak tertinggi Safin Hotel.

Suasana berbeda terlihat di Kudus. Bupati Kudus Musthofa merayakan tahun baru dengan istighotsah di pendapa dengan mengundang berbagai unsur. Bupati Kudus Musthofa mengatakan, pihaknya ingin melakukan peringatan tahun baru sesuai dengan kultur Kudus yang religius.

Dirinya meminta semua organisasi perangkat daerah (OPD) dan masyarakat untuk instropeksi diri dalam peringatan tahun baru ini. Diharapkan ada evaluasi dan mampu meningkatkan kinerja dan partisipasi dalam pembangunan pada 2018.

Sementara di Simpang 7 Kudus tak begitu ramai hingga pukul 21.00 tadi malam. Tak ada suara kembang api. Suara terompet pun sepi. Sebab, memang tak ada acara. Beberapa para jomblo terlihat duduk dan mengobrol di pinggir jalan.

Jawa Pos Radar Kudus turut nimbrung bersama mereka. Pembahasannya menarik. Soal status jomblo, pekerjaan, hingga tidak ada hiburan saat tahun baru. ”Iya, tahun ini sepi. Biasanya ada konser. Sekarang sepi,” ujar Yayang, salah satu pemuda yang nongkrong di Alun-alun Kudus.

Tak kalah seru, Yani, salah satu di antaranya mengaku sengaja menghabiskan malam pergantian tahun bersama teman perempuannya. Alasannya karena berstatus  jomblo. ”Eh, kita-kita ini bukannya jomblo ya. Tetapi single. Sebab sendiri itu pilihan, bukan nasib,” katanya membuat seluruh anggota jomblowatini tertawa. ”Tahun ini sepi. Kalau ada panggungnya pasti ramai. Minimal ada penyanyi lokallah,” ujarnyua.

Saat keseruan para jomblo belum usai, datang dua bocah kecil membawa gitar. Keduanya masih sekolah. Baru kelas enam SD. Usianya sekitar 12 tahun. ”Sayang opo kowe krungu jeritene atiku. Mengharap engkau kembali….” begitulah lagu yang mereka nyanyikan. Beberapa jomblowati mengabadikan melalui ponsel.

Di kawasan GOR Bung Karno Wergu Wetan, Kudus, justru terlihat lebih ramai. Terutama di Balai Jagong, meski tak ada acara khusus. Suara tiupan terompet juga terdengar di mana-mana. Banyak muda mudi dan para orang tua yang mengajak anaknya. Semakin malam semakin tambah ramai.

Muhammad Falik, 22, warga Desa Jepang, Mejobo, Kudus, merayakan tahun baru di GOR bersama teman-temannya. ”Malam ini ramai sekali,” kata pria yang mengaku saat malam Minggu sering nongkrong di tempat yang sama.

Hal serupa diungkapkan Noor Jannah, 38. ”Saya pangling dengan taman ini. Ternyata bagus juga, cocok buat ngumpul keluarga. Terutama saat malam tahun baru ini,” ujarnya warga asal Kecamatan Gebog ini.

Di Jepara, dua panggung hiburan disediakan Pemkab Jepara dalam perayaan Tahun Baru 2018 tadi malam. Yakni di alun-alun dan area parkir Shoping Center Jepara (SCJ). Ratusan masyarakat berbondong-bondong meramaikan.

Berbagai aliran kelompok musik memeriahkan malam pergantian tahun. Mulai dari pop, reggae, rock, alternatif, hingga kelompok musik daerah. Sebagai pembuka Band Polres Jepara. Dilanjutkan The Steller Band, Band D’met, JS Rock, Berteriak Lantang, dan Angin Topan. Ditutup penampilan kelompok musik khas Jepara Bramasta Perkusi.

Sedangkan di area parkir SCJ ada pergelaran wayang kulit. Ratusan warga juga antusias menyaksikan. Mulai dari anak-anak sampai dewasa. Bahkan, banyak pengunjung yang tak mendapatkan tempat duduk pada wayang yang didalangi Ki Hadi Purwanto ini. Dia membawakan lakon pewayangan ”Semar Mbangun Jati Diri”.

Selain panggung hiburan, pemkab juga menggelar malam keakraban di Pendapa Kabupaten Jepara. Acara yang juga launching program kesehatan gratis kelas III ini, dihadiri dalam acara ini, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, forkopimda, kepala organisasi perangkat daerah (OPD).

Sementara di Blora, sejumlah jalan steril dari kendaraan. Tujuannya untuk tahun baruan. Seperti di Jalan Pemuda hingga Blok T. Hanya ada PKL dan pejalan kaki yang menikmati hiburan dari panggung ke panggung.

Pukul 21.00 ribuan pengunjung sudah padat. Mulai yang berdiri hingga yang menggelar karpet di tengah jalan untuk bisa menyaksikan malam pergantian tahun. Mulai dari tiduran, ngobrol hingga berjoget ria bersama alunan musik di setiap panggung. Ada seumlah band, seperti Cadensa, No Win, Atap Band, dan OAM Band. Juga ada keroncong, tembang kenanangan, seni barongan, tari-tarian, tayub, hingga komunitas mahasiswa Blora.

Rahayu, 23, mengaku sengaja membawa karpet untuk menikmati pergantian tahun baru di alun-alun. Sambil menikmati camilan dan dendangan lagu. ”Kalau perlu setiap malam ada seperti ini. Apalagi ada pacar di sampingku, tambah gimana gitu,” ucapnya sambil tertawa.

Di Rembang, meski hujan rintik-rintik mengguyur tadi malam, masyarakat cukup terhibur dengan penampilan kesenian barongan di sisi utara alun-alun. Yang paling jadi perhatian, pemainnya menunjukkan kemampuannya bermain api.

Beberapa kali mereka meminum minyak tanah tapi tak menenggaknya. Tangan kanannya memegang tongkat yang ada nyala api. Kemudian disemburkan. Sehingga menimbulkan kobaran api yang besar.

Hiburan lain juga di gelar di beberapa desa. Di antaranya di Sanggar Bekti Laras, Desa Turusgede, Rembang. Beberapa seniman berkumul di sanggar tersebut menggelar karawitan menyambut pergantian tahun. (aua/lis/mal/ela/war/sub/lid/lin)

 

 

(ks/lin/aji/JPR)