Percayalah, Rusia Tidak Tertarik Kembali ke G7

Cerita Dubes Lyudmila soal Pengalaman Rusia Pindah Ibu Kota - JPNN.com

Kamis, 05 September 2019 – 07:48 WIB

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva menyampaikan taklimat media di Jakarta, Rabu (4/9/2019). Foto: ANTARA/Yashinta Difa

jpnn.com, JAKARTA – Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva menyatakan negaranya tidak tertarik untuk kembali bergabung dalam Kelompok Tujuh (G7).

Menurut Lyudmila, Rusia tidak pernah meminta atau mengusulkan diri untuk kembali bergabung bersama G7, yang semula disebut Kelompok Delapan (G8) sebelum keanggotaan Rusia dihentikan pada 2014 akibat pecahnya krisis Ukraina.

“Kami tidak lagi tertarik dengan format ini. Menurut kami, banyak format lain yang lebih relevan, misalnya G20 untuk (membahas) isu-isu global,” kata Lyudmila dalam taklimat media di Jakarta, Rabu.

BACA JUGA: Cerita Dubes Lyudmila soal Pengalaman Rusia Pindah Ibu Kota

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendukung kembalinya Rusia ke kelompok negara termaju dunia itu dan menyalahkan pendahulunya atas dikeluarkannya Rusia dari G8.

Agustus lalu, Trump menyatakan bahwa kelompok tersebut seharusnya bernama G8 karena banyak hal yang dibicarakan berhubungan dengan Rusia.

Trump mengatakan bahwa G7 yang beranggotakan Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Britania Raya, dan AS, memiliki “dunia untuk dijalankan,” dan Rusia harus berada di meja perundingan.

Menanggapi pernyataan Trump, Dubes Lyudmila menegaskan bahwa Rusia tidak akan kembali bergabung dengan G7, meskipun ia mensyukuri bahwa “saat ini akal sehat mulai berjalan”.

“Pembahasan selama pertemuan G7 hanya menyoroti bahwa banyak masalah global yang tidak dapat diselesaikan tanpa partisipasi Rusia. Pembicaraan mengenai Rusia yang terisolasi dan sanksi yang diberlakukan kepada Rusia, semuanya sia-sia,” kata Lyudmila.

Rusia dikeluarkan oleh mayoritas negara anggota G8 karena dianggap mencaplok Semenanjung Krimea dari Ukraina, yang merupakan pelanggaran pertama terhadap kesepakatan perbatasan negara Eropa sejak Perang Dunia II. (Yashinta Difa Pramudyani/ant/dil/jpnn)

BERITA LAINNYA INDEKS BERITA