Perbedaan Mencolok Akhlak Mukminun dan Munafikun

Spirit Qolbu AA Gym

Orang yang beriman dan orang yang munafik mempunyai banyak perbedaan. Orang beriman selalu mengutamakan Allah, sedangkan orang munafik selalu mengesampingkan Allah. Berikut penjabarannya tentang idealnya akhlak kita pada Allah SWT.

Kepada Allah SWT kita patut banyak berdoa. Mudah-mudahan Allah Yang Maha Mengetahui siapa diri kita sebenarnya menolong kita agar dapat mengetahui kekurangan yang harus diperbaiki, memberitahu jalan yang harus ditempuh, dan memberikan karunia semangat terus-menerus sehingga kita tidak dikalahkan oleh kemalasan, kebosanan, serta hawa nafsu.

Mudah-mudahan warisan terbaik kita kepada keluarga, keturunan, dan lingkungan adalah akhlak kita. Karena ternyata keislaman seseorang tidak diukur oleh luasnya ilmu. Keimanan seseorang tidak diukur oleh hebatnya pembicaraan. Kedudukan di sisi Allah tidak juga diukur oleh kekuatan ibadahnya semata.

Tapi, semua kemuliaan seorang yang paling benar Islamnya, yang paling baik imannya, yang paling dicintai oleh Allah, yang paling tinggi kedudukannya dalam pandangan Allah, dan yang akan menemani Rasulullah SAW ternyata sangat khas. Yakni, orang yang paling mulia akhlaknya.

Walhasil, sehebat apapun pengetahuan dan amal kita, sebanyak apapun harta kita, setinggi apapun kedudukan kita, jikalau akhlaknya rusak, maka hal-hal mewah itu tidak bernilai. Kadang kita terpesona pada topeng duniawi, tapi setelah tahu akhlaknya buruk, pesona tersebut akan pudar.



Rasulullah SAW diutus kedunia ini untuk menyempurnakan akhlak. Hal ini dinyatakan sendiri oleh beliau ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat.

”Mengapa engkau diutus ke dunia ini, ya Rasul?” Rasul menjawab, ”Innama buitsu liutamimma makarimal akhlak,” Terjemahannya adalah sesungguhnya aku diutus ke dunia hanyalah utnuk menyempurnakan akhlak.

Sayangnya, kalau kita mendengar kata akhlak seakan fokus pikiran kita hanya terbentuk pada senyuman dan keramahan. Padahal, maksud akhlak jauh melampaui sekadar senyuman dan keramahan. Karenanya, penjabaran akhlak dalam perilaku sehari-hari bukanlah suatu hal yang terpecah-pecah. Semua terintegrasi dalam satu kesatuan utuh, termasuk bagian akhlak kita kepada Allah.

Akhlak kita kepada Allah SWT harus dipastikan benar-benar bersih. Orang yang menjaga akhlaknya kepada Allah, hatinya benar-benar putih seperti putihnya air susu yang tidak pernah tercampuri apa pun. Bersih keyakinannya, tidak ada sekutu lain selain Allah.

Bagaimanakah sifat munafikun (orang-orang munafik) itu? Imam Al Ghazali menuturkan ucapan Imam Hatim Al Ashom tentang seorang ulama saleh ketika mengupas perbedaan antara orang mukmin dengan orang munafik.

”Seorang mukmin senantiasa disibukkan dengan bertafakur, merenung, mengambil pelajaran dari aneka kejadian apa pun di muka bumi ini. Sementara orang munafik disibukkan dengan ketamakan dan angan-angan kosong terhadap dunia ini.” begitulah kata sang imam.

Mukminun (orang-orang yang beriman) berputus asa dari siapa saja dan kepada siapa saja kecuali hanya kepada Allah. Sementara orang munafik mengharap dari siapa saja kecuali dari mengharap kepada Allah SWT. Seorang mukmin merasa aman, tidak gentar, tidak takut oleh ancaman siapa pun kecuali hanya takut kepada Allah. Di lain pihak, orang munafik justru takut kepada siapa saja kecuali kepada Allah. Naudzubillaah.

Seorang mukmin menawarkan hartanya demi mempertahankan agamanya, sementara orang munafik menawarkan agamanya demi mempertahankan hartanya. Naudzubillah. Seorang mukmin menangis karena malunya kepada Allah meskipun dia berbuat kebajikan, sementara orang munafik tetap tertawa meskipun dia berbuat keburukan.

Sahabat, tampak demikian jauh berbeda akhlak antara seorang mukmin dengan munafik. Oleh karenanya, kita harus benar-benar berusaha menjauhi perilaku-perilaku munafik. Kita harus benar-benar mencegah diri kita untuk meyakini adanya penguasa yang menandingi kebesaran dan keagungan Allah.

Oleh: AA Gym
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Grafis: Andhi Wira