Peran Ikatemi Batu dalam Membantu Sembuhkan Pasien

Menjadi petugas elektromedis tak ubahnya profesi perawat dan dokter yang sangat berisiko. Di Kota Batu, hanya ada lima tenaga elektromedis yang menangani permasalahan alat-alat medis di seluruh rumah sakit dan puskesmas. Mereka tergabung dalam suatu organisasi yang diketuai Nanang Puji Yuwono.

Nanang Puji Yuwono, ketua DPC Ikatemi Kota Batu, di sela-sela menjalankan tugas dalam pelatihan di Balai Kota Among Tani, Sabtu (8/4).

MUNGKIN belum banyak orang yang tahu profesi ini. Risikonya tinggi. Tiap hari harus bergulat dengan berbagai penyakit dan virus berbahaya. Terkadang, nyawa sendiri jadi taruhannya. Namun, ketepatan dan kesigapannya bisa menolong orang banyak.

Ya, profesi itu adalah tenaga elektromedis. Tugas pokoknya, mengoperasikan, merawat, membersihkan, dan memperbaiki peralatan medis rumah sakit dan puskesmas. Di Kota Batu, profesi tersebut punya organisasi, yaitu Ikatan Elektromedis Indonesia (Ikatemi) yang diketuai Nanang Puji Yuwono.

Saat itemui di sela-sela acara pelatihan elektromedis yang diselenggarakan Dewan Pengurus Cabang (DPC) Ikatemi Kota Batu, di Gedung Pancasila, Balai Kota Among Tani, Sabtu (8/4), Nanang bercerita bahwa DPC Ikatemi Kota Batu baru didirikan pada 2016 lalu.

Sebelumnya, masih bergabung dengan Ikatemi Kota Malang. ”Kami berdiri sendiri agar lebih maksimal jalankan tugas di daerah,” kata Nanang kepada Jawa Pos Radar Batu.

Di kota dingin ini sendiri, tenaga elektromedis masih minim. Hanya 5 tenaga elektromedis yang bergabung di Ikatemi Kota Batu, termasuk Nanang.



Jumlah itu jauh dari kebutuhan ideal, mengingat, di Kota Batu setidaknya ada 5 puskesmas dan 4 rumah sakit. Sehingga, dia dan anggotanya harus bekerja ekstra dalam menjalankan tugasnya tiap hari.

Misalnya, pada pelatihan tersebut, hanya dia dan satu anggotanya yang datang, karena tiga orang lainnya harus menjalankan tugas. ”Idealnya ada puluhan orang (tenaga elektromedis) di Batu. Makanya kami harus riwa-riwi karena banyaknya permintaan bantuan, baik dari rumah sakit maupun puskesmas di Batu,” terang pria kelahiran Kabupaten Jombang ini.

Profesi pria kelahiran 24 Juni 1981 dan empat orang anggotanya itu punya risiko besar. Lantaran, mereka selalu berada dalam satu lingkungan dengan peralatan medis.

Alat-alat ini langsung bersentuhan langsung dengan pasien. Sehingga, potensi penularan penyakit, baik melalui virus maupun cairan tubuh, cukup tinggi. ”Kalau tidak hati-hati dan terstandar (dengan alat pelindung diri lengkap, Red), risiko tertularnya tinggi,” ungkap dia.

Dia dan anggotanya pernah membersihkan alat medis bernama nebulizer. Alat itu untuk mengangkat lendir yang ada di saluran pernapasan pasien. Sehingga, setelah digunakan, alat tersebut harus dibersihkan dan dirawat supaya bisa digunakan kembali oleh pasien yang lain.

Ya, dia dan empat anggota timnya yang membersihkan. ”Bisa dibayangkan, berapa banyak lendir yang harus kami buang. Jijik memang, tapi itulah tugas kami,” beber pria yang juga pegawai Dinas Kesehatan Kota Batu ini.

Di samping risiko tersebut, Nanang dan empat orang anggotanya bertanggung jawab dalam hal pengamanan arus listrik. Sebab, hampir semua peralatan medis saat ini menggunakan tenaga listrik. ”Perhitungan kami harus tepat. Selain aman untuk pasien, juga aman bagi petugas (dia dan anggotanya),” ujarnya.

Nanang sendiri memilih profesi tenaga elektromedis karena dirasa persaingan dalam dunia kerja tak sesengit profesi di bidang teknik lain atau umum. Sehingga, saat lulus dari SMAN 1 Jombang, beberapa tahun lalu, Nanang mantap kuliah di Jurusan Elektromedis Poltekes Surabaya. ”Setelah lulus SMA, pilihan saya hanya dua, jadi tenaga teknik mesin biasa atau tenaga elektromedis,” kenang pria yang tinggal di Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo tersebut.

Ke depan, dia dan anggotanya akan tetap konsisten menjalankan tugasnya sebagai tenaga elektromedis. Lantaran, tugasnya bisa membantu dan bahkan menolong nyawa seorang pasien. ”Harapannya juga ada lagi yang jadi tenaga elektromedis di sini,” harap pria bergelar ahli madya teknik elektromedis ini.

Pewarta: Farik Fajarwati
Penyunting: Imam Nasrodin
Foto: Rubianto