Penyerang Sopir Bus yang Kecelakaan di Tol Cipali Menderita Neurotik

JawaPos.com – Polisi mengungkap fakta baru terkait kecelakaan di Tol Cipali KM 150 yang menewaskan 12 orang. Yaitu, tersangka bernama Ansor, 29, yang menyerang sopir bus disebut menderita gejala kecemasan tinggi? dan paranoid serta gangguan neurotik. Penegasan ini berdasarkan hasil pemeriksaan atau diagnosa tim ahli psikolog.

Kapolres Majalengka AKBP Mariyono. Pihaknya mengatakan diagnosa tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan oleh tim ahli psikolog, tersangka inisial A tersebut mengidap paranoid tertentu dengan tingkat halusinasi yang tinggi.

“Menurut ahli psikolog yang telah memeriksa tersangka, dalam imajinasi tersangka itu, ia telah mendengar si sopir bus akan membunuhnya,” ungkapnya, saat konfrensi pers di halaman Satreskrim Polres Majalengka, Jumat (21/6/2019) seperti dikutip dari PojokJabar.com (Jawa Pos Group), Sabtu (22/6).

Kapolres menambahkan ?gangguan jiwa dan paranoid melekat pada tersangka. Yang bersangkutan juga memiliki tingkat kecemasan yang tinggi. Sehingga dalam memory-nya itu, tersangka selalu ada bayang-bayang yang mengawasinya.

“Inisial A ini selalu merasa diawasi oleh seseorang. sopir yang dilihatnya ditangkap oleh bayangannya bahwa sopir membicarakan dirinya, dan berencana akan membunuh dirinya. Pada tingkat kecemasannya yang meninggi itu, pelaku langsung menyerang sopir, yang mengakibatkan bus tersebut oleng dan menabrak mobil lainnya,” ungkapnya.

Kapolres melanjutkan, ketika pemeriksaan itu, tersangka inisial A menceritakan suara telpon dari sopir bus yang mengatakan dalam bahasa Jawa bahwa sopir dan kondektur akan membunuhnya. Kondisi tersangka saat itu yakni duduk diantara sopir dan kondektur yakni di tengah.

“Kecurigaan tersangka semakin membuatnya cemas. Sehingga kecemasannya itu, membuatnya bertindak spontan yakni menyerang sopir,” ungkapnya.

Tingkat kecemasannya dimulai dari ?ketika Amsor naik di terminal Rambutan, namun tempat duduknya sempat dipindah. ?Tersangka pada saat itu semakin cemas, karena dirinya mulai merasa ada rencana pembunuhan dirinya. Kini tersangka diancam Pasal 338 dan 359 KUHPidana dengan ancaman 12 dan 5 tahun penjara.