Penyaluran Bantuan oleh Radar Malang-MCI ke Lombok (2)

HARI kedua di Lombok kemarin (13/8), tim penyalur bantuan dari Radar Malang-Malang Care Indonesia (MCI) langsung membaur dengan warga korban gempa. Berbagai masalah ditanggulanginya. Apa saja?

KETIKA tim penyalur bantuan dari Radar Malang-MCI tiba di Posko Utama Tanjung, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, puluhan bocah korban gempa berlari mendekat. Sebelum ditanya, para bocah itu sudah bercerita tentang kondisi yang dialaminya. Tim beranggotakan 12 orang dengan berbagai keahlian itu langsung menyebar, mengobati warga korban gempa yang membutuhkan perawatan.

Pemerintah Lombok utara memang membuka akses seluas-luasnya bagi relawan yang mengabdikan diri untuk korban gempa. ”Saat rapat dengan tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pusat Krisis Nasional, kami diberikan opsi pengabdian,” ujar Ketua Tim MCI dr Canggih Sakina Hans SH MBA, kemarin.

Ada beberapa masalah yang dirilis Pusat Krisis Nasional (PKN) Kemenkopolhukam dan BNPB. Mulai ekonomi, sosial, kesehatan, trauma healing, hingga transportasi.

Canggih mematok target tinggi dalam penyaluran bantuan sekaligus memberikan pengobatan tersebut. Dia yakin timnya mampu meng-cover semua permasalahan karena berlatar belakang dari berbagai bidang keahlian. Ada yang bekerja sebagai guru, ada yang bekerja di dunia entertainment seperti Rizky Boncell, vlogger ternama Malang. Ada juga apoteker, dan tenaga pendidik lainnya.

Berdasarkan pantauan wartawan koran ini yang juga tergabung dalam tim, Canggih terus mengevaluasi keadaan pasien. Misalnya saat menengok bangsal anak-anak, tim langsung terbagi otomatis. Ada yang bertugas menghibur anak-anak, melihat pasien, dan menyalurkan bantuan ke dalam bangsal.

”Masih terasa sakit atau tidak? Di sini butuh obat?” tanya Canggih pada tujuh pasien anak-anak yang diperiksa di bangsal.

Tidak hanya di posko utama RSUD, di posko Yon Kostrad 2 Malang, Canggih dan tim juga bekerja sesuai bidang mereka. Beberapa pasien dewasa dicek oleh Canggih dan tim dalam waktu bersamaan. ”Kalau tersistem dan bisa dikumpulkan dalam satu ruang, waktunya jauh lebih hemat,” jelas Canggih.

Selain mengobati korban gempa, Canggih dan tim juga membantu relawan serta prajurit TNI yang bertugas. ”Mereka kami ajak ngobrol. Mungkin ada keluhan kesehatan yang bisa kami bantu,” kata dokter berusia 32 tahun itu.

Dia juga membuka ruang curhat bagi korban gempa, relawan, maupun prajurit TNI yang bertugas. ”Kalau curhat, orang lebih lega dan bisa kembali segar saat beraktivitas,” kata Canggih.

Selama sehari saja, posko dadakan di gubuk samping lapangan posko KLU itu hampir penuh dengan canda tawa dan keluhan kesehatan para perwira. Misalnya, salah satu anggota Kesdam IX/Udayana, Sahid, mengeluh pencernaannya bermasalah. Tim MCI langsung memberikan penanganan dan pengaturan pola makan yang baik.

Pewarta: Sandra Desi Caesaria
Editor: Amalia
Penyunting: Mahmudan