Penuhi Nazar, Maskot Arema Jalan Kaki 8 Jam

MALANG KOTA – Kukuh Sunyoto, pria di balik maskot singa yang selama ini mewarnai pertandingan-pertandingan Arema FC, punya cara berbeda untuk merayakan juara Piala Presiden 2019. Kamis (18/4), Kukuh berjalan kaki dari rumahnya di Desa Slorok, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, menuju Kandang Singa (nama kantor Arema FC) di Jalan Mayjen Panjaitan Nomor 42, Kota Malang.

Sebelumnya, Kukuh memang sudah punya nazar bakal jalan kaki bila Arema FC berhasil mengangkat trofi. ”Saya buat nazar itu saat Arema memastikan diri lolos ke final,” kata dia.

Rencana semula, Kukuh berjalan kaki dari rumahnya ke Stadion Kanjuruhan. ”Sama Jayus (Hariono) dibilang terlalu dekat, akhirnya saya memberanikan diri untuk bisa sampai sini,” kata dia, lalu tertawa.

Saat keberangkatan Kamis pagi (18/4), sekitar pukul 07.00, Jayus pulalah yang melepas Kukuh. Selama ini, Kukuh memang dekat dengan gelandang bertahan bernomor punggung 14 itu.

Dia mengungkapkan, tak mudah berjalan kaki dari Slorok ke Kota Malang. Apalagi, Kukuh berjalan dengan memakai kostum kebesarannya: maskot singa.

”Tadi (kemarin) sempat istirahat tiga kali, yang berat itu karena panas dan kekurangan oksigen karena pakai topeng,” kata Kukuh.

Namun, itu tidak menjadi kendala. Sebab, malam hari sebelum perjalanan sudah melakukan persiapan sederhana. ”Minum STMJ (susu, telur, madu, jahe) saja,” ujar dia, lalu tersenyum.

Meski melelahkan, Kukuh bangga bisa melakukan ini. Sebab, inilah cara yang bisa dilakukan untuk mensyukuri keberhasilan Arema FC meraih juara. Terlebih, Arema FC meraih juara usai mengalahkan rival beratnya, Persebaya, di final.

”Kemarin itu menurut saya pertandingan yang spesial. Jadi kebanggaan dan harga diri karena rivalitas dengan Persebaya,” ungkap Kukuh.

Lebih lanjut, Kukuh menyatakan bahwa apa yang dia lakukan bukan untuk mencari sensasi. ”Ya mohon digarisbawahi, saya tidak pernah mencari ketenaran atau sensasi,” tegas dia.

Pewarta               : Aris Dwi Kuncoro
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Indra Mufarendra
Fotografer          : Aris Dwi Kuncoro