Penting! Sosialisasi dan Edukasi Soal Gempa Hindari Kepanikan Warga

Ternyata Ini Penyebab Jakarta Rentan Terkena Efek Gempa

 

Ahli struktur bangunan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Iwan Suprijanto mengungkapkan bahwa bangunan bertingkat, terutama yang ada di kota-kota besar seperti di DKI Jakarta seharusnya sudah didisain tahan terhadap gempa sesuai zona yang berlaku.

Iwan yang juga menjabat Direktur Bina Penataan Bangunan Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR mengatakan, struktur bangunan teknis biasanya sudah memperhitungkan 2 sampai 2,5 kali zona gempa.

“Penghuni bangunan bertingkat di DKI Jakarta, apalagi bertingkat banyak tidak perlu khawatir meskipun bangunan tersebut bergoyang saat terjadi gempa,” ujar Iwan dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (26/1).

Iwan mengingatkan sifat struktur beton yang fleksibel membuat bangunan bergoyang, justru hal tersebut aman karena bangunan tersebut mengikuti arah gempa.

“Yang dikhawatirkan justru interior bangunan seperti lampu, hiasan gantung, yang luput memperhitungkan zona gempa,” imbuhnya.

Menurutnya, saat ini banyak inovasi konstruksi tahan gempa baik yang dikembangkan swasta maupun Litbang Bangunan Kementerian PUPR yang teruji baik dari segi kekuatan maupun nilai ekonomisnya.

Salah satunya yang sudah banyak diadopsi di Provinsi Sumatra Barat dan Aceh adalah Konstruksi Sarang Laba-Laba yang patennya dipegang PT Katama Suryabumi. Konstruksi karya anak bangsa ini bahkan sudah dikembangkan untuk penggunaan lapangan udara.

Apapun konstruksi yang akan dipilih untuk daerah gempa, kata Iwan, penting untuk melakukan perkuatan tanah serta memperhatikan perkuatan pada struktur bangunan di atasnya.

Iwan mengaku investasi awal untuk bangunan tahan gempa memang sedikit lebih mahal, dibandingkan bangunan konvensional, akan tetapi juga harus dilihat pemeliharaan jangka panjang. “Kalau semua itu diperhitungkan konstruksi tahan gempa justru lebih murah,” pungkasnya.


(nas/JPC)