Penonton Sepi, Jeblok Prestasi, Ini Musim Terburuk Arema….

Inilah musim terburuk Arema FC. Setidaknya, dalam lima tahun belakangan, hampir sepanjang musim, Arema FC lebih banyak berkutat di papan tengah klasemen Liga 1. Jebloknya prestasi itu juga berbanding lurus dengan jumlah penonton yang datang ke stadion. Ada apa dengan Arema FC?

Raut wajah General Manager Arema FC Ruddy Widodo terlihat pasrah ketika berbicara soal prospek laga kandang terakhir Arema FC di Liga 1. Bukan soal apakah Arema FC bisa menang atau tidak. Tetapi, lebih pada berapa penonton yang bisa datang ke Stadion Kanjuruhan.

Malam nanti, Arema FC bakal menghadapi Semen Padang. Meski Semen Padang merupakan tim besar dan memiliki beberapa pemain bintang, tapi laga itu mungkin tak begitu menarik. Setidaknya bagi Aremania.

Sebab, meskipun meraih kemenangan, Arema FC sudah tidak mungkin menembus papan atas. Dengan dua laga tersisa, target realistis bagi Arema FC adalah finis di peringkat delapan klasemen Liga 1.

Tentu, ini sebuah penurunan bagi Arema FC. Bandingkan dengan prestasi Arema FC (dulu bernama Arema Cronus) pada Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 lalu. Pada ajang pengganti liga itu, Arema FC finis di peringkat dua klasemen, di bawah sang juara, Persipura Jayapura.

Karena itu, manajemen Arema FC tampaknya pasrah dengan bagaimana situasi di Stadion Kanjuruhan malam nanti (4/11). Apalagi, sepanjang musim ini, tribun yang kosong melompong seolah menjadi pemandangan biasa bagi Arema FC.

Tahun ini, rata-rata suporter yang datang di setiap laga hanya berkisar sembilan ribu orang. Hal ini sudah menurun jika dirata-rata dengan musim lalu yang mencapai 12 ribu suporter. Padahal, stadion yang berada di wilayah Kecamatan Kepanjen itu bisa menampung 40 ribu penonton.

Hanya pada laga-laga tertentu stadion bisa ramai. Di antaranya, saat Arema FC menghadapi Persib Bandung, 12 Agustus lalu. Laga itu disaksikan oleh 28.689 penonton.

Akan tetapi, bila dibandingkan dengan era ISC A, jumlah penonton itu jauh lebih sedikit. Sebab, ketika Arema FC menjamu Persib Bandung, 17 Desember 2016 lalu, ada 43 ribu penonton yang datang ke stadion.

Bagaimana dengan laga lain yang tidak masuk kategori big match? Paling minim adalah laga kontra Persiba Balikpapan, 18 Agustus lalu. Kala itu, hanya ada 1.465 penonton yang datang ke stadion.

Ruddy Widodo menyatakan, prestasi memang ikut memengaruhi motivasi Aremania untuk datang ke stadion. Namun, itu bukan satu-satunya. ”Penyebabnya multifaktor,” kata bapak dua orang anak ini.

Salah satunya, dia menyebut bahwa Liga 1 menjadi kompetisi yang kurang greget. Apalagi, banyak tim-tim baru yang ikut menjadi kontestan Liga 1. Seperti Bhayangkara FC, hingga PS TNI.

Lain halnya bila Liga 1 diisi tim-tim klasik yang kelasnya sama dengan Persib Bandung maupun Persija Jakarta. ”Dulu ada Persebaya atau PSMS Medan. Kalau ada mereka lagi, mungkin akan berbeda,” imbuhnya.

Kebetulan, dua tim yang disebut Ruddy ini memang sedang berjuang di delapan besar Liga 2 untuk bisa lolos ke Liga 1 musim depan. ”Nilai jual klub lawan juga berpengaruh terhadap ramai tidaknya stadion,”  imbuhnya.

Penyebab lain sepinya stadion adalah jaraknya yang jauh dari Kota Malang. Di tengah era digital ini, orang sejatinya tidak perlu datang ke stadion. ”Sekarang semua sudah bisa menonton melalui ponsel,” tambahnya.

Tak ayal, menurunnya jumlah penonton tersebut membuat manajemen Arema FC rugi. Bagaimana tidak, pengeluaran untuk menyelenggarakan pertandingan saja tidak bisa tertutupi oleh penjualan tiket.

Ketua Panitia Pelaksana Arema FC Abdul Haris menjelaskan, untuk menyelenggarakan laga kandang saja, pihaknya harus mengeluarkan uang Rp 150 juta. Itu untuk laga-laga yang tidak masuk kategori big match. Sementara laga big match, biaya operasional bisa mencapai  Rp 250 juta.

Jika jumlah tersebut dihitung, harga tiket seharga Rp 35.000 dan penonton yang hanya 2.000 orang, maka pendapatan dari penjualan tiket hanya berkisar Rp 70 juta. Artinya, kalau stadion hanya diisi 2 ribuan penonton, Arema FC sudah pasti tekor.

Minimnya suporter tersebut juga berpengaruh terhadap manajemen dalam menggaet sponsor. Hal itu diungkapkan oleh Manajer Divisi Bisnis Arema FC Yusrinal Fitriandi beberapa waktu lalu. ”Hal tersebut memang sangat berpengaruh terhadap Arema dalam mencari sponsor,” ungkap Inal, sapaan akrabnya.

Penonton yang minim bisa menjadi cela di mata sponsor. Apalagi, mereka rata-rata punya ekspektasi tinggi terhadap Arema FC. Sebagai tim besar, laga kandang Arema FC harusnya disaksikan paling tidak 20 ribuan penonton.

”Memang minimnya suporter menjadikan bahan pertimbangan bagi pihak sponsor. Mereka kini harus berpikir dua kali untuk mensponsori Arema,” bebernya.

Tentu hal ini ironi. Lantaran, berdasarkan informasi yang didapat, dalam setiap bulan manajemen rata-rata mengeluarkan Rp 1 miliar untuk akomodasi dan gaji pemain. Belum lagi jika harus melakoni laga away ke tempat yang jauh. Misalnya, ke kandang Perseru Serui, Kabupaten Yapen, Papua, biaya untuk perjalanan dan akomodasi bisa sampai Rp 450 juta. 

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy editor: Indah Setyowati
Grafis: Andhi Wira