Penjual Terompet Wonogiri Invasi Bojonegoro Sinergi Jawa Pos

Parman, 56, warga Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, mulai berjualan di Bojonegoro sejak Sabtu (2/12) lalu.

Dia tidak sendirian, ada tiga lagi kawannya yang juga berjualan terompet di sekitar alun-alun.

Tiap orang membawa seribu terompet siap jual. Mulai dari harga Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu untuk terompet buatan sendiri dan ada terompet buatan pabrik seharga Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu.

’’Ada dua jenis terompet, buatan sendiri dan buatan pabrik. Sebab, di tempat asal saya, satu kecamatan merupakan perajin terompet,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai petani.

Sementara itu, dia sudah berjualan di Bojonegoro tiap menjelang tahun baru sejak 2001. Pernah untung maupun rugi. 

Sebab, setidaknya dia mengeluarkan modal membuat terompet sekitar Rp 4 juta. Tiap tahunnya acap kali meraup omzet Rp 5 juta hingga Rp 8 juta.

“Untungnya tidak tentu, kalau bisa terjual semua seribu terompet, kami bisa bawa pulang Rp 8 juta, sebab pembelinya tak hanya umum saja, beberapa juga ada yang kulakan pada kami,” katanya. 

Namun, imbuh dia, pernah merugi ketika jelang tahun baru 2008 akibat bencana banjir yang melanda Bojonegoro.

Rencananya, Parman dan kawan-kawannya akan berjualan hingga awal tahun baru. 

(bj/cho/rka/nas/bet/JPR)