Pengidap Diabetes dan Hipertensi Terus Bertambah

KOTA BATU – Perhatian khusus diberikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu terhadap dua penyakit. Yakni diabetes dan hipertensi. Penanganan serius tengah mereka lakukan pada penyakit tidak menular (PTM) tersebut. Dana tak kurang dari Rp 666 juta, lebih tepatnya Rp 666.531.200, sudah dialokasikan untuk menangani seluruh PTM. Khusus untuk diabetes dan hipertensi, perhatiannya memang lebih intens. Sebab, dari rekapitulasi beberapa tahun terakhir, terlihat bila angkanya cenderung terus meningkat.

Tahun 2017, tercatat ada 2.475 warga yang menderita diabetes. Setahun setelahnya, tepatnya 2018 lalu, jumlahnya meningkat menjadi 3.058 penderita. Hal serupa juga terjadi pada penyakit hipertensi. Tahun 2017 lalu, tercatat ada 7.118 pasien hipertensi. Sementara 2018 lalu angkanya meningkat 10.004 penderita. ”Bahaya PTM adalah tidak ada gejalanya, dan kebanyakan orang menyepelekannya,” terang Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu Yuni Astuti.

Lebih lanjut lagi, PTM biasa disebut sebagai silent killer. Langkah yang bakal digerakkan dinkes lebih banyak berfokus pada pencegahan. Mereka berharap warga punya kesadaran untuk memeriksakannya sejak dini. ”Karena penyakit ini bisa dicegah dan dimodifikasi dengan pola hidup sehat,” tambah Yuni.

Menurut dia, dua penyakit tersebut juga kerap membebani anggaran dari BPJS dan dinkes. Pasalnya, jika sudah terpapar penyakit tersebut, mau tidak mau penderitanya harus melakukan pengobatan seumur hidup. Pembiayaannya pun tidak sedikit.

”Diabetes contohnya, harus minum obat seumur hidup. Atau penyakit jantung yang klaim BPJS terbanyak,” bebernya. Berangkat dari itulah, pengendalian PTM di Kota Batu terus digencarkan. Tahun 2019 ini, dinkes memiliki target 100 persen warga Kota Batu yang berusia mulai 15 hingga 59 tahun setidaknya pernah satu kali diperiksa risiko PTM. ”Ini memang tugas berat, karena sejauh ini masih beberapa persen (warga) yang diperiksa,” sambung Yuni.

Sebenarnya, ada usaha jemput bola dari dinkes untuk mempercepat pencegahannya. Seperti disajikan dalam program pos pembinaan terpadu (bindu) PTM di tiap desa. ”Terbaru, kami sedang melatih guru UKS di sekolah,” sambungnya. Langkah itu dilakukan karena usia remaja juga sudah bisa mengidap penyakit diabetes maupun hipertensi.

Berikutnya, dia menyebut tiga gejala yang bisa dipahami masyakarat terkait diabetes. ”Polidipsi, polifagi, dan poliuri,” terang Yuni. Indikasinya bisa dilihat dari sering munculnya rasa lapar meski sudah makan. Penderitanya juga biasa merasakan haus walaupun banyak minum. Indikasi lain bisa dilihat dari intensitas kencing, yang bisa lebih dari tiga kali pada malam hari.

”Bisa juga terjadi penurunan berat badan tanpa sebab,” tambah dia. Sementara indikasi hipertensi bakal lebih akurat jika dilakukan cek tekanan darah. ”Salah satu gejalanya yang bisa dirasakan seperti berat di kepala bagian belakang,” kata dia.

Terpisah, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko juga berharap warganya menyadari pentingnya pola hidup sehat. ”Pola hidup sehat memang harus disosialisasikan terus. Kita harus bisa me-manage hidup dari segala aspeknya,” jelas Dewanti.

Pewarta               : Mochamad Sadheli
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         : Bayu Mulya