Penggagas Silaturahmi Segera Sastra Launching Antologi COPET SIAL

Fajrus Shiddiq saat deklamasi puisi d acara Silaturahmi Sastra.

KOTA MALANG – Aktif berpuisi sejak nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, wartawan Radar Malang Fajrus Shiddiq akan segera menerbitkan kumpulan puisi.

Sebagai wartawan, tentu banyak pengalaman dalam melihat peristiwa dan realitas di sekelilingnya. Antologi COPET SIAL karya remaja asal Madura itu akan dilaunching bulan April 2019.

radarmalang.id mengintip sejumlah puisi dalam antologi COPET SIAL. Testimoni dari Penyair Nanang Suryadi menyatakan, kumpulan puisi tersebut layak dinikmati para penyair dan pecinta puisi untuk mengetahui bagaimana pengamatan dan perasaan Fajrus Shiddiq yang notabene seorang wartawan, menuliskan sebuah peristiwa dengan bentuk puisi.

”Mari kita nikmati proses Fajrus mengamati dan merasakan peristiwa dari mata batin puisi,” kata Dosen Universitas Brawijaya (UB) itu.

Sama halnya dengan testimoni Ketua Penyair Perempuan Indonesia (PPI) 2018 – sekarang, Kunni Masrohanti. Banyak cerita yang bisa dinikmati dari puisi-puisi Fajrus Shiddiq.



”Romantisme kehidupan bersama orang-orang tercinta, kisah manis masa kanak-kanak, kenangan indah masa sekolah, bahkan kehidupan sosial orang lain, tercatat rapi dalam bait demi bait, menjadi larik-larik indah dalam kumpulan puisi Copet Sial,” kata Redaktur Sastra Riau Pos itu.

Sebagai alumni pesantren, Fajrus Shiddiq sepertinya tidak sekalipun melupakan almamaternya. Hal itu bisa dilihat dari kata pengantar dalam antologi tersebut yang ditulis oleh Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA) Ach Nurholis Majid. Sarjana lulusan Universitas Negeri Malang (UM) itu menuliskan ucapan terima kasih untuk almamaternya di Madura.

Nurholis Majid menyebut Fajrus sebagai penyair ”Anak Tembakau”, melihat sejumlah puisi memang ditulis sejak masih dan saat berada di Madura. Dosen IDIA Al-Amien Prenduan itu menyebut, proses penciptaan puisi oleh Fajrus Shiddiq lumayan panjang, dari tahun 2007 hingga 2018. Meskipun juga Fajrus Shiddiq menulis puisi pada pra-2007.

”Sebelas tahun proses kreatif kepenyairannya menunjukkan bahwa dia konsisten untuk menunaikan tugas penyair dengan memaknai pengalaman. Sehingga puisi-puisi yang dia tulis telah bertransformasi dari bahasa mengalami ke bahasa memaknai,” tutur dosen kelahiran Masalembu itu.

menurutnya, COPET SIAL adalah karya yang menunjukkan kode sosial. Dari judulnya saja, Fajrus Shiddiq dianggap melawan kelaziman dari judul-judul buku puisi yang puitis.

”Menurut Fajrus, copet itu ibarat lakon di ketang latar. Sebagai lakon, dia bisa saja baik bisa juga buruk. Semacam dramaturgi. Berbeda peran antara di depan panggung (front stage) dan di belakangnya. Di depan panggung, bisa jadi dia adalah seorang copet. Tapi di belakang panggung (back stage) bisa saja dia adalah orang yang tengah memperjuangkan hidup keluarganya. Menurut Erving Goffman, di sinilah sebenarnya sisi otentisitas seorang manusia dapat dilihat. Karena semua topeng sudah dilepas.” pungkasnya.

Ini dia sepilihan puisi yang dalam kumpulan puisi COPET SIAL:

LADUNNA
Empat puluh sembilan tikungan harus kupetik
Dua halte harus kusinggahi
Kumulai ini pada satu start bertali
Tiga puluh tiga tikungan dalam dua lap

Dalam laju kumemanggil :
Kukenang namaMu wahai penguasa lantai dan atap yang dihuni campuran debu dan sejenis susu. Pun kau dengar pun kau tahu.
Mengingatkanku pada cerita seorang hamba berbanding ribuan pemijak bumi Kau hujani hidup dari langit dan Kau cetak pada rahang tengkoraknya kitab jendela dunia.

Oktober 2008

PERAHU INI KUBERI NAMA CINTA
Jika kau tolak ini
Entah kemana kan kusebrangi
Perahu yang kubawa dari lubuk hati
Samudera ini kulalui
Penuh ombak dan semakin sepi
Kuakui
Nahkoda telah siap menepi
Di hatimu masih sendiri

Perahu ini kuberi nama cinta
Jika kau tolak ini kan luka
Luka yang lebih perih dari bisa
lebih pedih dari siksa

Bisikkanlah padaku
Kata cinta yang tak mudah layu

2009

RASA LAPAR

Bagaimana perasaan laparmu hari ini, kawan !

Menatap nanar lusuh tanggal
Bulan tak sampai di ujung
Bingkisan tak sampai digantung

Ada nyanyian lebih dekat dengan nadi
Berdetak kacau not-notnya
Isyarat agar tetap tajam
Telunjuk menusuk pelipis
Mata mulai memejam perlahan
Gerak-gerak kaku

Biarkan tubuh berbaring
Karena lapar akan musnah bersama hening

2015

DIMENSI PUISI (1)

Aku mencari lebah pencuri bunga
Malah kulihat katak di atas tempurung Badrul Mustafa
Sejak itu tak perlu lagi pura-pura
Jadi penyair yang tak kebagian kamar rumah sakit jiwa

Awalnya kupercaya seseorang kan datang ke pelabuhan
Tapi nyatanya aku sasar, lalu tanpa kabar kutinggalkan
Menyisakan secarik kelam yang mengubah damai warna telaga
Karena aku hanya pesilat menerangi selat bagai gelas aqua

Aku tulis sajak ini dengan sentimentil
Di pantai interlude, untuk terumbu hijau yang tak menyahutiku
Karena aku bukan angin yang tabah, boleh lah mengeluh
Karena aku sendiri, dan semua orang adalah orang lain

Kalau mau tidur, aku tidur gelisah
Karena tak kudapati ibuku di sini
Tapi dadaku tidaklah kelapa gading gunjing-gunjing
Dalam dadaku ikan kecil, bisanya makan ikan paling kecil

Aku kembali mencari lebah pencuri bunga
Kali ini tak kudapati katak di atas tempurung itu
Mungkin karena langit desa kami rubuh seribu kali
Tapi namanya anak tembakau, aku tak pernah menyerah

Meski yang lain sudah kawin, beranak dan berbahagia
Aku masih mengembara serupa Ahasveros, cari lebah
Sejenak saja merenungi puing-puing puisiku
Yang diombang angin segala penjuru, di ingatan Amrul Qais

Malang, 31 Desember 2018

Penyunting : Fia
Foto : Istimewa