Pengamat Pendidikan UIN Malang: Zonasi PPDB Rugikan Murid

KOTA MALANG – Selama beberapa hari, wali murid calon siswa SMA khususnya di Malang dibuat pusing dengan sistem zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Pasalnya, beberapa harus rela anaknya ditolak di SMA yang dituju karena masalah jarak dari rumah ke sekolah di luar zonasi yang telah ditentukan.

Pengamat Kebijakan Pendidikan, Drs. Achmad Heru, M.Si, berpendapat, seharusnya yang dijadikan zonasi jarak itu bukan bagi calon siswa SMA tapi calon siswa Sekolah Dasar (SD).

Sebab, calon siswa SMA jika dilihat dari segi umur, siswa sudah mampu pergi ke tempat yang jaraknya jauh dari rumah dan peran orang tua juga mulai berkurang. Sedangkan, bagi siswa SD, pada umur tersebut, orang tua masih perlu memerhatikan anaknya dan sistem jarak sekolah ke rumah diperlukan.

“Kalau SD begitu akan orang tua masih perlu memantau dan jarak yang dekat bisa membantu mereka,” tutur Heru.

Selain perkara umur, Heru menilai, yang menjadi problematika kebijakan baru tersebut adalah timpangnya jumlah SMA Negeri dan jumlah kecamatan yang ada di Malang Raya.



“Bayangkan di kabupaten dari 33 kecamatan cuma ada tujuh SMA Negeri. Di Batu tiga kecamatan cuma ada dua, dan di kota Malang dari lima kecamatan ada 10 SMA Negeri,” ujarnya.

Ketimpangan tersebut, lanjut ia, tidak dibarengi dengan berkurangnya cara berpikir masyarakat yang berkeinginan untuk menyekolahkan anaknya di SMA Negeri. Maka, hal itu, kata Heru, menyebabkan calon siswa se-Malang Raya tidak bisa terserap sepenuhnya ke SMA Negeri.

“Semua berbondong-bondong ke Negeri. Tapi SMA Negerinya terbatas. Jadi wajar kalau ada pro dan kontra,” tutur bapak tiga anak ini.

Oleh karena itu, ia berpendapat, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus melakukan beberapa revisi dalam regulasi yang diterapkan di sistem zonasi PPDB Online SMA.

“Sisi baiknya, yakni adil untuk menilai kompetensi guru karena yang dulu ngajar murid dengan kemampuan relatif tak jauh beda satu sama lain karena sekolah favorit kini harus berhadapan dengan siswa dengan kemampuan sangat heterogen. Tapi, zonasi tidak adil untuk murid itu,” pungkas Heru yang juga menjabat sebagai Kabiro Akademik Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Malang.

Pewarta: Bob Bimantara
Foto: istimewa
Penyunting: Fia