Penerimaan Melemah, Defisit APBN 2019 Diperkirakan Jebol

JawaPos.com – Defisit anggaran hingga semester pertama 2019 tercatat sebesar Rp 135,8 triliun atau setara dengan 0,84 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Realisasi defisit anggaran semester I-2019 lebih besar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 110,6 triliun atau setara 0,75 dari PDB.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan, meningkatnya defisit anggaran tersebut dikarenakan realisasi belanja yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan pendapatan.

“Total defisit anggaran sampai semester satu 2019 lebih besar dibandingkan defisit semester satu tahun lalu yang sebesar Rp 110,6 triliun,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (16/7).

Adapun realisasi pendapatan negara sampai dengan Juni 2019 hanya mencapai Rp 898,8 triliun (41,51 persen dari target APBN 2019). Rinciannya berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp 688,94 triliun (38,57 persen dari target APBN 2019) dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 209 triliun (55,27 persen dari target APBN 2019).

Sementara itu, realisasi belanja negara sampai tercatat mencapai Rp 1.034 triliun (42,03 persen dari pagu APBN 2019). Rinciannya, untuk belanja pemerintah pusat mencapai Rp 630,57 triliun dan Transfer Daerah dan Dana Desa (TKDD) mencapai Rp 403,95 triliun.

“Terjadi pertumbuhan belanja negara 9,6 persen,” katanya.

Menginjak paruh kedua, Sri Mulyani memperkirakan defisit anggaran juga akan melebar. Defisit anggaran hingga akhir tahun diperkirakan menyentuh Rp 310,8 triliun (1,93 persen dari PDB), melampaui target APBN sebesar Rp 296 triliun (1,84 persen).

“Defisit akan sedikit lebih tinggi karena adanya tren pelemahan penerimaan (APBN) karena ekonomi yang mengalami tekanan,” tukasnya.