Penembakan Sadis di Saugus High School, 2 Tewas dan 3 Luka-Luka

JawaPos.com – Orang normal merayakan ulang tahun dengan pesta. Namun, tidak demikian Nathaniel Berhow. Dia memilih cara yang sadis. Di ulang tahunnya yang ke-16 Kamis (14/11), dia menembaki teman-temannya selama 16 detik sebelum akhirnya mencoba bunuh diri. Penembakan di Saugus High School, Santa Clarita, California, AS, itu mengakibatkan dua orang tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka.

Insiden berdarah itu terjadi sekitar pukul 07.30, saat para siswa baru datang. Sebagian dari mereka bertegur sapa di area terbuka yang terletak di tengah sekolah.

Berdasar rekaman CCTV (closed circuit television), tampak Berhow berdiri di tengah. Dia diam membeku saat melihat siswa lain lalu-lalang sebelum akhirnya mengambil pistol kaliber 45 dari tas ranselnya, lalu menembak secara acak.

”Dia menembak dari tempatnya berdiri. Dia tidak mengejar siapa pun. Tidak bergerak,” ujar Kent Wegener, kapten polisi di departemen pembunuhan, seperti dilansir Agence France-Presse.

Berhow menembak siapa pun yang ada di depannya. Begitu tembakan pertama terdengar, seluruh siswa semburat menyelamatkan diri. Beberapa di antaranya memilih untuk membuat barikade di dalam kelas. ”Kami tak tahu apakah pelaku ada di sisi seberang ataukah tepat di luar pintu kelas kami,” ujar Andrei Mojica yang bersembunyi dalam kelas selama penembakan.

Nama korban tewas belum diungkap. Hanya dikatakan, korban tersebut adalah siswi yang berusia 16 tahun dan seorang siswa yang masih berumur 14 tahun.

Hasil penyelidikan awal menunjukkan, Berhow tidak memiliki hubungan dengan para korban. Remaja yang dikenal pendiam itu menyisakan satu peluru untuk bunuh diri. Dia menembak kepalanya sendiri dengan peluru terakhir. Kemarin (15/11) kondisi Berhow masih kritis.

Sebanyak 24 mobil ambulans, 7 unit paramedis, puluhan mobil polisi, dan sebuah helikopter dikerahkan ke lokasi. Motif tindakan sadis Berhow masih diselidiki. Ibu dan kekasih Berhow telah ditanyai penyidik. Kediaman pemuda itu juga digeledah. Tidak ada jejak yang menunjukkan bahwa Berhow memiliki masalah yang membuatnya melakukan tindakan brutal tersebut.

Namun, kematian ayahnya akibat serangan jantung pada Desember 2017 memang membuat Berhow terpukul.

Penembakan di sekolah sudah berkali-kali terjadi di AS. Selama dua dekade ini korbannya sudah mencapai sekitar 300 pelajar.

Sepanjang tahun ini saja setidaknya ada lima kasus penembakan di sekolah. Jika dihitung sejak Mei tahun lalu, jumlahnya mencapai 40-an kasus.