Peneliti Berdebat Soal Asal Mula Coronavirus, Ular atau Kelelawar?

JawaPos.com – Coronavirus atau nCov diklaim yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok, memang berasal dari hewan lalu menulari manusia. Ular dan Kelelawar diduga sebagai hewan yang menularkan coronavirus. Meski demikian, perdebatan dikalangan peneliti pun masih terjadi.

Dilansir dari NDTV, Jumat (24/1), temuan yang diterbitkan dalam Journal of Medical Virology. mengungkapkan asal-usul potensial dari wabah pneumonia virus terbaru di Tiongkok pada pertengahan Desember. Dan sekarang menyebar ke Hong Kong, Singapura, Vietnam, Thailand, dan Jepang.

“Hasil yang diperoleh dari analisis evolusi kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa ular adalah reservoir hewan satwa liar yang paling memungkinkan untuk 2019-nCoV (nCov),” kata para peneliti studi dari Universitas Wuhan di China.

Studi tersebut mengatakan,  pasien yang terinfeksi virus coronavirus dan diberi nama 2019-nCoV oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terpapar hewan satwa liar di pasar grosir. Pasar tersebut menjual makanan laut, unggas, ular, kelelawar, dan hewan ternak.

Dalam laman Live Science, sejak virus itu pertama kali muncul di Wuhan, diduga menyebar setelah sejumlah orang mengunjungi pasar makanan laut dan hewan liar. Para pejabat setempat mengatakan bahwa virus itu kemungkinan berasal dari hewan ke manusia.

Namun, dalam sebuah studi, para peneliti mengurutkan gen 2019-nCoV (coronavirus). Kemudian membandingkannya dengan urutan genetik lebih dari 200 coronavirus yang menginfeksi berbagai hewan di seluruh dunia.

Hasilnya mengungkapkan 2019-nCoV kemungkinan berasal dari ular. Adapun jenis ular apa, para ilmuwan mencatat ada dua ular yang umum di Tiongkok bagian tenggara. Yakni Bungarus multicinctus dan kobra Tiongkok (Naja atra).

Sementara itu dikutip dari Antara, kalangan ilmuwan kesehatan masih memperdebatkan. Apakah ular atau kelelawar sebagai biang coronavirus nCoV yang kini menjelma menjadi wabah di Wuhan Tiongkok.

Para pakar yang berafiliasi dengan sejumlah perguruan tinggi di Inggris berselisih paham apakah ular atau kelelawar yang jadi biang keladinya. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Medical Virology, Rabu (22/1), membandingkan asal virus baru itu dengan patogen lain dari lokasi dan spesies tertentu.

Kelelawar diduga sebagai hewan yang menualrkan coronavirus atau nCoV. (CTV News)

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa wabah yang dinamai ‘2019-nCoV’ oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) itu merupakan kombinasi virus yang ditemukan di dalam kelelawar dan organisme misterius lainnya yang bersemayam di dalam ular sebelum menular ke manusia.

“Hasil yang didapat dari analisis evolusioner kami yang pertama kali bahwa ular sebagai binatang liar di air yang menjadi biang 2019-nCoV,” demikian sejumlah peneliti dari Peking University, Guangxi University of Chinese Medicine, Ningbo University, dan Wuhan University of Bionengineering.

Namun, sejumlah pakar dari Pusat Penelitian Virus MRC-University of Glasgow (CVR) dan Xi’an Jiaotong-Liverpool University punya pendapat lain soal penemuan tersebut. Dalam forum diskusi kesehatan pada Kamis, mereka berargumentasi bahwa 2019-nCoV tersebut sangat erat kaitannya dengan beberapa virus yang bersumber dari kelelawar.

“Tidak ada bukti keterlibatan ular. Meskipun ada kecenderungan coronavirus berpencar, keterlibatan spesies lain tidak bisa diabaikan. Hal ini juga membuka kesempatan spesies selain kelelawar juga bertanggung jawab sebagai pemicu wabah yang mulai merebak di Wuhan,” kata Kepala Bioinformatika CVR David L Robertson sebagaimana dikutip laman berita Caixin.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani, Antara