29.7 C
Malang
Jumat, Februari 9, 2024

Singkirkan 42 Peserta di Penjuru Indonesia, UMM Ciptakan Robot Damkar

Salah satu peran robot adalah menggantikan manusia untuk melakukan pekerjaan berat dan berisiko tinggi. Itu pula yang mendasari pemikiran empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menciptakan robot  pendeteksi dan pemadam api bernama Dome.

ACHMAD FIKYANSYAH

KAKINYA enam layaknya seekor kalajengking. Namun ukurannya lebih mirip seekor kucing anggora dewasa yang beratnya sekitar 5 – 7 kilogram. Dengan panjang 25 cm dan lebar 20 cm, ”hewan” itu bisa berjalan menyusuri gedung untuk menemukan sumber api, dan melakukan evakuasi.

Tentu saja itu bukan hewan sungguhan. Hidupnya bergantung pada sumber energi dari baterai yang disiapkan oleh para pembuatnya. Lebih tepatnya, dia adalah robot yang mirip dengan hewan, meski sebenarnya tak mirip-mirip amat. Sudut-sudutnya masih tajam menyerupai kotak, hasil dari tumpukan beberapa komponen elektronik.

Namanya Dome. Dibuat oleh empat Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengikuti Kontes Robot SAR Indonesia (KRSRI) 2021. Saat ini, robot itu telah menggondol tiga penghargaan perlombaan level nasional. Yakni juara satu nasional, juara desain terbaik, dan juara strategi terbaik. Menyingkirkan 42 Universitas lain seluruh Indonesia.

Adalah Faizal Aditya satu di antara empat mahasiswa di balik terciptanya robot tersebut. Motivasi kelompoknya untuk membuat robot itu untuk mengurangi beban risiko pekerjaan yang harus ditanggung para pekerja di bidang penanggulangan bencana. Lebih spesifik, dalam hal ini adalah pemadam kebakaran.

Baca Juga:  Ribuan Pakaian Adat dan Lomba Unik Hiasi Perayaan Kemerdekaan RI di UMM

Menurut mereka, robot memang harus dimaksimalkan untuk menggantikan peran manusia. Utamanya di bidang yang punya risiko bahaya atau kematian tinggi. Dengan begitu, potensi kematian akibat kecelakaan kerja bisa terus diminimalkan.

Dalam sebuah simulasi, robot yang dapat  dikontrol menggunakan gadget itu memang bisa diandalkan. Misalnya saat terjadi kebakaran pada sebuah gedung. Robot besi itu akan menjadi ”senjata” pertama yang masuk ke dalam lokasi kejadian. Dome bisa langsung menentukan dimana saja lokasi sumber apidan memadamkannya dengan menggunakan senyawa karbon dioksida (CO2).

Dome sebenarnya juga sudah dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan evakuasi atau menyelamatkan benda-benda di dalam gedung yang terbakar. Cara kerjanya menggunakan sebuah US atau ultrasonic sensor module sebagai sistem pendeteksi. Tapi untuk saat ini, yang bisa dievakuasi Dome hanyalah benda-benda berukuran sekitar 7 cm saja. ”Karena robotnya juga kecil. Kalau dibuat lebih besar, kemampuan evakuasinya juga lebih besar,” ucap Faizal.

Salah satu kelebihan lain yang dimiliki Dome dengan keenam kakinya adalah keseimbangan dalam menyusuri segala bentuk ruangan atau bidang. Melewati jalan naik, turun, atau bahkan bergelombang. Robot tersebut tetap stabil.

Dibalik fungsinya yang patut dipertimbangkan untuk dikembangkan, pembuatan Dome ternyata membutuhkan waktu lebih dari setengah untuk bisa sempurna. Beberapa kendala juga dirasakan empat mahasiswa yang membuatnya. Seperti penentuan bahan yang tahan terhadap api, alat yang kuat dalam melakukan evakuasi, hingga penyesuaian algoritma robot yang tepat agar dapat mendeteksi korban secara akurat. Namun setelah puluhan percobaan, karya mereka tuntas dan siap untuk dikompetisikan.

Baca Juga:  Panic Buying di Kala Pandemi Antarkan Ilyas Masudin Jadi Gubes

Kelebihan lain yang dimiliki Dome ini adalah punya tingkat error yang minim dalam hal mendeteksi korban. Bahkan robot itu pernah melakukan pendeteksian korban sebanyak 100 kali tanpa kesalahan. ”Dome memang akurat dalam menentukan objek yang akan jadi sasaran evakuasinya. Ini menjadi sebuah keunggulan tersendiri,” imbuh. Faizal.

Ke depan, Faizal dan teman-temannya ingin menjadikan karya tersebut punya nilai lebih di masyarakat. Tujuan akhirnya, bukan hanya menang dalam perlombaan tingkat nasional atau bahkan internasional. Namun bagaimana alat yang dibuat itu bisa menjadi sebuah terobosan untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja pada saat penanggulangan bencana kebakaran.

Tentu bukan bermaksud ingin menggantikan peran petugas pemadam kebakaran yang selama ini menjadi ujung tombak dalam penanggulangan kebakaran. Justru mereka berharap suatu saat Dome mempermudah kinerja mereka dalam membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan.Tentu setelah dilakukan pengembangan, baik dalam hal teknologi, kemampuan, dan ukurannya.(*/fat/rmc)

Salah satu peran robot adalah menggantikan manusia untuk melakukan pekerjaan berat dan berisiko tinggi. Itu pula yang mendasari pemikiran empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menciptakan robot  pendeteksi dan pemadam api bernama Dome.

ACHMAD FIKYANSYAH

KAKINYA enam layaknya seekor kalajengking. Namun ukurannya lebih mirip seekor kucing anggora dewasa yang beratnya sekitar 5 – 7 kilogram. Dengan panjang 25 cm dan lebar 20 cm, ”hewan” itu bisa berjalan menyusuri gedung untuk menemukan sumber api, dan melakukan evakuasi.

Tentu saja itu bukan hewan sungguhan. Hidupnya bergantung pada sumber energi dari baterai yang disiapkan oleh para pembuatnya. Lebih tepatnya, dia adalah robot yang mirip dengan hewan, meski sebenarnya tak mirip-mirip amat. Sudut-sudutnya masih tajam menyerupai kotak, hasil dari tumpukan beberapa komponen elektronik.

Namanya Dome. Dibuat oleh empat Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengikuti Kontes Robot SAR Indonesia (KRSRI) 2021. Saat ini, robot itu telah menggondol tiga penghargaan perlombaan level nasional. Yakni juara satu nasional, juara desain terbaik, dan juara strategi terbaik. Menyingkirkan 42 Universitas lain seluruh Indonesia.

Adalah Faizal Aditya satu di antara empat mahasiswa di balik terciptanya robot tersebut. Motivasi kelompoknya untuk membuat robot itu untuk mengurangi beban risiko pekerjaan yang harus ditanggung para pekerja di bidang penanggulangan bencana. Lebih spesifik, dalam hal ini adalah pemadam kebakaran.

Baca Juga:  Di-Launching, New Book Store UMM Sediakan Buku Penerbit Mayor hingga Indie

Menurut mereka, robot memang harus dimaksimalkan untuk menggantikan peran manusia. Utamanya di bidang yang punya risiko bahaya atau kematian tinggi. Dengan begitu, potensi kematian akibat kecelakaan kerja bisa terus diminimalkan.

Dalam sebuah simulasi, robot yang dapat  dikontrol menggunakan gadget itu memang bisa diandalkan. Misalnya saat terjadi kebakaran pada sebuah gedung. Robot besi itu akan menjadi ”senjata” pertama yang masuk ke dalam lokasi kejadian. Dome bisa langsung menentukan dimana saja lokasi sumber apidan memadamkannya dengan menggunakan senyawa karbon dioksida (CO2).

Dome sebenarnya juga sudah dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan evakuasi atau menyelamatkan benda-benda di dalam gedung yang terbakar. Cara kerjanya menggunakan sebuah US atau ultrasonic sensor module sebagai sistem pendeteksi. Tapi untuk saat ini, yang bisa dievakuasi Dome hanyalah benda-benda berukuran sekitar 7 cm saja. ”Karena robotnya juga kecil. Kalau dibuat lebih besar, kemampuan evakuasinya juga lebih besar,” ucap Faizal.

Salah satu kelebihan lain yang dimiliki Dome dengan keenam kakinya adalah keseimbangan dalam menyusuri segala bentuk ruangan atau bidang. Melewati jalan naik, turun, atau bahkan bergelombang. Robot tersebut tetap stabil.

Dibalik fungsinya yang patut dipertimbangkan untuk dikembangkan, pembuatan Dome ternyata membutuhkan waktu lebih dari setengah untuk bisa sempurna. Beberapa kendala juga dirasakan empat mahasiswa yang membuatnya. Seperti penentuan bahan yang tahan terhadap api, alat yang kuat dalam melakukan evakuasi, hingga penyesuaian algoritma robot yang tepat agar dapat mendeteksi korban secara akurat. Namun setelah puluhan percobaan, karya mereka tuntas dan siap untuk dikompetisikan.

Baca Juga:  SMK Negeri 1 Singosari Luncurkan Mobil Listrik Ramah Lingkungan

Kelebihan lain yang dimiliki Dome ini adalah punya tingkat error yang minim dalam hal mendeteksi korban. Bahkan robot itu pernah melakukan pendeteksian korban sebanyak 100 kali tanpa kesalahan. ”Dome memang akurat dalam menentukan objek yang akan jadi sasaran evakuasinya. Ini menjadi sebuah keunggulan tersendiri,” imbuh. Faizal.

Ke depan, Faizal dan teman-temannya ingin menjadikan karya tersebut punya nilai lebih di masyarakat. Tujuan akhirnya, bukan hanya menang dalam perlombaan tingkat nasional atau bahkan internasional. Namun bagaimana alat yang dibuat itu bisa menjadi sebuah terobosan untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja pada saat penanggulangan bencana kebakaran.

Tentu bukan bermaksud ingin menggantikan peran petugas pemadam kebakaran yang selama ini menjadi ujung tombak dalam penanggulangan kebakaran. Justru mereka berharap suatu saat Dome mempermudah kinerja mereka dalam membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan.Tentu setelah dilakukan pengembangan, baik dalam hal teknologi, kemampuan, dan ukurannya.(*/fat/rmc)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/