26.6 C
Malang
Kamis, Februari 15, 2024

Inilah 2 Fakultas Penyumbang Tertinggi Molornya Studi di Universitas Brawijaya

MALANG KOTA – Akreditasi sejumlah fakultas di Universitas Brawijaya (UB) tengah terancam. Salah satu penyebabnya karena ada tren peningkatan molornya masa kuliah mahasiswa selama pandemi Covid-19. Kepada Jawa Pos Radar Malang, Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS mengatakan bila rata-rata molornya masa studi mahasiswa itu berlangsung selama satu semester.

Sehingga rata-rata mereka menempuh pendidikan strata satu (S-1) selama 4,5 tahun. Kondisi itu paling banyak terjadi pada fakultas sains dan teknologi (Saintek), yang memerlukan praktikum di laboratorium kampus. ”Dua tahun belakangan ini, penggunaan lab harus dibatasi. Sehingga mahasiswa harus bergantian dan membuat masa studinya semakin panjang,” terangnya. Dia menyebut bila sebelum pandemi satu laboratorium bisa diisi hingga 20 mahasiswa. Namun setelah pandemi Covid-19 merebak, tempat tersebut hanya bisa diisi 8 mahasiswa saja.

Penyebab lain molornya studi mahasiswa yakni berkurangnya intensitas mahasiswa untuk bertemu dosen. Selama ini, bimbingan untuk tugas akhir atau skripsi lebih banyak dilakukan secara daring. Sedikit banyak itu turut membuat mahasiswa kesulitan dalam menyelesaikan syarat utama kelulusan. Muara dari persoalan-persoalan tersebut adalah akreditasi sejumlah program studi (prodi) di beberapa fakultas.

Untuk diketahui, masa studi mahasiswa hingga angka drop out (DO) memang menjadi salah satu instrumen penilaian untuk meningkatkan akreditasi prodi. Di UB, beberapa fakultas memegang rekor rataan masa studi terlama. Yang pertama ada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), dengan rata-rata masa studi 5,03 tahun. Disusul Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dengan rata-rata 4,74 tahun. ”Saya sudah minta pada wakil dekan 1 agar melakukan percepatan-percepatan bimbingan pada mahasiswa. Tolong dilayani, karena ini dampaknya juga pada akreditasi,” imbuh Prof Nuhfil.

Baca Juga:  Konsep Baru KKN Unikama di Tengah Pandemi Covid-19

Di sisi lain, dia juga menyebutkan beberapa fakultas yang mempunyai rataan masa studi baik. Dijelaskan Nuhfil, Prodi Kedokteran Gigi dan Kedokteran Umum tetap berhasil mempertahankan rata-rata masa studi mahasiswa mereka di bawah empat tahun. Rataan masa studi Kedokteran Gigi di angka 3,71. Sementara Prodi Kedokteran Umum di angka 3,93 tahun. ”Dua Fakultas Kedokteran paling cepat masa studinya karena menggunakan sistem blok. Semua jadwal ujian sudah diatur, sehingga mahasiswa harus mengikuti jadwal yang ada,” tutur Nuhfil.

Bila ditotal secara umum, jumlah kelulusan mahasiswa UB di masa pandemi memang mengalami penurunan cukup drastis. Pada tahun 2019 lalu, UB bisa meluluskan 12.826 mahasiswanya. Sementara di tahun 2020, saat awal-awal pandemi Covid-19 merebak, jumlah lulusannya turun menjadi 10.032 mahasiswa. Beruntung di tahun 2021 UB mulai berhasil recovery dengan meluluskan 11.610 mahasiswa. Meski begitu, jumlah tersebut masih belum kembali ke angka sebelum pandemi. Sebab normalnya setiap tahun UB meluluskan 13 ribuan mahasiswa.

Baca Juga:  2.834 Calon Mahasiswa UB Belum Daftar Ulang

Senada dengan Prof Nuhfil, Sekretaris Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik UB Heri Prawoto Widodo juga menyebut bila intensitas pertemuan antara mahasiswa dan dosen turut menjadi penyebab molornya masa kuliah. Dia menyebut bila komunikasi secara kurang efektif.

Sehingga tak sedikit mahasiswa yang terkendala dalam mengerjakan skripsi. ”Terkadang dengan menumpuknya file yang dikirim mahasiswa, dosen juga bingung,” ujar Heri. Dia khawatir bila tingkat kelulusan itu akan berdampak kepada penilaian akreditasi prodi di tingkat internasional. Sebab di tahun ini, UB sedang mengajukan 63 prodi untuk memiliki akreditasi internasional. Heri menyebut bila akreditasi internasional itu penting sebagai jaminan kualitas perguruan tinggi di mata publik internasional.

Dia lantas mencontohkan Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut  Teknologi Bandung (ITB), yang sudah mendapatkan peringkat 500 besar di dunia. Berkat rangking tersebut, ketiga kampus itu selalu menjadi pilihan utama mahasiswa asing ketika melanjutkan studi di Indonesia. (adk/dre/by)

MALANG KOTA – Akreditasi sejumlah fakultas di Universitas Brawijaya (UB) tengah terancam. Salah satu penyebabnya karena ada tren peningkatan molornya masa kuliah mahasiswa selama pandemi Covid-19. Kepada Jawa Pos Radar Malang, Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS mengatakan bila rata-rata molornya masa studi mahasiswa itu berlangsung selama satu semester.

Sehingga rata-rata mereka menempuh pendidikan strata satu (S-1) selama 4,5 tahun. Kondisi itu paling banyak terjadi pada fakultas sains dan teknologi (Saintek), yang memerlukan praktikum di laboratorium kampus. ”Dua tahun belakangan ini, penggunaan lab harus dibatasi. Sehingga mahasiswa harus bergantian dan membuat masa studinya semakin panjang,” terangnya. Dia menyebut bila sebelum pandemi satu laboratorium bisa diisi hingga 20 mahasiswa. Namun setelah pandemi Covid-19 merebak, tempat tersebut hanya bisa diisi 8 mahasiswa saja.

Penyebab lain molornya studi mahasiswa yakni berkurangnya intensitas mahasiswa untuk bertemu dosen. Selama ini, bimbingan untuk tugas akhir atau skripsi lebih banyak dilakukan secara daring. Sedikit banyak itu turut membuat mahasiswa kesulitan dalam menyelesaikan syarat utama kelulusan. Muara dari persoalan-persoalan tersebut adalah akreditasi sejumlah program studi (prodi) di beberapa fakultas.

Untuk diketahui, masa studi mahasiswa hingga angka drop out (DO) memang menjadi salah satu instrumen penilaian untuk meningkatkan akreditasi prodi. Di UB, beberapa fakultas memegang rekor rataan masa studi terlama. Yang pertama ada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), dengan rata-rata masa studi 5,03 tahun. Disusul Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dengan rata-rata 4,74 tahun. ”Saya sudah minta pada wakil dekan 1 agar melakukan percepatan-percepatan bimbingan pada mahasiswa. Tolong dilayani, karena ini dampaknya juga pada akreditasi,” imbuh Prof Nuhfil.

Baca Juga:  Sopir Truk Kembali Demo, Bertahan hingga Ada Revisi ODOL

Di sisi lain, dia juga menyebutkan beberapa fakultas yang mempunyai rataan masa studi baik. Dijelaskan Nuhfil, Prodi Kedokteran Gigi dan Kedokteran Umum tetap berhasil mempertahankan rata-rata masa studi mahasiswa mereka di bawah empat tahun. Rataan masa studi Kedokteran Gigi di angka 3,71. Sementara Prodi Kedokteran Umum di angka 3,93 tahun. ”Dua Fakultas Kedokteran paling cepat masa studinya karena menggunakan sistem blok. Semua jadwal ujian sudah diatur, sehingga mahasiswa harus mengikuti jadwal yang ada,” tutur Nuhfil.

Bila ditotal secara umum, jumlah kelulusan mahasiswa UB di masa pandemi memang mengalami penurunan cukup drastis. Pada tahun 2019 lalu, UB bisa meluluskan 12.826 mahasiswanya. Sementara di tahun 2020, saat awal-awal pandemi Covid-19 merebak, jumlah lulusannya turun menjadi 10.032 mahasiswa. Beruntung di tahun 2021 UB mulai berhasil recovery dengan meluluskan 11.610 mahasiswa. Meski begitu, jumlah tersebut masih belum kembali ke angka sebelum pandemi. Sebab normalnya setiap tahun UB meluluskan 13 ribuan mahasiswa.

Baca Juga:  Jaksa Ajukan Surat Penahanan Bos SPI

Senada dengan Prof Nuhfil, Sekretaris Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik UB Heri Prawoto Widodo juga menyebut bila intensitas pertemuan antara mahasiswa dan dosen turut menjadi penyebab molornya masa kuliah. Dia menyebut bila komunikasi secara kurang efektif.

Sehingga tak sedikit mahasiswa yang terkendala dalam mengerjakan skripsi. ”Terkadang dengan menumpuknya file yang dikirim mahasiswa, dosen juga bingung,” ujar Heri. Dia khawatir bila tingkat kelulusan itu akan berdampak kepada penilaian akreditasi prodi di tingkat internasional. Sebab di tahun ini, UB sedang mengajukan 63 prodi untuk memiliki akreditasi internasional. Heri menyebut bila akreditasi internasional itu penting sebagai jaminan kualitas perguruan tinggi di mata publik internasional.

Dia lantas mencontohkan Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut  Teknologi Bandung (ITB), yang sudah mendapatkan peringkat 500 besar di dunia. Berkat rangking tersebut, ketiga kampus itu selalu menjadi pilihan utama mahasiswa asing ketika melanjutkan studi di Indonesia. (adk/dre/by)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/