21.8 C
Malang
Sabtu, April 13, 2024

November, Kampus Malang Mulai Gelar Kuliah Tatap Muka

MALANG KOTA – Menyusul pembelajaran tatap muka (PTM) ditingkat SD hingga SMA di Kota Malang, giliran perguruan tinggi yang bersiap menggelar kuliah tatap muka. Lampu hijau pembelajaran tatap muka sebenarnya juga sudah diteken pemerintah pusat. Kebijakan tersebut boleh diterapkan pada daerah dengan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada level 1 hingga 3.

Sejumlah kampus di Kota Malang pun sudah pernah melakukan pemanasan untuk menggelar kuliah tatap muka. Namun rencana tersebut gagal digelar seiring dengan meningkatnya kasus Covid-19 di Kota Malang beberapa waktu lalu.

Universitas Negeri Malang (UM) misalnya, mereka telah melakukan ancang-ancang kuliah tatap muka pada November mendatang. Sehingga kabar baik untuk para mahasiswa UM yang tengah merindukan kuliah tatap muka.  “Insyaallah rencananya awal November bisa kuliah tatap muka,” tegas Rektor UM Prof Dr AH Rofi’uddin MPd.

Sub Koordinator Humas UM Ifa Nursanti menambahkan, PTM bakal menggunakan protokol kesehatan cukup ketat. Saat ini UM memiliki setidaknya minimal 10 ruang kelas per fakultas. Dalam satu kelas, standar mahasiswa yang mampu ditampung mencapai 30-35 orang. Sehingga nanti bisa dibatasi separo ketika PTM berlangsung.

Baca Juga:  31 Ribu Peserta UTBK Padati UB & UM, Simak Rekayasa Alur Kendaraan

Ifa menyatakan, pihaknya masih akan menggelar rakor untuk mematangkan persiapan kuliah tatap muka. Termasuk opsi penggunaan aplikasi PeduliLindungi saat kuliah tatap muka dimulai.

Jika memang aplikasi tersebut digunakan per kelas, maka perlu ada komunikasi dengan pihak fakultas. Perlu diketahui, jumlah total mahasiswa di UM mencapai 34 ribu. Sistem masuknya juga akan diatur dengan ketat. “Nantinya bakal ada sejumlah persiapan tetapi kami masih menunggu lagi dari pimpinan,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS mengatakan bahwa perkuliahan di kampus biru masih akan tetap dilakukan daring. Hal itu sesuai dengan Instruksi Rektor UB Nomor 8485 Tahun 2021 yang telah dikeluarkan pertengahan September lalu. Sesuai instruksi tersebut, perkuliahan daring bakal usai jika Kota Malang sudah turun ke level 1 atau level 2. “Sejauh ini belum ada rencana kuliah tatap muka dalam waktu dekat,” katanya.

Baca Juga:  Gelar Halal bi Halal, UM Pererat Silaturahmi dengan Civitas Akademika

Kendati demikian, sejumlah kelonggaran telah dilakukan pihaknya. Salah satunya kegiatan praktikum yang dilakukan secara terbatas. Begitu juga dengan ujian skripsi, tesis, dan disertasi juga dilonggarkan. Namun untuk pembelajaran secara reguler belum bisa dia tetapkan lantaran wabah Covid-19 yang bisa meningkat sewaktu-waktu.

Rektor ke-13 UB itu mengakui, beberapa waktu pihaknya sudah menyiapkan rencana kuliah tatap muka. Tepatnya di awal bulan Juli lalu. Namun, karena lonjakan kasus Covid-19 di kota pendidikan menjadikan dasar kuliah terpaksa digelar daring lagi. Berkaca dari hal itu, dia tak ingin ada klaster baru ketika PTM dilonggarkan secara bebas. “Perlu ada rapat dulu dan kami ingin PTM nanti bisa lancar tanpa ada kasus baru,” ujarnya. (adn/nay/rmc)

MALANG KOTA – Menyusul pembelajaran tatap muka (PTM) ditingkat SD hingga SMA di Kota Malang, giliran perguruan tinggi yang bersiap menggelar kuliah tatap muka. Lampu hijau pembelajaran tatap muka sebenarnya juga sudah diteken pemerintah pusat. Kebijakan tersebut boleh diterapkan pada daerah dengan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada level 1 hingga 3.

Sejumlah kampus di Kota Malang pun sudah pernah melakukan pemanasan untuk menggelar kuliah tatap muka. Namun rencana tersebut gagal digelar seiring dengan meningkatnya kasus Covid-19 di Kota Malang beberapa waktu lalu.

Universitas Negeri Malang (UM) misalnya, mereka telah melakukan ancang-ancang kuliah tatap muka pada November mendatang. Sehingga kabar baik untuk para mahasiswa UM yang tengah merindukan kuliah tatap muka.  “Insyaallah rencananya awal November bisa kuliah tatap muka,” tegas Rektor UM Prof Dr AH Rofi’uddin MPd.

Sub Koordinator Humas UM Ifa Nursanti menambahkan, PTM bakal menggunakan protokol kesehatan cukup ketat. Saat ini UM memiliki setidaknya minimal 10 ruang kelas per fakultas. Dalam satu kelas, standar mahasiswa yang mampu ditampung mencapai 30-35 orang. Sehingga nanti bisa dibatasi separo ketika PTM berlangsung.

Baca Juga:  Dosen-Mahasiswa Terpapar Covid-19, 2 Fakultas di UM Hentikan Kuliah Tatap Muka

Ifa menyatakan, pihaknya masih akan menggelar rakor untuk mematangkan persiapan kuliah tatap muka. Termasuk opsi penggunaan aplikasi PeduliLindungi saat kuliah tatap muka dimulai.

Jika memang aplikasi tersebut digunakan per kelas, maka perlu ada komunikasi dengan pihak fakultas. Perlu diketahui, jumlah total mahasiswa di UM mencapai 34 ribu. Sistem masuknya juga akan diatur dengan ketat. “Nantinya bakal ada sejumlah persiapan tetapi kami masih menunggu lagi dari pimpinan,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS mengatakan bahwa perkuliahan di kampus biru masih akan tetap dilakukan daring. Hal itu sesuai dengan Instruksi Rektor UB Nomor 8485 Tahun 2021 yang telah dikeluarkan pertengahan September lalu. Sesuai instruksi tersebut, perkuliahan daring bakal usai jika Kota Malang sudah turun ke level 1 atau level 2. “Sejauh ini belum ada rencana kuliah tatap muka dalam waktu dekat,” katanya.

Baca Juga:  Disdikbud Larang Sekolah Gelar Seremonial Kelulusan

Kendati demikian, sejumlah kelonggaran telah dilakukan pihaknya. Salah satunya kegiatan praktikum yang dilakukan secara terbatas. Begitu juga dengan ujian skripsi, tesis, dan disertasi juga dilonggarkan. Namun untuk pembelajaran secara reguler belum bisa dia tetapkan lantaran wabah Covid-19 yang bisa meningkat sewaktu-waktu.

Rektor ke-13 UB itu mengakui, beberapa waktu pihaknya sudah menyiapkan rencana kuliah tatap muka. Tepatnya di awal bulan Juli lalu. Namun, karena lonjakan kasus Covid-19 di kota pendidikan menjadikan dasar kuliah terpaksa digelar daring lagi. Berkaca dari hal itu, dia tak ingin ada klaster baru ketika PTM dilonggarkan secara bebas. “Perlu ada rapat dulu dan kami ingin PTM nanti bisa lancar tanpa ada kasus baru,” ujarnya. (adn/nay/rmc)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/